Pasar Terapung di Kalsel, Peradaban Ratusan Tahun Silam yang Masih Eksis

Pasar Terapung di Kalsel, Peradaban Ratusan Tahun Silam yang Masih Eksis

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Senin, 27 Jul 2026 13:00 WIB
Sejumlah pengunjung melihat pedagang pasar terapung saat Festival Pasar Terapung Lok Baintan 2022 di Desa Sungai Pinang Lama, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Minggu (30/10/2022). Festival yang diikuti sebanyak 500 lebih pedagang pasar terapung  tersebut bertujuan untuk melestarikan budaya dan meningkatkan perekonomian masyarakat serta menjadi salah satu daftar Kharisma Event Nusantara 2022 di Kalimantan Selatan. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/aww.
Sejumlah pengunjung melihat pedagang pasar terapung saat Festival Pasar Terapung Lok Baintan 2022/Foto: ANTARA FOTO/BAYU PRATAMA S
Banjarmasin -

Negeri Seribu Sungai. Itulah julukan untuk Kalimantan Selatan (Kalsel). Sebelum ada jalan raya yang menghubungkan lintas kota maupun provinsi, orang-orang Banjar di Kalsel memanfaatkan sungai sebagai jalur mobilitas utama.

Sampai saat ini, sungai di Kalsel masih hidup dengan tradisi jual beli di atas perahu atau jukung. Dua pasar terapung yang paling terkenal di Kalsel adalah Pasar Terapung Lok Baintan di Kabupaten Banjar dan Pasar Terapung Muara Kuin di Kota Banjarmasin. Dua lokasi itu wajib masuk itinerary detikers jika berkunjung ke Kalsel.

Berbicara sejarah, pasar terapung tidak bisa dipisahkan dari perkembangan Kesultanan Banjar. Pada abad ke-16, sungai merupakan satu-satunya jalur transportasi yang menghubungkan permukiman di pedalaman dengan pusat kerajaan maupun pelabuhan dagang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Masyarakat membawa hasil kebun, sawah, ikan, dan berbagai kebutuhan pokok menggunakan jukung. Lambat laun, pertemuan para pedagang di persimpangan sungai berkembang menjadi pasar yang mana seluruh aktivitasnya berlangsung di atas air. Sejak saat itu, sungai kemudian berfungsi sebagai pusat perdagangan masyarakat Banjar.

Dulunya, pasar terapung bisa ditemukan di sungai mana saja sepanjang Kalsel. Tetapi, seiring berkembangnya transportasi darat, jumlahnya menurun dan hanya tersisa di beberapa lokasi saja, seperti Pasar Terapung Lok Baintan dan Pasar Terapung Muara Kuin.

Mungkin saat ini, pasar terapung tak hanya ada di Kalsel. Namun yang membuatnya unik, Pasar Terapung Lok Baintan dan Muara Kuin lahir secara alami dari kebiasaan warga sejak ratusan tahun silam. Bukan pasar terapung yang sengaja dibuat untuk wisata, tetapi yang didorong kebutuhan perdagangan sejak dulu.

Pasar Terapung Lok Baintan

Foto udara suasana pedagang menjajakan dagangan dari atasar, Kalimantan Selatan, Minggu (28/7/2024). Festival bertajuk Pesona Susur Sungai Urang Banjar yang diiku perahu saat Festival Pasar Terapung Lok Baintan 2024 di Sungai Martapura, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Minggu (28/7/2024). Festival bertajuk Pesona Susur Sungai Urang Banjar yang diikuti sekitar 500 pedagang pasar terapung itu bertujuan melestarikan budaya dan kultur masyarakat pesisir Sungai Martapura. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/YUFoto udara suasana pedagang menjajakan dagangan dari atas perahu saat Festival Pasar Terapung Lok Baintan 2024 di Sungai Martapura. Foto: ANTARA FOTO/BAYU PRATAMA S

Pasar Terapung Lok Baintan berada di Desa Lok Baintan, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar. Konon, pasar ini usianya lebih tua dari Kesultanan Banjar sendiri yang berdiri tahun 1595. Jukung-jukung dan para pedagang yang akrab dipanggil acil itu mulai berjualan sekitar pukul 06.00-09.00 Wita di atas Sungai Martapura.

