Sultan Aji Muhammad Parikesit, Salah Satu Sultan Terkaya Zaman Hindia Belanda

Sultan Aji Muhammad Parikesit, Salah Satu Sultan Terkaya Zaman Hindia Belanda

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Selasa, 15 Sep 2026 20:00 WIB
Museum Mulawarman.
Museum Mulawarman di Tenggarong/Foto: Yuda Almerio/detikKalimantan
Kutai Kartanegara -

Sultan Aji Muhammad Parikesit terkenal sebagai sultan terakhir dari Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Namanya juga diabadikan sebagai nama rumah sakit RSUD Aji Muhammad Parikesit.

Sosoknya dikenal sebagai salah satu sultan terkaya pada masa Hindia Belanda. Tentu kekayaan itu tidak semata berasal dari harta pribadi, melainkan dari hasil konsesi minyak, batu bara, dan hasil hutan di Kutai Kartanegara. Gaya hidupnya sederhana walaupun selayaknya bangsawan, Parikesit memiliki koleksi kendaraan dan perlengkapan istana yang didatangkan dari Eropa.

Setelah Pemerintahan Kesultanan Kutai berakhir pada 1960, Parikesit kehilangan kedudukan politik dan perlahan mengalami kesulitan ekonomi. Dirinya bahkan menjalani masa tua dengan kehidupan yang jauh lebih sederhana dibandingkan ketika masih bertahta.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lahir dengan Nama Aji Kaget

Dalam Buletin Kudungga vol. 1 tahun 2012 yang diterbitkan Kemendikdasmen, Aji Muhammad Parikesit lahir dengan nama Aji Kaget. Ia merupakan putra Sultan Aji Muhammad Alimuddin dan cucu Sultan Aji Muhammad Sulaiman.

Sejak kecil, Aji Kaget mendapatkan pendidikan yang bagus dari lingkungan Kesultanan Kutai. Ia bersekolah di sekolah Belanda di Samarinda. Di tahun 1909, dirinya mendapat gelar Adji Endje Renik dan melanjutkan pendidikan ke Batavia, menempuh ujian P.H.S. pada 1911.

Dua tahun kemudian, Aji Kaget pindah ke Serang untuk bersekolah di Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren atau OSVIA, yaitu sekolah khusus untuk mempersiapkan calon pegawai pemerintahan bumiputra. Setelah ayahnya, Sultan Aji Muhammad Alimuddin, wafat pada 1910, Aji Kaget belum langsung memegang pemerintahan karena masih terlalu muda. Pemerintahan Kesultanan Kutai kemudian dijalankan oleh Dewan Perwalian yang dipimpin Aji Pangeran Mangkunegara.

Aji Kaget baru kembali ke Kutai pada 1917 untuk mempersiapkan pemerintahan serta mempelajari adat dalam sistem Kesultanan Kutai. Lalu di tahun 1918, ia memperoleh gelar Pangeran Adipati Praboe Anoem Soeria Adi Ningrat. Dua tahun kemudian, tepatnya 14 November 1920, Aji Kaget dinobatkan sebagai Sultan Kutai Kartanegara dengan gelar Sultan Aji Muhammad Parikesit.

Salah Satu Sultan Terkaya di Hindia Belanda

Di masa pemerintahannya, perekonomian Kesultanan Kutai berkembang pesat, terutama karena pemasukan dari sumber daya alam yang melimpah di Kalimantan. Salah satu sumber kekayaannya adalah perjanjian konsesi dengan pemerintah kolonial Belanda.

Menurut kajian Burhan Djabier Magenda dalam East Kalimantan: The Decline of a Commercial Aristocracy, gaji Sultan Parikesit disebut mencapai 7.000 gulden per bulan, bahkan sebelumnya pernah mencapai angka yang lebih tinggi. Pendapatan terbesar berasal dari royalti 5 persen atas konsesi minyak dan batu bara, ditambah pemasukan dari hasil hutan di wilayah Bongan dan Bengalon.

Besarnya pemasukan itu membuat kehidupan keraton Kutai pada masa Parikesit berada dalam kondisi sangat makmur. Kesultanan juga disebut pernah memiliki dana sekitar 3,28 juta gulden pada tahun 1924, angka yang sangat besar untuk ukuran masa itu.

Kekayaan itu juga terlihat dari gaya hidup sang sultan. Menurut catatan William Otterbein Krohn dalam In Borneo Jungles Among the Dyak Headhunters (1927), perabotan di istana Parikesit didatangkan dari Eropa. Mulai dari tirai, tempat tidur, permadani, karpet, meja, kursi, jam hingga lukisan menghiasi istana. Krohn bahkan menggambarkan kemegahan interiornya seperti istana di Wina.

Parikesit juga punya kapal pesiar dan tiga mobil, dua di antaranya dibuat di AS dan satu lagi berasal dari Eropa. Padahal kondisi Tenggarong saat itu belum memiliki jalan yang memadai untuk kendaraan bermotor.

Istana Megah yang Jadi Museum Mulawarman

Salah satu jejak kemakmuran Kesultanan Kutai di masa Sultan Aji Muhammad Parikesit yang bisa dinikmati sekarang adalah Museum Mulawarman di Tenggarong. Gedung itu mulanya adalah istana Kesultanan Kutai Kartanegara.

Parikesit menggagas pembangunan istana baru pada 1936 untuk menggantikan istana lama yang terbuat dari kayu. Pembangunannya dipercayakan kepada perusahaan beton Belanda, Hollandsche Beton Maatschappij (HBM) dengan arsitek Estourgie. Bangunan bergaya Eropa klasik itu rampung sekitar 1937 dan jadi pusat pemerintahan serta kegiatan adat Kesultanan Kutai.

Setelah pemerintahan Kesultanan Kutai berakhir, bekas istana tersebut dialihfungsikan menjadi museum. Pada 25 November 1971, bangunan itu resmi didirikan sebagai Museum Kutai. Pengelolaannya kemudian diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1976 dan namanya berubah menjadi Museum Negeri Provinsi Kalimantan Timur Mulawarman.

Selain meninggalkan istana megah, Parikesit juga mewariskan cagar alam di Kutai Timur. Dikutip laman Kementerian Kehutanan, pada 1 Oktober 1934, Kesultanan Kutai menerbitkan keputusan yang menetapkan Cagar Alam Padang Loewai (Natuurmonument) seluas 1.080 hektare.

Dua tahun kemudian, tepatnya 10 Juli 1936, dikeluarkan keputusan kerajaan Het Zelfbestuurbeluit van Sultanaat van Kutai Nomor 80/22.ZB.1936 yang menetapkan Wildreservaat Kutai Timur seluas 306.000 hektare. Keputusan tersebut disahkan oleh Residen Borneo Timur dan Selatan di Banjarmasin pada 25 Juli 1936.

Penetapan pada 1936 menjadi awal dari sejarah pembentukan Taman Nasional Kutai. Di tahun 1934, pemerintah Hindia Belanda menetapkan kawasan yang lebih luas sebagai Forestry Reserve. Setelah keputusan Sultan pada 1936, kawasan itu berstatus suaka margasatwa pada 1957 dan terus berkembang sampai akhirnya menjadi Taman Nasional Kutai.

Akhir Pemerintahan dan Hidup Parikesit

Kisah Sultan Aji Muhammad Parikesit kemudian berubah drastis setelah Indonesia memasuki masa kemerdekaan. Pada 23 Januari 1950, Parikesit menyampaikan sikap Kesultanan Kutai yang menyetujui bentuk negara kesatuan Indonesia dan Pancasila sebagai dasar pemerintahan.

Berubahnya sistem pemerintahan terus berlangsung hingga 21 Januari 1960 menjadi masa berakhirnya pemerintahan Kesultanan Kutai. Sejak saat itu, Parikesit tidak lagi menjadi penguasa politik dan menjalani kehidupan sebagai rakyat biasa.

Pada masa Orde Lama, Parikesit sempat ditahan bersama sejumlah anggota keluarga kerajaan. Setelah itu, kondisi ekonomi keluarga kesultanan semakin terpuruk. Sebagian harta dan benda antik kesultanan terpaksa dilepas untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Dari seorang sultan yang pernah menikmati pemasukan besar dari sumber daya alam Kutai, Parikesit akhirnya menjalani masa tua dengan kehidupan yang sederhana. Ia wafat pada 22 November 1981 di Tenggarong. Jenazahnya kemudian disemayamkan di Istana Kutai sebelum dimakamkan di kompleks makam keluarga Kesultanan Kutai Kartanegara. Kompleks tersebut kini berada di kawasan Museum Mulawarman

Halaman 2 dari 4


Simak Video "Menikmati Malam yang Hidup di Kawasan Tepian, Kalimantan Timur"
[Gambas:Video 20detik] (sun/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads