Kisah Bungan Sigau Belawan dan Keajaiban Burung Enggang

Cerita Rakyat

Kisah Bungan Sigau Belawan dan Keajaiban Burung Enggang

Bayu Ardi Isnanto - detikKalimantan
Minggu, 14 Jun 2026 08:00 WIB
Ilustrasi cerita Bungan Sigau Belawan dan Keajaiban Burung Enggang. (Gemini AI)
Foto: Ilustrasi cerita Bungan Sigau Belawan dan Keajaiban Burung Enggang. (Gemini AI)
Balikpapan -

Nusantara memiliki kekayaan tradisi lisan yang luar biasa, salah satunya datang dari pesona pedalaman Kalimantan melalui legenda Bungan Sigau Belawan. Cerita rakyat ini diwariskan di kalangan masyarakat suku Dayak Kenyah.

Kisahnya sarat akan nilai-nilai kehidupan, mulai dari ketegasan hukum adat, keberanian untuk bertanggung jawab, hingga kebesaran hati untuk memaafkan.

Berpusat pada sosok Bungan Sigau Belawan, adik kandung dari seorang kepala adat ini terpaksa diasingkan ke hutan belantara karena hukum adat. Namun, berkat kebersihan hatinya, Bungan bertahan hidup dengan berbagai keajaiban di dalam hutan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut kisah Bungan Sigau Belawan, lengkap dengan pesan moralnya, yang dilansir dari Cerita Rakyat Daerah Kalimantan Timur dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Bungan Sigau Belawan dan Keajaiban Burung Enggang

Alkisah di sebuah desa di pedalaman Kalimantan, hiduplah seorang Kepala Adat yang bijaksana dan disegani bernama Jalung Sigau Belawan. Ia memiliki seorang adik perempuan yang sangat rupawan dan berbudi halus bernama Bungan Sigau Belawan. Jalung sangat menyayangi dan melindungi adiknya, memastikan Bungan selalu aman dari gangguan siapa pun.

Namun, pada suatu hari, Jalung harus pergi meninggalkan desa untuk urusan adat, meninggalkan Bungan sendirian di rumah. Tanpa disangka, datanglah dua orang pemuda pengembara dari luar desa. Salah satu dari pemuda itu terpesona oleh kecantikan Bungan.

Dengan bujuk rayu dan tipu muslihat, pemuda itu memperdaya Bungan hingga mereka mengikat janji terlarang tanpa restu keluarga. Setelah menyadari bahwa Bungan adalah adik seorang Kepala Adat yang ditakuti, pemuda itu menjadi panik. Bukannya bertanggung jawab, ia dan temannya malah melarikan diri secara diam-diam.

Waktu berlalu, dan Jalung pun kembali. Ia sangat marah dan kecewa ketika mengetahui adiknya telah diperdaya dan kini sedang mengandung. Meskipun hatinya hancur, sebagai seorang Kepala Adat, Jalung harus menegakkan hukum dan menjaga kehormatan desa. Dengan berat hati, ia terpaksa mengusir Bungan dari desa.

Bungan yang malang harus pergi mempertanggungjawabkan nasibnya. Ia berjalan tanpa arah memasuki hutan belantara, tidak tahu harus ke mana kakinya melangkah.

Pertemuan dengan Kakek Misterius

Setelah berjalan seharian penuh, matahari mulai condong ke barat. Bungan yang sangat kelelahan bersandar di bawah sebuah pohon besar. Sambil memikirkan nasibnya yang kurang beruntung, ia pun tertidur lelap di tengah keheningan hutan malam itu.

Keesokan paginya, Bungan terbangun oleh cahaya matahari keemasan dan kicauan burung yang merdu. Namun, betapa terkejutnya ia ketika melihat seorang kakek tua berambut dan berjenggot putih tebal sudah berdiri di hadapannya. Awalnya Bungan merasa takut, namun ia pasrah pada keadaan.

Ternyata, kakek itu tersenyum ramah dan menyapanya dengan lembut, "Apa yang sedang kau cari di hutan sedalam ini, Anak Manis?"

