Jatung utang adalah alat musik tradisional menyerupai kolintang kayu yang berasal dari masyarakat Dayak di Kabupaten Bulungan dan Malinau, Kalimantan Utara. Kesenian kebanggaan ini merupakan salah satu bentuk pertunjukan yang masih terus hidup dan berkembang hingga sekarang, antara lain di Desa Metun Sajau.
Fungsi Tradisional di Masa Lalu
Pada zaman dahulu, alat musik ini berfungsi sebagai sarana hiburan pengisi waktu senggang bagi para peladang yang sedang beristirahat. Selain itu, bunyinya juga digunakan sebagai penanda untuk memberitahu penghuni ladang di sekelilingnya bahwa seseorang telah tiba di lahan miliknya.
Secara tradisional, permainan musik ini dimainkan dengan cara digantung menggunakan rotan pada bagian atas kerangka pondok. Bagian bawahnya kemudian diikatkan secara kencang pada kayu atau batu agar alat musik ini dapat menghasilkan suara yang maksimal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Transformasi Bentuk dan Penggunaan Modern
Seiring dengan kemajuan zaman, bentuk jatung utang telah dikreasikan dengan tidak lagi digantung, melainkan diletakkan di atas sebuah kotak peti kayu. Peti yang panjangnya sekitar 90 hingga 100 sentimeter ini dirancang mengecil pada bagian ujungnya untuk menyesuaikan irama dan ukuran kayu nada.
Saat ini, penggunaan alat musik tersebut di area perladangan sudah mulai jarang ditemukan di kalangan masyarakat. Keberadaannya kini lebih sering difungsikan untuk mengiringi berbagai upacara adat, pertunjukan seni, hingga menjadi alat pengiring nyanyian di dalam gereja.
Proses Pembuatan dan Bahan Baku
Bahan baku utama untuk membuat instrumen ini biasanya memanfaatkan kayu kapit mawat atau kayu timaha yang banyak tumbuh di hutan. Setelah ditebang, batang pohon tersebut dipotong menjadi ukuran sebesar lengan dengan panjang sekitar 80 sampai 90 sentimeter, lalu dijemur hingga kering.
Sembari menunggu kayu tersebut kering, para perajin akan membuat kotak dengan bagian atas terbuka sebagai wadah peletakan potongan nada. Lebar kotak tersebut akan sangat memengaruhi suara yang dihasilkan, di mana kotak yang semakin lebar akan mengeluarkan nada yang semakin rendah.
Penyelarasan Nada dan Cara Bermain
Proses penyelarasan nada dilakukan secara teliti dengan cara mengikis atau menipiskan bagian belakang kayu menggunakan parang hingga menemukan bunyi yang pas. Perajin harus menjaga ketebalan bagian tengah kayu minimal tiga sentimeter agar nada yang dihasilkan tidak terdengar sumbang.
Pada awalnya, masyarakat Dayak Kenyah tidak mengenal notasi nada fa dan si dalam susunan kayu instrumen ini. Namun, notasi tersebut kini mulai ditambahkan dan diselaraskan dengan penuh konsentrasi agar bunyinya bisa sama persis dengan nada-nada dari alat musik modern.
Cara memainkan instrumen ini cukup sederhana, yakni dengan memukul tiap lempengan kayu menggunakan dua buah batang kayu terpisah. Setiap lempengan kayu yang diikat di atas tali tersebut akan mengeluarkan kunci nada berbeda sesuai dengan ukuran panjang dan pendeknya.
Sumber:
- Buku Jatung Utang: Kesenian Tradisional dari Kalimantan Utara terbitan Balai Pelestarian Nilai Budaya Pontianak.
- Buku Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia Tahun 2017 terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
