Indonesia punya banyak jenis penutup kepala tradisional di berbagai daerah. Jika masyarakat Jawa mengenal caping dan masyarakat Sunda memiliki dudukuy, masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan punya penutup kepala khas yang disebut tanggui.
Bentuknya unik menyerupai tudung saji atau payung terbalik. Terbuat dari anyaman pucuk nipah, tanggui sudah digunakan secara turun-temurun oleh masyarakat Banjar selama ratusan tahun. Saat ini, penggunaan tanggui bisa dijumpai terutama di kawasan pasar apung, persawahan, dan berbagai acara kebudayaan di Kalimantasn Selatan.
Tanggui artinya penaungan atau pelindung, sesuai dengan fungsi utamanya sebagai pelindung kepala dari terik matahari maupun hujan. Bentuknya yang lebar dan mengerucut membuat tanggui mampu melindungi para pedagang dan petani dalam segala kondisi. Karena itulah tanggui menjadi barang penting untuk masyarakat Banjar yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak dahulu, tanggui digunakan para petani saat bekerja di sawah, nelayan yang mencari ikan di sungai, dan pedagang yang berjualan menggunakan perahu di pasar terapung. Kehidupan masyarakat Banjar yang lekat dengan lahan basah dan sungai ini membuat tanggui sangat dibutuhkan.
Ikon Pedagang di Pasar Terapung
Bagi detikers yang pernah mengunjungi Pasar Terapung Lok Baintan atau Pasar Terapung Kuin, tanggui bukan pemandangan yang asing. Banyak pedagang perempuan Banjar mengenakan tanggui saat menjajakan dagangan dari atas jukung atau perahu kecil.
Pemandangan tersebut juga menjadi salah satu ikon budaya Kalimantan Selatan yang sering diabadikan dalam foto maupun promosi pariwisata. Selain melindungi dari panas dan hujan, tanggui praktis digunakan karena tidak perlu dipegang. Para pedagang tetap dapat bekerja, mendayung, atau membawa barang dengan leluasa.
Dibuat dari Pucuk Nipah
Keunikan lain dari tanggui terletak pada bahan pembuatannya yang berasal dari pucuk daun nipah. Nipah merupakan tanaman yang banyak tumbuh di kawasan rawa dan pesisir Kalimantan Selatan. Bagian pucuk daunnya dipilih karena lebih lentur dan kuat untuk dianyam.
Proses pembuatan tanggui membutuhkan ketelitian dan keterampilan khusus yang diwariskan secara turun-temurun. Pengrajin biasanya mengeringkan pucuk nipah terlebih dahulu selama satu hingga dua hari sebelum mulai dianyam.
Setelah itu dibuat kerangka atau kelikar menggunakan lingkaran kulit rumbia. Pucuk nipah kemudian dianyam satu per satu hingga membentuk struktur menyerupai payung.
Tahap terakhir adalah menjahit bagian tepi menggunakan potongan pucuk nipah agar struktur tanggui semakin kuat dan tahan lama. Seluruh proses masih dilakukan secara manual menggunakan peralatan sederhana. Memang tanggui terlihat sederhana dari luar, tapi satu tanggui memerlukan waktu beberapa jam hingga selesai tergantung ukuran dan tingkat kerumitannya.
Fungsi Tanggui
Seiring perkembangan zaman, fungsi tanggui tidak lagi sebatas pelindung kepala saat bekerja. Tanggui juga banyak digunakan sebagai dekorasi rumah, hiasan dinding, properti untuk pertunjukan seni, suvenir khas Kalimantan Selatan, maupun ornamen dalam berbagai festival budaya.
Bahkan muncul berbagai kreasi tanggui hias yang dihiasi motif sasirangan, lukisan, kaligrafi, hingga ornamen khas Banjar lainnya. Bentuk-bentuk kreatif ini membuat tanggui semakin dikenal oleh generasi muda. Menurut para penjual kerajinan, permintaan tanggui sering meningkat menjelang perayaan Hari Kemerdekaan, festival budaya, dan musim panen.
Itulah tanggui, penutup kepala khas Banjar yang serbaguna. Jika berkunjung ke Kalimantan Selatan, tanggui bisa dengan mudah dijumpai di pasar terapung saat pagi dan sore hari.
(sun/aau)