Dengan suara bergetar, Bungan menceritakan kisahnya. "Saya mengembara sendirian, Kek. Saya diusir oleh kakak saya, Jalung, karena saya telah diperdaya oleh pemuda tak bertanggung jawab yang kini melarikan diri. Saya sangat takut tinggal sendirian di hutan ini. Jika ada binatang buas, siapa yang akan melindungi saya? Apalagi, saat ini saya sedang mengandung."

Mendengar hal itu, sang kakek mengangguk penuh iba. "Cucuku yang manis, Dewa Bungan Malan pasti akan melindungimu. Lanjutkanlah perjalananmu. Untuk menjaga dirimu, kuberikan cangkang siput ajaib ini. Simpanlah baik-baik, siput ini akan menolongmu di saat kau membutuhkannya."

Setelah mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, Bungan kembali melangkah menembus gunung dan lembah, meski rasa lapar dan lelah terus mendera tubuhnya.

Keajaiban Burung Enggang di Bukit Berbatu

Tibalah Bungan di sebuah padang rumput luas yang berbatasan dengan bukit berbatu. Saat sedang mencari jalan untuk mendaki, tiba-tiba seekor ular sanca berukuran raksasa merayap turun dari bukit, mendesis ganas ke arahnya.

Bungan sangat ketakutan. "Apa yang harus kulakukan? Badanku lemah dan aku tak mungkin bisa berlari," batinnya panik. Di saat genting itu, ia teringat pada siput pemberian sang kakek. Ia segera mengeluarkan siput itu dari balik pakaiannya.

Seketika, keajaiban terjadi. Seekor burung enggang yang sangat indah terbang berputar dan bertengger di atas pohon.

Bungan berseru penuh harap, "Wahai burung yang cantik, tolonglah aku! Ada ular besar yang hendak menyerangku, sementara aku tidak berdaya untuk lari."

Burung enggang itu membalas dengan suara manusia, "Bungan Sigau Belawan yang lembut hati, janganlah takut. Dewa Bungan Malan mengutusku untuk menolongmu. Cepatlah naik ke atas batu besar di hadapanmu dan berdiamlah di sana!"

"Tapi batu ini sangat pendek, ular itu pasti bisa menjangkaunya!" balas Bungan ragu.

"Jangan khawatir, Bungan. Keajaiban akan melindungimu," kata burung Enggang menenangkan.

Bungan pun menurut dan memanjat batu itu. Saat ular sanca mendekat dan bersiap mematuk, tiba-tiba batu yang diinjak Bungan memanjang dan tumbuh menjulang tinggi ke atas!

Ular itu terus berusaha melompat, namun tidak bisa mencapai Bungan. Karena kelelahan dan gagal, ular sanca itu akhirnya menyerah dan pergi menghilang ke dalam semak-semak.

"Wahai Enggang yang baik, bagaimana aku bisa turun sekarang? Batu ini terlalu tinggi," tanya Bungan lega namun bingung.

"Sabarlah," jawab burung enggang. Ia menatap batu tersebut, dan perlahan-lahan batu itu menyusut kembali menjadi rendah seperti semula. Setelah berterima kasih pada burung enggang, Bungan kembali meneruskan perjalanannya.

Pondok Kakek di Tepi Sungai

Berhari-hari Bungan berjalan hingga ia menemukan sebuah anak sungai berair jernih. Di tepi sungai itu, terdapat sebuah pondok sederhana yang dihuni oleh seorang kakek tua yang masih terlihat bugar.

Bungan menghampiri pondok itu dan memberi salam. "Maafkan saya mengganggu, Kek. Saya seorang pengembara. Tubuh saya sangat lelah dan waktu saya untuk melahirkan sudah sangat dekat. Sudilah kiranya Kakek memberikan tumpangan untuk saya bernaung."

Kakek itu menatap Bungan dengan iba dan bertanya tentang asal-usulnya. Bungan menceritakan semua kejadian pahit yang menimpanya hingga ia diusir oleh kakaknya.