Puluhan bahkan ratusan jukung berkumpul membawa beragam hasil bumi. Para acil mengenakan tanggui, topi lebar berbahan daun nipah atau daun rumbia yang menjadi penutup kepala khas masyarakat Banjar. Ketika dilihat dari kejauhan, tanggui berwarna-warni menghiasi pasar terapung ini diiringi suara sahut-menyahut antara acil dan pembeli.

Bukan hanya sebagai destinasi wisata, Pasar Terapung Lok Bintan masih menjalankan fungsi utamanya sebagai tempat masyarakat sekitar memenuhi kebutuhan sehari-hari. Beragam sayur, buah, dan berbagai kuliner khas banjar dijual di pasar ini, seperti soto Banjar, ketupat kandangan, laksa Banjar, lupis, apam, bingka, hingga aneka wadai tradisional tersedia setiap pagi.

Seluruh transaksi dilakukan di atas jukung. Pembeli juga harus menggunakan jukung untuk bisa bertransaksi. Ketika ingin membeli sesuatu, maka penjual akan merapat untuk menawarkan jualannya.

Ada pula tradisi bapanduk di atas aliran sungai itu, di mana pedagang bisa menukar atau barter dagangannya satu sama lain. Misalnya, pedagang sayur dapat menukar dagangannya dengan ikan atau buah tanpa menggunakan uang.

Pasar Terapung Muara Kuin

Pasar Terapung Muara KuinPasar Terapung Muara Kuin/ Foto: Istimewa (dok Diskominfotik Banjarmasinkota)

Pasar terapung lainnya adalah Pasar Terapung Muara Kuin yang berada di Kota Banjarmasin, tepatnya di pertemuan Sungai Barito dan Sungai Kuin. Pasar ini lokasinya ada di kawasan siring, tepat di depan Makam Sultan Suriansyah, tidak jauh dari kawasan Kesultanan Banjar lama dan Masjid Sultan Suriansyah, masjid tertua di Kalimantan Selatan.

Dari dulu kawasan ini sudah menjadi pusat aktivitas perdagangan kerajaan, konon telah berumur 400 tahun. Walaupun jumlah pedagangnya tidak sebanyak Lok Baintan, Muara Kuin tetap menjadi destinasi favorit wisatawan yang ingin merasakan sensasi berbelanja di atas sungai.

Namanya pun telah berubah, dari Pasar Terapung Muara Kuin menjadi Pasar Terapung Kuin Alalak. Nama Alalak diambil karena letaknya di antara daerah Kuin dan Alalak. Meski begitu, nama Pasar Terapung Muara Kuin masih lebih familiar di telinga berbagai orang.

Sama seperti Pasar Terapung Lok Baintan, Pasar Terapung Muara Kuin mulai ramai dipadati para penjual mulai dari pukul 06.00 Wita, bahkan bisa lebih pagi lagi. Pertemuan di Sungai Barito dan Sungai Kuin menambah daya tarik pasar ini karena para pedagang akan merapat dari berbagai sisi sungai.

Karena lokasinya yang strategis, detikers juga bisa menelusuri jejak sejarah Kesultanan Banjar yang ada di sekitar Pasar Terapung Muara Kuin. Tidak jauh dari pasar berdiri Masjid Sultan Suriansyah, masjid tertua di Kalimantan Selatan yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Suriansyah.

Di kawasan yang sama terdapat Kompleks Makam Sultan Suriansyah yang menjadi tempat peristirahatan Sultan Suriansyah beserta sejumlah anggota keluarga Kesultanan Banjar. Berkendara sekitar 15 menit, detikers bisa mengunjungi Museum Wasaka yang menyimpan koleksi sejarah perjuangan rakyat Kalimantan Selatan, serta menyusuri Kampung Kuin untuk melihat rumah-rumah tradisional Banjar.

Pasar terapung sudah lama menjadi perhatian Pemprov Kalsel. Baik Pasar Terapung Muara Kuin dan Pasar Terapung Lok Baintan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia sejak 2015 sebagai pengakuan atas nilai sejarah dan budaya yang dimilikinya.

Bagi masyarakat Banjar, pasar terapung tentu bukan hanya berfungsi sebagai objek wisata atau ikon Kalimantan Selatan. Pasar terapung merupakan jantung kehidupan yang telah diwariskan dan dijaga sejak ratusan tahun lamanya.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Mengisi Tenaga dengan Hidangan Lezat di Banjarmasin"
[Gambas:Video 20detik] (sun/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads