Induk-Anak Orang Utan Terjebak Perkebunan Sawit Ketapang

Ocsya Ade CP - detikKalimantan
Minggu, 20 Sep 2026 14:57 WIB
Evakuasi orang utan di Pelang, Ketapang/Foto: Istimewa
Ketapang -

Induk dan anak orang utan ditemukan terjebak di area sempit di tengah perkebunan kelapa sawit di Desa Pelang, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Di sekelilingnya, habitat telah terdesak perkebunan dan sebagian kawasan terdampak kebakaran.

Keduanya akhirnya dievakuasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) pada Jumat (18/9/2026). Induk orang utan yang diberi nama Mama Lifa diperkirakan berusia sekitar 15 tahun. Sedangkan anaknya, Lifa, diperkirakan baru berusia 1-2 bulan.

Keberadaan keduanya pertama kali dilaporkan masyarakat melalui Call Center BKSDA Kalimantan Barat pada Rabu (16/9). Tim Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (SKSDA) Wilayah Ketapang bersama Orangutan Protection Unit (OPU) YIARI kemudian melakukan verifikasi pada Kamis (17/9).

"Hasil pengecekan menunjukkan Mama Lifa dan Lifa berada di area yang sangat terbatas. Keduanya hanya bertahan di antara beberapa pohon akasia dalam area sekitar 400 meter persegi," kata Direktur Operasional Program YIARI, Argitoe Ranting, Minggu (20/9/2026).

Argitoe melanjutkan area tersebut dikelilingi perkebunan kelapa sawit. Sumber pakan alami juga disebut sudah tidak memadai. Kondisi di sekitar lokasi turut terdampak kebakaran. Melihat kondisi tersebut, tim memutuskan melakukan evakuasi untuk mencegah risiko yang lebih besar terhadap induk dan anak orang utan tersebut.

"Proses evakuasi dilakukan menggunakan senapan bius untuk menjaga keselamatan satwa maupun tim di lapangan," jelasnya.

Setelah dievakuasi, Mama Lifa dan Lifa langsung dibawa ke lokasi aman untuk menjalani pemeriksaan medis. Dari pemeriksaan awal, tidak ditemukan luka bakar maupun luka lainnya pada keduanya. Namun, suhu tubuh Mama Lifa tercatat cukup tinggi, yakni mencapai 39,5 derajat Celsius.

"Tim medis kemudian memberikan pengobatan, infus dan oksigen kepada Mama Lifa," katanya.

Argitoe mengatakan keberadaan Mama Lifa dan Lifa menunjukkan bagaimana orang utan masih berusaha bertahan ketika habitat di sekitarnya semakin terbatas dan sudah tidak lagi mendukung.

"Mereka hanya memiliki beberapa pohon akasia sebagai tempat bertahan, sementara area di sekelilingnya merupakan perkebunan kelapa sawit dan sebagian telah terbakar," katanya.

Argitoe menjelaskan, keputusan evakuasi dilakukan setelah tim memastikan kondisi lokasi dan keberadaan kedua orang utan tersebut. "Ketika area yang tersedia sangat kecil dan sumber pakan tidak memadai, risiko bagi orang utan menjadi semakin besar. Karena itu, setelah verifikasi dilakukan dan kondisi lapangan dipastikan, kami bersama BKSDA memutuskan untuk melakukan penyelamatan terhadap induk dan anak ini," katanya.

Sementara itu, Kepala BKSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane mengapresiasi masyarakat yang melaporkan keberadaan kedua orang utan tersebut. "Respons cepat dari masyarakat sangat membantu kami memperoleh informasi awal sehingga tim dapat segera melakukan verifikasi dan mengambil langkah penanganan di lapangan," kata Murlan.

Ia mengimbau masyarakat segera melapor jika menemukan orang utan atau satwa liar lainnya dalam kondisi terancam, terutama di wilayah yang terdampak kebakaran hutan dan lahan. Murlan meminta masyarakat tidak melakukan penanganan sendiri terhadap satwa liar yang ditemukan.

"Cukup sampaikan informasi kepada kami melalui Call Center BKSDA Kalimantan Barat di 0811-5670-041 atau 0811-5776-767 agar dapat ditindaklanjuti bersama pihak terkait dengan cara yang aman bagi masyarakat maupun satwa," ujarnya.



Simak Video "Menemukan Lulur Alami dari Daun Aras di Kalimantan Barat"

(sun/des)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork