Profil Hasan Basry: Bapak Gerilya Kalimantan yang Pertahankan NKRI

Profil Hasan Basry: Bapak Gerilya Kalimantan yang Pertahankan NKRI

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Kamis, 06 Agu 2026 10:45 WIB
Brigjen (Purn) Hasan Basry, mantan Pangdam Lambung Mangkurat, Kalimantan Selatan. (dok Istimewa)
Foto: Brigjen (Purn) Hasan Basry, mantan Pangdam Lambung Mangkurat, Kalimantan Selatan. (dok Istimewa)
Banjarmasin -

Tokoh penting dan berpengaruh dalam sejarah kemerdekaan Indonesia di Kalimantan Selatan (Kalsel) salah satunya adalah Brigjen TNI (Purn.) Hasan Basry. Ia bersama rakyat Kalsel melawan Belanda yang mau menguasai kembali wilayah Indonesia setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.

Keteguhan Hasan Basry dalam mempertahankan Kalimantan sebagai bagian dari Republik Indonesia membuatnya dijuluki sebagai Bapak Gerilya Kalimantan sekaligus pendiri ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan. Atas jasa-jasanya, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 110/TK/Tahun 2001 yang ditetapkan pada 3 November 2001.

Lahir di Kandangan, Menempuh Pendidikan Agama hingga Mesir

Hasan Basry lahir di Padang Batung, Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, pada 17 Juni 1923. Sejak kecil Hasan Basry pergi ke sekolah dan memperoleh pendidikan agama yang kuat. Dirinya menempuh pendidikan dasar di Volksschool dan HIS Kandangan, kemudian melanjutkan ke Tsanawiyah Al-Wathaniyah Kandangan sebelum belajar di Kweekschool Islam Pondok Modern Gontor di Ponorogo, Jawa Timur.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketika berada di Jawa, Hasan Basry aktif sebagai guru agama sekaligus bergabung dengan berbagai organisasi pemuda yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945 dikumandangkan, ia aktif dalam Pemuda Republik Indonesia Kalimantan (PRIK) di Surabaya dan ikut terlibat dalam berbagai aksi perjuangan melawan tentara Jepang maupun Belanda.

Pada Oktober 1945, Hasan Basry kembali ke Kalimantan Selatan melalui jalur laut. Kemudian tidak bertahan lama, pada tahun 1951-1953, ia kembali melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar, Kairo dan meneruskan pendidikan di The American University di Kairo hingga tahun 1955.

Memimpin Perang Gerilya dan Memproklamasikan Kalimantan Tetap Bagian RI

Perjuangan Hasan Basry dimulai saat ia memimpin Laskar Syaifullah di Haruyan pada 1946. Setelah banyak anggotanya ditangkap Belanda, ia membentuk organisasi baru bernama Banteng Indonesia.

Tidak lama kemudian, atas perintah Markas ALRI Divisi IV di Jawa, Hasan Basry membentuk Batalyon ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan pada November 1946 dengan menjadikan anggota Banteng Indonesia sebagai kekuatan intinya. Di sini kemudian ia diangkat sebagai komandan batalyon tersebut dengan markas di Kandangan.

Hasan Basry menolak hasil Perjanjian Linggarjati maupun Perjanjian Renville yang secara de facto menempatkan Kalimantan di bawah kekuasaan Belanda. Baginya, Kalimantan tetap merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Republik Indonesia.

Di tengah tekanan politik tersebut, ia terus mengoordinasikan perang gerilya melalui jaringan Markas Pertahanan Kalimantan (MPK) ALRI Divisi IV, melakukan serangan ke berbagai pos Belanda, sekaligus menyatukan kelompok-kelompok pejuang di Kalimantan Selatan.

Puncaknya terjadi pada 17 Mei 1949 ketika Hasan Basry membacakan Proklamasi Pemerintahan Gubernur Tentara ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan di Desa Niih, Kandangan. Melalui proklamasi tersebut dirinya menegaskan bahwa seluruh Kalimantan Selatan tetap menjadi bagian dari Republik Indonesia serta menolak segala bentuk pemerintahan bentukan Belanda.

Peristiwa ini kemudian kita kenal sebagai Proklamasi 17 Mei 1949. Setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, ALRI Divisi IV akhirnya diakui sebagai bagian dari Angkatan Perang Republik Indonesia. Pada 1 November 1949, kesatuan tersebut dilebur ke dalam TNI Angkatan Darat Divisi Lambung Mangkurat.

Karier Militer, Pengabdian kepada Negara, dan Penghargaan

Setelah peleburan, Hasan Basry tetap mengabdi melalui TNI. Ia menjabat sebagai Komandan Resimen Infanteri 21/Teritorial VI Kalimantan Selatan, kemudian dipercaya menjadi Panglima Daerah Militer X Lambung Mangkurat. Dalam perjalanan kariernya, ia juga menjadi anggota MPRS, anggota DPR, serta aktif di berbagai organisasi perjuangan veteran, termasuk Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI).

Salah satu peristiwa penting bagi Hasan Basry adalah ketika ia bersama tiga tokoh lain di Indonesia membekukan aktivitas Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta organisasi massanya sebelum pemerintah pusat mengambil kebijakan serupa. Peristiwa ini dikenal sebagai Peristiwa Tiga Selatan dengan julukan bagi para tokohnya adalah Tokoh Tiga Selatan.

Hasan Basry wafat di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, pada 15 Juli 1984 di usia 61 tahun. Jenazahnya dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Nasional Brigjen TNI (Purn.) Hasan Basry, Liang Anggang, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Selain dikenal sebagai pejuang, Hasan Basry juga dikenang sebagai sosok ayah yang disiplin, sederhana, penuh kasih sayang, dan tidak suka merepotkan orang lain. Kesaksian tersebut disampaikan oleh putranya, Reza Pahrial Basry, yang menyebut sang ayah selalu mengajarkan pentingnya disiplin, kebersamaan, serta menjaga persatuan bangsa, seperti yang dikutip dari wawancara Dinas Komunikasi dan Informatika Kalsel (05/18).

Menggagas Berdirinya Universitas Lambung Mangkurat

Selain berjuang merebut kemerdekaan, Hasan Basry juga menaruh perhatian terhadap pendidikan. Seusai perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Bapak Gerilya bersama para pejuang, tokoh masyarakat, dan pemerintah daerah membentuk Dewan Lambung Mangkurat dalam reuni pejuang pada 3-10 Maret 1957.

Salah satu keputusan penting dewan tersebut adalah mendirikan perguruan tinggi pertama di Kalimantan Selatan yang kemudian diberi nama Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Untuk merealisasikan gagasan tersebut, pada pertengahan 1958 dibentuk Panitia Persiapan Pembentukan Universitas Lambung Mangkurat dengan Letnan Kolonel Hasan Basry sebagai Ketua Umum.

Di bawah kepemimpinannya, panitia meresmikan berdirinya Universitas Lambung Mangkurat pada 21 September 1958. Hasan Basry kemudian dipercaya menjadi Presiden Universitas atau sekarang disebut Rektor pertama ULM.

Ia didampingi Mayor Abdul Wahab Syahranie sebagai wakil presiden universitas dan Drs. Asful Anwar sebagai sekretaris. Pada awal berdirinya, ULM memiliki empat fakultas, yakni Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Sosial dan Politik, serta Fakultas Islamologi.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Menyusun Hidangan Tradisional Mahumbal dan Mamalan di Kalimantan Selatan"
[Gambas:Video 20detik] (sun/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads