Praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar kerap dituding sebagai biang kerok kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Namun, stigma tersebut dipatahkan oleh sistem peladangan tradisional masyarakat Desa Long Alango, Kecamatan Bahau Hulu, yang memiliki aturan mitigasi bencana sangat ketat.
Tokoh Desa Long Alango, Kipang, mengungkapkan jiwa masyarakat setempat tidak membuka lahan secara serampangan. Terdapat standar tata cara tradisional yang wajib dipatuhi agar api tidak menjalar tak terkendali ke hutan primer maupun lahan milik warga lain.
"Ketika membuka lahan, yang pertama dilihat adalah arah angin. Kalau angin sedang kencang, tidak berani membakar. Baru setelah kondisi angin bagus dan mengarah ke lahan sendiri, pembakaran dilakukan," ujar Kipang kepada detikKalimantan, Senin (24/8/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain perhitungan cuaca, mitigasi utama terletak pada tradisi gotong royong yang dikenal dengan sebutan senguyun. Saat satu lahan dibakar, api akan ditunggui dan diawasi secara berkelompok.
"Mereka tidak akan pulang selama api di lahan belum padam. Jadi dijaga bersama-sama agar tidak menyebar ke lahan tetangga maupun kawasan hutan di sekitarnya," imbuhnya.
Luas lahan yang dibuka pun sangat terukur, tidak berskala perkebunan masif. Maksimal pembukaan lahan berkisar di angka 1 hektare, disesuaikan dengan kemampuan tenaga masing-masing keluarga untuk merawat tanaman hingga masa panen tiba.
"Dalam menjaga keseimbangan ekosistem, warga Long Alango menerapkan sistem rotasi lima tahunan," jelasnya.
Lahan yang dibuka pada bulan Juli dan dibakar pada Agustus ini bukanlah hutan primer, melainkan area belukar bekas ladang yang sebelumnya pernah digarap. Warga memilih jalur membakar lahan dibanding menumpuk sisa tebasan karena berkejar-kejaran dengan tenggat waktu musim tanam.
"Masyarakat butuh waktu cepat untuk segera tanam padi karena dikejar musim. Kalau sisa tebasan hanya ditumpuk lalu dibiarkan, butuh waktu sangat lama membusuk. Kalau lewat musim tanam bulan September, hasil panen nanti tidak sesuai harapan," terangnya.
Kipang menambahkan, praktik senguyun ini rupanya bukan sekadar aktivitas bertani, melainkan medium interaksi sosial antarwarga. Pemilik lahan yang dibantu bergotong-royong berkewajiban menyediakan konsumsi penuh pada hari itu.
"Menariknya, di tengah ketatnya jadwal mengejar musim tanam, masyarakat tetap mematuhi aturan agama dan adat setempat. Jadi setiap hari Minggu, seluruh aktivitas di ladang dihentikan total sebagai waktu khusus untuk beribadah dan beristirahat," bebernya.
Setelah fase tanam selesai, warga akan mengisi jeda waktu dengan menanam sayur dan cabai sembari menunggu masa panen padi lokal yang biasanya jatuh pada Januari atau Februari mendatang.
"Jadi, tradisi ini masih terus dipertahankan dan dipertahankan masyarakat sebagai benteng ketahanan pangan sekaligus tameng pelestarian alam di Bahau Hulu.
Simak Video "Video Situasi Karhutla Terkini: Titik Api di Kalimantan Naik, Sumatera Turun"
[Gambas:Video 20detik] (des/des)
