Selama ini, nama Kota Pontianak lekat dengan kisah kuntilanak. Namun, di balik cerita turun-temurun tersebut, terdapat pandangan sejarah yang menawarkan penjelasan berbeda mengenai asal-usul nama Pontianak.
Sejarawan Kalimantan Barat (Kalbar), Syafaruddin Daeng Usman mengatakan kisah kuntilanak dalam sejarah berdirinya Kota Pontianak sejatinya merupakan sebuah legenda yang berkembang di tengah masyarakat. Cerita itu diwariskan dari generasi ke generasi hingga menjadi bagian dari identitas kota.
"Sejatinya kuntilanak dalam babak riwayat berdirinya Kota Pontianak adalah sebuah legenda. Sebagai legenda yang dipercaya turun-temurun, menjadikan seolah kota ini berdiri dengan latar belakang adanya hantu atau makhluk halus yang diperkenalkan sebagai kuntilanak atau hantu Pontianak," kata Syafaruddin kepada detikKalimantan, Kamis (16/7/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam legenda tersebut, kata Syafaruddin, sebelum kawasan yang kini menjadi Kota Pontianak dihuni manusia, wilayah tersebut dipercaya telah ditempati makhluk halus yang disebut hantu Pontianak. Ketika Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie bin Husain Al-Qadri bersama para pengikutnya membuka permukiman baru, mereka disebut mendapat gangguan dari makhluk-makhluk tersebut.
Dalam hikayat yang berkembang, pendiri dan sultan pertama Kerajaan Pontianak itu kemudian menembakkan meriam pusaka untuk mengusir para hantu. Lokasi jatuhnya peluru meriam dipercaya menjadi tempat berdirinya Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman yang kini menjadi salah satu situs bersejarah di Pontianak.
"Semua itu menurut hikayat lama atau legenda," ujarnya.
Pandangan Lain soal Asal-usul Nama Pontianak
Namun, sejarawan yang akrab disapa Bang Din menegaskan legenda berbeda dengan sejarah. Menurutnya, sejarah harus disusun berdasarkan dokumen, arsip, dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ia menjelaskan berdasarkan sejumlah sumber sejarah, Syarif Abdurrahman Alkadrie menemukan lokasi strategis di pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak saat membuka kawasan permukiman. Pada masa itu di kawasan muara dua sungai tersebut, diduga dikuasai kelompok bajak laut atau lanun yang kerap merampok kapal-kapal yang melintas.
Bang Din kemudian mengemukakan pendapat pribadinya mengenai asal-usul nama Pontianak. Menurutnya, nama itu kemungkinan tidak berasal dari sosok kuntilanak, melainkan dari frasa yang merujuk pada lokasi 'pintu anak sungai'.
"Berdasarkan pendapat saya pribadi, pintu anak sungai inilah yang disebut punti anak, kemudian berkembang menjadi Puntianak atau Pontianak," jelasnya.
Ia menilai penyebutan 'hantu' dalam kisah tersebut kemungkinan merupakan kiasan untuk menggambarkan kelompok lanun yang menguasai kawasan muara sungai. "Adapun para hantu di situ adalah sebutan untuk lanun, bajak laut, rompak, dan perampok. Sehingga dikonotasikan sebagai hantu di pintu anak sungai atau hantu punti anak," katanya.
Meski demikian, Bang Din menegaskan pandangan tersebut merupakan interpretasi pribadinya sebagai sejarawan. Sementara itu, legenda mengenai kuntilanak tetap menjadi bagian dari khazanah budaya dan cerita rakyat yang melekat dalam sejarah lisan masyarakat Pontianak.
Legenda dan sejarah, menurutnya, memiliki ruang yang berbeda. Legenda hidup sebagai warisan budaya masyarakat, sedangkan sejarah berupaya menjelaskan masa lalu melalui bukti-bukti yang dapat diverifikasi. Dengan demikian, asal-usul nama Pontianak hingga kini masih menjadi bagian dari diskusi menarik antara tradisi lisan dan kajian sejarah.
