Kepungan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat habitat satwa terganggu. Seekor orang utan jantan pun ditemukan masuk ke perkebunan warga di Desa Kuala Tolak, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Orang utan yang diberi nama Wak itu ditemukan warga pada Juli 2026. Kehadirannya sempat dikhawatirkan memicu konflik lantaran berada di area perkebunan buah milik masyarakat, namun di sisi lain tempat tinggal Wak tak lagi aman.
Kondisi tersebut mendorong tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang bersama Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI), PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (Mopakha), serta masyarakat melakukan evakuasi pada 6 Agustus 2026.
"Orang utan keluar ini juga masalahnya habitatnya terganggu. Banyak pembukaan lahan, apalagi ini musim kemarau, api banyak. Jadi dia mencari tempat yang aman untuk mencari makan dan berlindung karena habitatnya sudah tidak aman lagi," kata warga Kuala Tolak, Morsali, Jumat (7/8/2026).
Kemunculan orang utan di sekitar perkebunan warga Kuala Tolak bukan kejadian pertama. Catatan YIARI menunjukkan kawasan tersebut pernah menjadi lokasi penyelamatan orang utan pada 2015 dan 2019, ketika kebakaran besar melanda wilayah itu.
Berulangnya kejadian tersebut menjadi alarm bahwa konflik manusia dan satwa liar di kawasan Kuala Tolak tidak berdiri sendiri. Pembukaan lahan dan kebakaran membuat habitat orang utan semakin terfragmentasi.
Ketika hutan rusak dan sumber pakan berkurang, orang utan terdorong keluar untuk mencari makanan dan tempat berlindung. Pada saat bersamaan, kemunculannya di kebun warga berpotensi menimbulkan kerugian dan konflik baru.
Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul mengatakan, karhutla pada akhirnya membuat manusia dan satwa sama-sama menjadi korban.
"Pembukaan lahan dengan cara membakar lahan yang tidak terkendali memicu kebakaran yang merusak habitat orang utan. Ketika hutan terbakar dan terfragmentasi, orang utan kehilangan makanan, kehilangan tempat tinggal, dan akhirnya terdorong masuk ke kebun warga," ujar Silverius.
Menurut dia, masyarakat juga mengalami kerugian karena tanaman rusak dan muncul rasa khawatir terhadap keberadaan satwa liar.
"Artinya, orang utan dan masyarakat sama-sama menjadi korban dari praktik yang sama," katanya.
(bai/bai)