Perlawanan rakyat Banjar terhadap Belanda sudah terjadi jauh sebelum Perang Banjar pecah pada 1859. Hubungan Kesultanan Banjar dan Belanda diwarnai konflik akibat monopoli perdagangan dan campur tangan politik.
Di sebelah Pangeran Antasari dan Pangeran Hidayatullah, ada sosok Demang Lehman yang setia pada tanah Banjar. Demang Lehman dikenal sebagai sosok yang setia, pemberani, dan pantang menyerah.
Semangat juangnya menyatukan tekad masyarakat Banjar dengan semboyan Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing, yang berarti pantang menyerah hingga titik darah penghabisan. Saat itu, Demang Lehman menjadi salah satu sosok yang paling ditakuti pemerintah kolonial Belanda karena kepiawaiannya menggerakkan rakyat, memimpin perang gerilya, serta mempertahankan wilayah Banjar dari upaya penjajahan. Namanya abadi sebagai pemimpin perlawanan yang sulit ditaklukkan.
Awal Konflik Banjar dengan Belanda
Hubungan Kesultanan Banjar dengan Belanda bermula pada awal abad ke-17 ketika wilayah Banjar dikenal sebagai penghasil lada dan batu bara yang bernilai tinggi. Kekayaan alam ini menarik perhatian Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) untuk menjalin hubungan dagang sekaligus memperluas pengaruh di Kalimantan Selatan.
Pada 14 Februari 1606, armada dagang VOC yang dipimpin Gillis Michielsz datang ke Banjarmasin atas perintah pejabat VOC, J.W. Verschoor. Namun hubungan dagang itu tidak berlangsung baik.
Sejumlah awak kapal VOC yang turun ke darat melakukan tindakan yang menyinggung masyarakat Banjar hingga memicu bentrokan. Seluruh awak kapal yang berada di darat kemudian dibunuh oleh penduduk setempat.
Peristiwa tersebut dibalas VOC dengan mengirim armada perang ke Banjarmasin. Belanda membakar kawasan bandar, kapal-kapal dagang, dan kompleks Keraton Banjar yang berada di tepi sungai. Sejak saat itu, sentimen anti-Belanda tumbuh kuat di kalangan masyarakat Banjar dan terus bertahan selama berabad-abad.
Konflik semakin memanas ketika Belanda mulai menerapkan politik divide et impera (adu domba) dengan ikut campur dalam urusan pemerintahan Kesultanan Banjar. Puncaknya terjadi setelah wafatnya Sultan Adam pada 1 November 1857.
Meski surat wasiat Sultan Adam menetapkan Pangeran Hidayatullah sebagai penerus takhta, Belanda justru mengangkat Pangeran Tamjidillah menjadi sultan secara sepihak. Kebijakan ini memicu kemarahan para bangsawan maupun rakyat Banjar dan menjadi salah satu penyebab utama pecahnya Perang Banjar pada 1859.
Simak Video "Mengisi Tenaga dengan Hidangan Lezat di Banjarmasin"
(sun/bai)