Tanpa ragu, Kakek itu menganggap Bungan selayaknya keluarganya sendiri. "Cucuku, engkau adalah keturunan keluarga terhormat. Kakek ini hanyalah orang biasa yang hidup sebatang kara di hutan. Jika engkau sudi tinggal di pondok reot ini, Kakek akan sangat bahagia merawatmu dan menganggapmu sebagai cucu sendiri."

Sejak hari itu, Bungan tinggal bersama sang kakek. Tak lama kemudian, Bungan melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat tampan dan sehat. Kulitnya kuning langsat dan wajahnya sangat gagah. Anak itu diberi nama Lencau Mepan Uyan Turan, yang berarti anak yang lahir tanpa kehadiran seorang ayah.

Untuk melindungi diri dan anaknya dari orang asing, Bungan menggunakan kekuatan gaib dari siput ajaibnya. Siput itu bisa memberinya semacam baju kulit kodok yang membuat penampilannya terlihat jelek, atau bahkan membuat ia dan anaknya tak kasat mata jika ada tamu yang datang ke pondok sang kakek.

Rahasia yang Terungkap

Tahun demi tahun berlalu. Lencau tumbuh menjadi anak yang tangkas dan berani. Suatu hari, Lencau sedang mandi sendirian di anak sungai sementara Bungan mengawasinya dari balik pepohonan.

Tiba-tiba, sebuah perahu melintas dari arah hulu. Di dalamnya terdapat dua pemuda yang sedang menjala ikan. Betapa terkejutnya Bungan, karena ternyata kedua pemuda itu adalah orang yang sama yang dulu telah memperdaya dan meninggalkannya! Mereka rupanya sering memancing di area itu.

Kedua pemuda itu keheranan melihat seorang anak kecil di tengah hutan belantara. Saat mereka mencoba mendekat, Lencau yang terkejut segera berlari pulang ke pondok. Karena penasaran, malam harinya kedua pemuda itu berkunjung ke pondok sang Kakek. Bungan yang tahu mereka datang segera memakai baju kulit kodoknya dan bersembunyi.

Salah satu pemuda yang berwajah paling tampan bertanya, "Kek, apakah ada orang lain yang tinggal di sini? Tadi pagi kami melihat seorang anak laki-laki yang gagah mandi di tepi sungai."

Kakek, yang ingin melindungi Bungan, berbohong. "Tidak ada siapa-siapa di sini selain Kakek sendiri."

Namun, kedua pemuda itu tidak mudah percaya. Malam berikutnya, mereka mengendap-endap dan bersembunyi di atas pohon dekat pondok. Menjelang subuh, mereka mengintip dari celah dinding bambu. Betapa terkejutnya mereka saat melihat Bungan melepas baju kulit kodoknya, menampakkan wajah aslinya yang cantik rupawan saat sedang memasak bersama Lencau.

Pemuda itu langsung mengenali wajah Bungan. Ia segera menerobos masuk lewat pintu dapur. "Tolong, jangan lari!" serunya.

Bungan terkejut dan mencoba merendah, "Saya hanya orang hina, tak pantas berbincang dengan kalian."

"Tolong jangan berkata begitu," ucap pemuda itu dengan mata berkaca-kaca. "Aku tahu siapa dirimu, Bungan Sigau Belawan."

Mendengar namanya disebut, Bungan akhirnya menceritakan penderitaannya selama ini. Belum sempat Bungan menyelesaikan ceritanya, pemuda tampan itu berlutut dan menangis. Wajahnya memang sangat mirip dengan Lencau. Pemuda itu adalah ayah dari Lencau.

"Maafkan aku, Bungan. Maafkan kepengecutanku di masa lalu," ucapnya penuh penyesalan. "Aku telah membuatmu menderita. Sekarang, aku siap mempertaruhkan nyawaku untuk bertanggung jawab dan menebus semua kesalahanku. Maukah engkau menerimaku sebagai suamimu?"

Bungan menatap pemuda itu dengan tenang. "Wahai pemuda, jika ucapanmu benar-benar dari lubuk hati, aku memaafkanmu. Jadikanlah kesalahan lalu sebagai pelajaran. Namun, ada satu syarat. Engkau harus meminta maaf kepada kakakku, Jalung Sigau Belawan, agar nama baiknya, keluargaku, dan desa kami kembali bersih."

Pemuda itu mengangguk mantap, bersedia memenuhi syarat tersebut.

Pertemuan yang Membawa Damai

Sang Kakek yang sedari tadi menyaksikan kejadian itu akhirnya menengahi. "Tuhan telah mempertemukan kalian kembali dengan cara yang luar biasa. Jika demikian, besok kita semua akan berangkat ke desa kakakmu. Kita akan bermusyawarah dengan Jalung agar pernikahan kalian mendapat restu adat. Kakek yang akan menjadi perantaranya."

Malam itu juga, mereka bergegas menyiapkan perahu (jukung) dan perbekalan. Menjelang subuh, Kakek, Bungan, Pemuda itu, dan Lencau berangkat menyusuri sungai menuju desa Jalung.

Setelah dua hari dua malam mendayung, mereka tiba. Kakek meminta Bungan, suami, dan anaknya menunggu di perahu, sementara ia berjalan sendiri menuju rumah adat (Lamin) untuk menemui Jalung Sigau Belawan.

Di rumah adat, Kakek disambut dengan baik. Dengan bijaksana, Kakek menceritakan semua kebenaran tentang Bungan, pertaubatan pemuda itu, dan kehadiran sang keponakan, Lencau. Mendengar bahwa adik kesayangannya masih hidup, Jalung menangis bahagia. Hatinya yang keras luluh seketika. Ia segera menyuruh pengawalnya menjemput Bungan di perahu.

Ketika Bungan dan keluarganya tiba di rumah adat, Jalung langsung melompat dan memeluk adiknya erat-erat. Lencau kecil disambut dengan penuh sukacita oleh seluruh keluarga, dan sang Pemuda dengan berani meminta maaf secara ksatria kepada Jalung serta menerima denda adat sebagai bentuk tanggung jawabnya.

Segala kesalahpahaman telah diselesaikan. Seluruh desa bersorak-sorai. Pesta pernikahan adat (erau) yang sangat meriah digelar untuk Bungan dan suaminya, berlangsung selama tujuh hari tujuh malam dengan penuh tarian dan nyanyian suku Dayak Kenyah.

Setelah pesta selesai, sang Kakek berpamitan untuk kembali ke pondoknya di hutan, diiringi ucapan terima kasih yang tak terhingga dari Bungan dan keluarganya. Kini, keluarga yang lama terpisah itu kembali bersatu di dalam satu lamin besar. Bungan, suaminya, Lencau, dan Jalung hidup berdampingan dengan rukun, damai, dan bahagia selamanya.

Pesan Moral Cerita Rakyat Bungan Sigau Belawan

Berikut beberapa pesan moral yang dapat diambil dari cerita Bungan Sigau Belawan:

  • Berani Bertanggung Jawab: Pesan ini ditunjukkan melalui tokoh sang pemuda. Meskipun awalnya ia lari dari masalah karena takut, ia akhirnya menyadari kesalahannya, meminta maaf dengan tulus, dan berani menghadapi Jalung Sigau Belawan untuk menerima hukuman.
  • Kebesaran Hati untuk Memaafkan: Bungan Sigau Belawan mengajarkan kita tentang keikhlasan. Meskipun ia telah menderita dan diusir ke hutan, ia tidak menyimpan dendam dan bersedia memaafkan pemuda yang telah menyakitinya.
  • Kebaikan Hati Mendatangkan Pertolongan: Selama di hutan, Bungan bersikap sopan, pasrah, dan berhati lembut. Sikap baiknya ini membuat ia ditolong oleh kakek misterius dan burung enggang.
  • Ketegasan Menegakkan Aturan: Tokoh Jalung Sigau Belawan mengajarkan bahwa hukum atau aturan harus ditegakkan secara adil, tanpa pandang bulu. Walaupun ia sangat menyayangi adiknya, ia tetap menjalankan hukum adat demi menjaga kebersihan dan kehormatan desa.
Halaman 2 dari 3
(bai/sun)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads