Pernikahan dalam budaya Banjar punya kedudukan yang penting. Terdapat berbagai tahapan adat yang harus dilalui sebelum akad nikah dilangsungkan. Salah satunya adalah tradisi maantar jujuran atau baatar jujuran.
Tradisi ini melibatkan pemberian sejumlah uang dan barang dari pihak calon pengantin laki-laki kepada keluarga calon pengantin perempuan. Dalam bahasa Banjar, maantar berarti mengantar atau menyerahkan.
Sementara jujuran adalah pemberian berupa uang, perhiasan, atau barang-barang tertentu yang diserahkan pihak laki-laki kepada pihak perempuan sebelum pernikahan berlangsung. Tradisi ini termasuk dalam rangkaian adat perkawinan Banjar dan biasanya dilaksanakan setelah proses lamaran atau yang dikenal dengan istilah badatang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Walaupun sering disamakan, jujuran berbeda dengan mahar. Mahar merupakan kewajiban dalam syariat Islam yang diberikan langsung kepada mempelai perempuan dan menjadi hak pribadinya.
Sementara itu, jujuran merupakan ketentuan adat yang disepakati kedua keluarga dan umumnya digunakan untuk membantu biaya pesta pernikahan maupun kebutuhan awal ketika berumah tangga. Nominal jujuran biasanya justru memiliki nilai yang jauh lebih besar dibandingkan mahar.
Fungsi Jujuran
Fungsi utama jujuran adalah sebagai bentuk tanggung jawab dan kesungguhan calon mempelai laki-laki dalam mempersunting calon istrinya. Dana jujuran umumnya digunakan untuk berbagai kebutuhan pernikahan, seperti:
- Biaya resepsi atau walimah
- Perlengkapan pengantin
- Perhiasan
- Perabot rumah tangga
- Perlengkapan kamar pengantin
- Modal awal berumah tangga
Selain uang tunai, pihak perempuan terkadang juga meminta perlengkapan tertentu yang dikenal dengan istilah serba satu, serba dua, atau seisi kamar. Isinya bisa berupa lemari, kasur, meja rias, pakaian, sepatu, tas, dan berbagai perlengkapan rumah tangga lainnya. Karena itu, total nilai jujuran yang harus disiapkan calon pengantin laki-laki bisa cukup besar.
Berapa Nominal Jujuran dalam Adat Banjar?
Tidak ada aturan pasti mengenai besaran jujuran yang harus diberikan. Nilainya sangat bervariasi tergantung hasil musyawarah kedua keluarga. Berdasarkan berbagai penelitian yang dirangkum detikKalimantan, besaran jujuran biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
- Status sosial keluarga perempuan
- Tingkat pendidikan calon pengantin perempuan
- Pekerjaan calon pengantin perempuan
- Kondisi ekonomi kedua keluarga
- Tradisi yang berlaku di daerah setempat
- Kesepakatan hasil musyawarah keluarga
Di sejumlah daerah Kalimantan Selatan, nominal jujuran dapat berkisar mulai dari belasan juta hingga puluhan juta Rupiah. Dalam beberapa penelitian bahkan ditemukan contoh kesepakatan jujuran sebesar Rp 25 juta, ditambah berbagai perlengkapan rumah tangga dan barang kebutuhan pengantin. Namun ada pula keluarga yang menetapkan jumlah lebih rendah sesuai kemampuan pihak laki-laki.
Pada keluarga tertentu, terutama yang memiliki status sosial tinggi atau calon pengantin perempuan berpendidikan tinggi, nilai jujuran dapat mencapai puluhan hingga ratusan juta Rupiah. Walaupun begitu, masyarakat Banjar juga mengenal istilah sapambari yang berarti seikhlasnya. Keluarga perempuan tidak menetapkan nominal tertentu dan menyerahkan jumlah jujuran sesuai kemampuan pihak laki-laki.
Ditentukan Lewat Musyawarah Badatang
Penentuan jujuran biasanya dilakukan saat prosesi badatang atau lamaran. Pada tahap ini, keluarga laki-laki datang untuk menyampaikan niat meminang sekaligus membicarakan berbagai hal terkait rencana pernikahan, termasuk nilai jujuran dan waktu pelaksanaan akad nikah. Kedua belah pihak akan menyampaikan keinginan serta kemampuan masing-masing hingga mencapai kesepakatan.
Tetapi dalam banyak kasus, keluarga perempuan tetap memiliki peran dominan saat menentukan besaran jujuran karena dianggap berkaitan dengan kehormatan keluarga. Apabila tidak ditemukan titik temu, proses pernikahan bahkan bisa tertunda atau batal dilaksanakan.
Masyarakat Banjar percaya, jujuran bukan hanya soal uang atau barang, tapi juga simbol penghormatan, tanggung jawab, serta kesungguhan seorang laki-laki untuk memulai kehidupan rumah tangga bersama pasangannya. Karena itulah, tradisi maantar jujuran masih dilakukan hingga sekarang.
