Orang Utan Terusir Api Karhutla Ketapang, 'Wak' Kabur ke Kebun Warga

Kalimantan Barat

Orang Utan Terusir Api Karhutla Ketapang, 'Wak' Kabur ke Kebun Warga

Ocsya Ade CP - detikKalimantan
Jumat, 07 Agu 2026 18:45 WIB
Proses evaluasi dan pelepasliaran orang utan yang terusir oleh api di Ketapang. (dok Muffidz Masum/YIARI)
Foto: Proses evaluasi dan pelepasliaran orang utan yang terusir oleh api di Ketapang. (dok Muffidz Ma'sum/YIARI)
Ketapang -

Kepungan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat habitat satwa terganggu. Seekor orang utan jantan pun ditemukan masuk ke perkebunan warga di Desa Kuala Tolak, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Orang utan yang diberi nama Wak itu ditemukan warga pada Juli 2026. Kehadirannya sempat dikhawatirkan memicu konflik lantaran berada di area perkebunan buah milik masyarakat, namun di sisi lain tempat tinggal Wak tak lagi aman.

Kondisi tersebut mendorong tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang bersama Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI), PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (Mopakha), serta masyarakat melakukan evakuasi pada 6 Agustus 2026.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Orang utan keluar ini juga masalahnya habitatnya terganggu. Banyak pembukaan lahan, apalagi ini musim kemarau, api banyak. Jadi dia mencari tempat yang aman untuk mencari makan dan berlindung karena habitatnya sudah tidak aman lagi," kata warga Kuala Tolak, Morsali, Jumat (7/8/2026).

Kemunculan orang utan di sekitar perkebunan warga Kuala Tolak bukan kejadian pertama. Catatan YIARI menunjukkan kawasan tersebut pernah menjadi lokasi penyelamatan orang utan pada 2015 dan 2019, ketika kebakaran besar melanda wilayah itu.

Berulangnya kejadian tersebut menjadi alarm bahwa konflik manusia dan satwa liar di kawasan Kuala Tolak tidak berdiri sendiri. Pembukaan lahan dan kebakaran membuat habitat orang utan semakin terfragmentasi.

Ketika hutan rusak dan sumber pakan berkurang, orang utan terdorong keluar untuk mencari makanan dan tempat berlindung. Pada saat bersamaan, kemunculannya di kebun warga berpotensi menimbulkan kerugian dan konflik baru.

Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul mengatakan, karhutla pada akhirnya membuat manusia dan satwa sama-sama menjadi korban.

"Pembukaan lahan dengan cara membakar lahan yang tidak terkendali memicu kebakaran yang merusak habitat orang utan. Ketika hutan terbakar dan terfragmentasi, orang utan kehilangan makanan, kehilangan tempat tinggal, dan akhirnya terdorong masuk ke kebun warga," ujar Silverius.

Menurut dia, masyarakat juga mengalami kerugian karena tanaman rusak dan muncul rasa khawatir terhadap keberadaan satwa liar.

"Artinya, orang utan dan masyarakat sama-sama menjadi korban dari praktik yang sama," katanya.

Dikembalikan ke Alam

Proses evaluasi dan pelepasliaran orang utan yang terusir oleh api di Ketapang. (dok Muffidz Ma'sum/YIARI)Proses evaluasi dan pelepasliaran orang utan yang terusir oleh api di Ketapang. (dok Muffidz Ma'sum/YIARI)

Setelah berhasil dievakuasi, Wak tidak dibawa jauh dari kawasan asalnya. Tim memutuskan mengembalikannya ke areal konsesi PT Mopakha yang masih berada dalam bentang hutan yang sama.

Lokasi pelepasliaran dipilih berdasarkan kajian teknis. Area tersebut dinilai masih memiliki tutupan tajuk yang memadai serta ketersediaan pakan yang cukup untuk mendukung kehidupan orang utan.

General Manager PT Mopakha, Wendi Tamariska mengatakan, proses penyelamatan dilakukan sejak pagi hingga Wak kembali dilepasliarkan pada sore hari.

"Lokasi pelepasliaran dipilih berdasarkan kajian teknis yang menunjukkan kondisi habitat masih baik, memiliki tutupan tajuk yang memadai, serta ketersediaan pakan yang cukup," ujar Wendi.

Perusahaan juga menyatakan akan mendukung pemantauan lanjutan untuk memastikan Wak mampu beradaptasi kembali di habitat alaminya.

Bukan Sekadar Memindahkan Satwa

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane mengatakan, penyelamatan Wak merupakan bentuk mitigasi konflik antara manusia dan satwa liar.

Menurutnya, translokasi bukan sekadar memindahkan orang utan dari satu tempat ke tempat lain. Langkah itu dilakukan untuk memastikan keselamatan satwa sekaligus masyarakat.

"Penanganan ini menunjukkan pentingnya kerja bersama antara pemerintah, lembaga konservasi, perusahaan, dan masyarakat," kata Murlan.

Dia mengingatkan habitat orang utan semakin terdesak akibat fragmentasi hutan yang kini diperparah dengan kebakaran.

"Habitat satwa liar khususnya orang utan semakin terdesak akibat fragmentasi habitat ditambah lagi dengan adanya kebakaran hutan dan lahan," ujarnya.

Dia menyebut habitat satwa liar, khususnya orang utan, semakin terdesak akibat fragmentasi habitat. Kondisi tersebut kini diperparah dengan kebakaran hutan dan lahan.

Karena itu, penanganan konflik tidak boleh berhenti setelah satwa berhasil dievakuasi. Pencegahan karhutla, perlindungan habitat, pengawasan pembukaan lahan, hingga penegakan aturan harus dilakukan secara bersamaan.

Sebab, selama hutan terus terbakar dan habitat terus terfragmentasi, bukan tidak mungkin cerita Wak akan kembali terulang, seperti pada 2015, 2019, dan kini 2026. Orang utan kembali keluar dari habitatnya ketika api mengancam hutan Ketapang. Wak mungkin sudah kembali ke hutan, tetapi persoalan yang membuatnya terusir belum sepenuhnya selesai.

Halaman 2 dari 3
(bai/bai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads