Negeri Seribu Sungai. Itulah julukan untuk Kalimantan Selatan (Kalsel). Sebelum ada jalan raya yang menghubungkan lintas kota maupun provinsi, orang-orang Banjar di Kalsel memanfaatkan sungai sebagai jalur mobilitas utama.
Sampai saat ini, sungai di Kalsel masih hidup dengan tradisi jual beli di atas perahu atau jukung. Dua pasar terapung yang paling terkenal di Kalsel adalah Pasar Terapung Lok Baintan di Kabupaten Banjar dan Pasar Terapung Muara Kuin di Kota Banjarmasin. Dua lokasi itu wajib masuk itinerary detikers jika berkunjung ke Kalsel.
Berbicara sejarah, pasar terapung tidak bisa dipisahkan dari perkembangan Kesultanan Banjar. Pada abad ke-16, sungai merupakan satu-satunya jalur transportasi yang menghubungkan permukiman di pedalaman dengan pusat kerajaan maupun pelabuhan dagang.
Masyarakat membawa hasil kebun, sawah, ikan, dan berbagai kebutuhan pokok menggunakan jukung. Lambat laun, pertemuan para pedagang di persimpangan sungai berkembang menjadi pasar yang mana seluruh aktivitasnya berlangsung di atas air. Sejak saat itu, sungai kemudian berfungsi sebagai pusat perdagangan masyarakat Banjar.
Dulunya, pasar terapung bisa ditemukan di sungai mana saja sepanjang Kalsel. Tetapi, seiring berkembangnya transportasi darat, jumlahnya menurun dan hanya tersisa di beberapa lokasi saja, seperti Pasar Terapung Lok Baintan dan Pasar Terapung Muara Kuin.
Mungkin saat ini, pasar terapung tak hanya ada di Kalsel. Namun yang membuatnya unik, Pasar Terapung Lok Baintan dan Muara Kuin lahir secara alami dari kebiasaan warga sejak ratusan tahun silam. Bukan pasar terapung yang sengaja dibuat untuk wisata, tetapi yang didorong kebutuhan perdagangan sejak dulu.
Pasar Terapung Lok Baintan
Pasar Terapung Lok Baintan berada di Desa Lok Baintan, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar. Konon, pasar ini usianya lebih tua dari Kesultanan Banjar sendiri yang berdiri tahun 1595. Jukung-jukung dan para pedagang yang akrab dipanggil acil itu mulai berjualan sekitar pukul 06.00-09.00 Wita di atas Sungai Martapura.
Puluhan bahkan ratusan jukung berkumpul membawa beragam hasil bumi. Para acil mengenakan tanggui, topi lebar berbahan daun nipah atau daun rumbia yang menjadi penutup kepala khas masyarakat Banjar. Ketika dilihat dari kejauhan, tanggui berwarna-warni menghiasi pasar terapung ini diiringi suara sahut-menyahut antara acil dan pembeli.
Bukan hanya sebagai destinasi wisata, Pasar Terapung Lok Bintan masih menjalankan fungsi utamanya sebagai tempat masyarakat sekitar memenuhi kebutuhan sehari-hari. Beragam sayur, buah, dan berbagai kuliner khas banjar dijual di pasar ini, seperti soto Banjar, ketupat kandangan, laksa Banjar, lupis, apam, bingka, hingga aneka wadai tradisional tersedia setiap pagi.
Seluruh transaksi dilakukan di atas jukung. Pembeli juga harus menggunakan jukung untuk bisa bertransaksi. Ketika ingin membeli sesuatu, maka penjual akan merapat untuk menawarkan jualannya.
Ada pula tradisi bapanduk di atas aliran sungai itu, di mana pedagang bisa menukar atau barter dagangannya satu sama lain. Misalnya, pedagang sayur dapat menukar dagangannya dengan ikan atau buah tanpa menggunakan uang.
Simak Video "Mengisi Tenaga dengan Hidangan Lezat di Banjarmasin"
(sun/des)