Kalimantan Utara

Jejak Sejarah Kampung Tua Tarakan: Asal-usul dan Perkembangannya

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Kamis, 06 Agu 2026 06:00 WIB
Kota Tarakan. Foto: Oktavian Balang/detikKalimantan
Tarakan -

Kota Tarakan yang sekarang mengusung konsep smart city, dulunya merupakan pusat kota penghasil minyak di tanah Kalimantan. Sebelum Belanda dan Jepang menginjakkan kaki, Tarakan dihuni kampung-kampung yang membentuk pemukiman besar di kota ini.

Pemukiman di Tarakan diperkirakan telah ada jauh sebelum masa kolonial Belanda. Kampung-kampung ini merekam jejak perjalanan Tarakan sejak masa Kerajaan Tidung, lalu berlanjut ke era eksplorasi minyak oleh Belanda, masa pendudukan Jepang, hingga masa kemerdekaan Indonesia.

Saat ini, kampung-kampung di Tarakan masih mempertahankan nama, bahkan tradisi masyarakat dan bangunan-bangunannya. Pemukiman ini sering disebut sebagai kampung tua yang terdiri dari banyak kampung yang tersebar di sepanjang Kota Tarakan.

Penasaran bagaimana asal-usul kampung-kampung tua di Tarakan? Yuk, telusuri kisahnya.

Kampung Tua Berawal dari Permukiman Masyarakat Tidung

Jauh sebelum perusahaan minyak Belanda datang ke Tarakan, Pulau Tarakan dihuni oleh masyarakat Dayak Tidung. Dalam tradisi lisan masyarakat Tidung, Tarakan diyakini berasal dari kata Tarak yang berarti tempat singgah, dan ngakan berarti makanan. Jika digabungkan maka artinya adalah tempat untuk beristirahat dan makan, sesuai dengan mata pencaharian masyarakatnya sebagai nelayan.

Ada pula yang menyebut tarakan berasal dari istilah Tengkayu dalam bahasa Tidung yang artinya dikelilingi oleh laut atau pesisir. Ini juga sesuai karena Tarakan adalah sebuah pulau di Kalimantan Utara yang pastinya dikelilingi laut.

Pada masa Kerajaan Tidung, permukiman masyarakatnya berkembang mengikuti garis pantai dan muara sungai yang memudahkan mereka mencari makan untuk dikonsumsi maupun dijual kembali. Kampung-kampung tersebut kemudian menjadi cikal bakal kawasan permukiman yang lalu dikenal sebagai kampung tua Tarakan.

Berkembang Pesat Setelah Ditemukan Minyak

Sebelum dijajah dan menjadi kota industri, Pulau Tarakan telah dihuni setidaknya sejak awal abad ke-17, salah satunya ditandai dengan keberadaan makam-makam kuno di Juwata Laut yang bertarikh 1011 Hijriah atau sekitar tahun 1603 Masehi. Sampai akhir abad ke-19, permukiman tersebut masih berbentuk kampung-kampung tradisional dan belum berkembang menjadi kawasan perkotaan.

Perubahan terjadi saat perusahaan minyak milik pemerintah Hindia Belanda, Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM), menemukan rembesan minyak di kawasan Pamusian pada tahun 1896. Setahun kemudian, BPM mulai melakukan eksplorasi secara intensif, disusul pengeboran komersial.

Sejak saat itu Tarakan berkembang sangat cepat sebagai salah satu kota tambang minyak terpenting di Hindia Belanda. Industri minyak menarik ribuan pekerja dari berbagai daerah, seperti Jawa, Sulawesi, Kalimantan, hingga Sumatra, sehingga jumlah penduduk meningkat pesat dan kampung-kampung lama mulai meluas ke berbagai daerah.

Bersamaan dengan berkembangnya industri minyak, BPM membangun kawasan perumahan khusus pegawai dan buruh, rumah sakit, sekolah, pelabuhan, jalan raya, jaringan pipa minyak, instalasi pengolahan air bersih, gudang logistik, fasilitas hiburan, dan sarana olahraga.

Kampung-kampung lama tetap dihuni masyarakat lokal, sementara kawasan baru berkembang mengikuti kebutuhan industri minyak. Memasuki masa pendudukan Jepang pada tahun 1942, sebagian besar fasilitas minyak diambil alih untuk kepentingan perang sehingga perkembangan kota sempat terhenti.

Kampung-kampung Tua Tarakan

Keberadaan kampung-kampung tua Tarakan terekam dalam berbagai arsip pemerintahan Hindia Belanda. Berdasarkan penelitian pemerhati sejarah Tarakan Yusuf Sofian, nama-nama seperti Mamboerongan (Mamburungan), Tifong, Kampong Baroe (Kampung Baru), Kampung Bugis, Peningki Lama, Peningki Baru, Sebengkok, Selumit, Lingkas, Juata Laut, Karang Anyar, dan Gunung Cekoi telah tercantum dalam peta topografi dan administrasi kolonial pada tahun 1930-an.

Nama setiap kampung juga memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Sebagian berasal dari kelompok etnis yang pertama kali bermukim di kawasan tersebut, Kampung Bugis misalnya yang menjadi permukiman para perantau Bugis dari Sulawesi Selatan.

Dalam perkembangannya, setiap kampung fungsinya berbeda-beda sesuai wilayahnya. Kampung-kampung pesisir seperti Juata Laut, Lingkas, Kampung Bugis, dan Mamburungan dihuni oleh nelayan dan jadi tempat singgah transportasi laut.

Sementara kawasan seperti Peningki, Sebengkok, Selumit, dan Karang Anyar dihuni oleh masyarakat yang bekerja dalam sektor perminyakan, pergadangan, dan pemerintahan. Adapun Gunung Cekoi dan kawasan perbukitan lainnya duahulu dimanfaatkan Belanda sebagai titik pengawasan dan pertahanan militer.

Sebagian besar nama kampung tersebut tetap dipertahankan sampai sekarang dan masih digunakan sebagai nama kelurahan dan kawasan permukiman di Kota Tarakan. Kampung-kampung tua di Tarakan kini menjadi saksi bisu perjalanan panjang bagi Bumi Paguntaka.

Sumber:

1. Disertasi berjudul Perkembangan Kota Tarakan : sebuah kajian Arkeologi sejarah bagi manajemen sumber daya budaya. Tinia Budiati (2010). Universitas Indonesia

2. Skripsi berjudul Kota Tarakan: sebuah deskripsi perkembangan kota tambang (1896-1941). Irawan (2017). Universitas Negeri Malang.

3. https://berita.tarakankota.go.id/2007/12/refleksi-sepuluh-tahun-kota-tarakan



Simak Video "Menjelajahi Hutan Mencari Buah Lempasu di Kalimantan Utara"

(des/des)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork