Mengenal Saprahan, Tradisi Kebersamaan dalam Masyarakat Melayu Sambas

Mengenal Saprahan, Tradisi Kebersamaan dalam Masyarakat Melayu Sambas

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Jumat, 10 Apr 2026 19:01 WIB
Tradisi Saprahan Kalimantan Barat
Tradisi Saprahan Kalimantan Barat. Foto: detikcom
Sambas -

Kalimantan Barat secara geografis berbatasan langsung dengan Malaysia di bagian utara, serta berdekatan dengan Laut Natuna di sisi barat. Posisi strategis ini membuat Kalimantan Barat menjadi jalur pertemuan berbagai budaya sejak lama, terutama melalui perdagangan.

Posisi tersebut juga berpengaruh terhadap migrasi berbagai suku, sehingga terciptalah Kalimantan Barat yang sekarang kita ketahui sebagai provinsi multietnis.

Keberagaman ini melahirkan banyak tradisi unik yang masih dijaga sampai saat ini, mulai dari upacara adat, seni budaya, hingga tradisi kuliner. Beberapa contoh budaya yang cukup dikenal antara lain tradisi Robo-Robo, Naik Dango, hingga Saprahan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di antara berbagai kelompok etnis tersebut, masyarakat Melayu punya peran penting dalam perkembangan budaya di Kalimantan Barat, khususnya di wilayah Sambas. Melayu Sambas dikenal sebagai bagian dari masyarakat Melayu pesisir yang tumbuh dengan pengaruh Islam. Jika ditarik ke belakang, masyarakat Melayu Sambas masuk melalui jalur perdagangan ke wilayah Kalimantan Barat

Salah satu tradisi dalam masyarakat Melayu Sambas yang hingga saat ini masih dijaga adalah Saprahan. Tradisi ini berakar dari cara hidup mereka yang menekankan nilai kebersamaan, kesetaraan, dan saling menghargai.

Orang-orang duduk bersila di atas kain alas yang disebut saprah, lalu menikmati hidangan dari satu nampan secara bersama-sama. Tidak ada perbedaan status sosial dalam Saprahan, semua duduk sejajar, sejalan dengan filosofi 'duduk sama rendah, berdiri sama tinggi'.

Mengenal Tradisi Saprahan dan Nilai Filosofisnya

Secara etimologis, kata 'Saprahan' berasal dari bahasa Arab safrah atau saprah yang berarti hamparan atau sesuatu yang berbentuk bundar. Kata ini menggambarkan cara penyajian makanan dalam tradisi ini, yaitu di atas alas bundar yang dihamparkan dan dinikmati bersama dengan lesehan.

Saprahan biasanya dilakukan dalam berbagai acara penting, seperti pernikahan, syukuran, khataman, tahlilan, maupun penyambutan tamu kehormatan. Tradisi ini tidak terikat waktu tertentu, melainkan menyesuaikan dengan acara-acara penting saat itu. Di sinilah Saprahan menjadi sebuah penghubung dan mempererat silaturahmi.

Saprahan mengandung banyak nilai kehidupan. Salah satunya adalah kebersamaan, di mana makan tidak dimulai sebelum semua siap, dan setiap orang mengambil makanan secukupnya supaya semua kebagian.

Tradisi ini juga mengajarkan kesetaraan. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah, semua duduk dalam posisi yang sama. Selain itu, nilai gotong royong sangat terasa sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan. Setiap orang memiliki peran dan saling membantu agar acara berjalan lancar.

Tahapan Tradisi Saprahan

Setidaknya ada sembilan rangkaian proses panjang yang melibatkan banyak orang dalam tradisi ini. Disadur dari penelitian berjudul Tradisi Saprahan Masyarakat Muslim-Melayu Kalimantan Barat: Relevansinya Sebagai Sumber Belajar Agama Islam Seputar Moderasi Beragama karya Sari dan Kurniawan (2025), berikut tahapan-tahapannya:

1. Malam Rapat

Tahapan awal dimulai dari malam rapat yang berisi musyawarah melibatkan tokoh masyarakat, keluarga penyelenggara, hingga warga sekitar. Dalam pertemuan ini dibentuk kepanitiaan sekaligus pembagian tugas secara rinci, mulai dari bagian konsumsi, perlengkapan, hingga penerima tamu.

Tetapi bukan hanya sekadar pembagian tugas kerja, malam rapat menjadi ruang untuk mempererat komunikasi, menyatukan visi, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama. Di sinilah mufakat akan dicapai.

2. Bepinjam

Setelah struktur kepanitiaan terbentuk, warga mulai memasuki tahap bepinjam. Pada tahap ini, masyarakat bergotong royong mencari, mengumpulkan, dan menjemur kayu bakar yang akan digunakan untuk memasak. Aktivitas ini biasanya dilakukan secara bersama-sama tanpa memandang usia maupun status sosial.

3. Beramu

Tahap berikutnya adalah beramu yang umumnya menjadi tanggung jawab kaum laki-laki. Mereka akan mencari bahan-bahan seperti kayu untuk membangun tarup atau tenda sebagai tempat berlangsungnya acara. Tarup ini penting karena menjadi ruang utama bagi tamu untuk berkumpul dan melaksanakan saprahan. Kegiatan beramu menunjukkan pembagian peran yang jelas dalam masyarakat, sekaligus menggambarkan kerja sama yang terorganisir dengan baik.

4. Bepinjam Pacah Balan

Pada tahap ini, masyarakat mulai saling meminjam berbagai perlengkapan yang dibutuhkan, seperti piring, gelas, nampan, hingga tikar dari keluarga maupun tetangga sekitar. Setiap barang yang dipinjam biasanya diberi tanda khusus agar tidak tertukar saat dikembalikan.

5. Begiling

Begiling merupakan tahap persiapan bahan makanan, seperti memotong, mengiris, hingga menghaluskan bumbu. Di sini peran ibu-ibu sangat dominan dan dibutuhkan.

6. Merancap

Tahap merancap adalah saat di mana peralatan yang akan digunakan untuk Saprahan ditata. Semua perlengkapan disusun dengan rapi, biasanya dengan warna dan corak yang seragam. Merancap juga mencerminkan kedisiplinan dan keteraturan dalam mempersiapkan acara agar berjalan dengan baik.

7. Berkaut

Setelah semua makanan selesai dimasak, masuk ke tahap berkaut, yaitu proses menata dan memasukkan hidangan ke dalam wadah saji yang telah disiapkan. Hasil kerja keras seluruh warga mulai terlihat saat ini.

8. Bebasuk

Setelah acara selesai, masyarakat tidak langsung pulang begitu saja. Mereka bersama-sama membersihkan peralatan yang telah digunakan dalam tahap bebasuk. Bebasuk juga menjadi bentuk kepedulian terhadap kebersihan serta kenyamanan bersama.

9. Mulangkan Barang

Tahap terakhir adalah mulangkan barang yang berarti mengembalikan semua perlengkapan yang telah dipinjam kepada pemiliknya. Proses ini dilakukan dengan penuh tanggung jawab sebagai bentuk penghormatan dan terima kasih kepada pihak yang telah membantu.

Selain itu, tahap ini juga memperkuat kembali hubungan antar warga karena interaksi tidak berhenti pada saat acara berlangsung, tetapi terus berlanjut sampai seluruh rangkaian selesai.

Saprahan Memanjang dan Melingkar

Bukan hanya melingkar saja, Saprahan juga punya bentuk memanjang yang dibedakan dari segi tata letak dan jumlah pesertanya. Hidangan di Saprahan memanjang disusun di atas kain panjang yang dihamparkan sepanjang ruangan.

Para tamu akan duduk berhadap-hadapan di sisi kanan dan kiri kain tersebut. Pola ini biasanya digunakan untuk acara dengan jumlah peserta yang banyak. Interaksi antar peserta bisa terasa lebih hidup karena mereka bisa saling berkomunikasi secara langsung dari posisi yang saling berhadapan.

Sementara itu, saprahan melingkar biasanya diikuti oleh kelompok kecil, sekitar enam orang dalam satu lingkaran. Hidangan ditempatkan di tengah, dan semua peserta duduk mengelilinginya. Pola ini menonjolkan kesan lebih intim karena semua orang berada pada posisi yang setara tanpa adanya ujung atau akhir tempat duduk.

Filosofi kesetaraan dalam Saprahan benar-benar terasa dalam bentuk ini karena tidak ada posisi yang lebih tinggi atau lebih rendah, semuanya berbagi ruang dan makanan secara adil.

Kedua bentuk tersebut sebenarnya memiliki tujuan yang sama, yaitu mempererat kebersamaan dan menumbuhkan rasa persaudaraan. Perbedaannya hanya terletak pada kebutuhan acara, jumlah tamu, serta ruang yang tersedia. Baik dalam bentuk memanjang maupun melingkar, nilai utama yang dijunjung tetap sama, yaitu kebersamaan.

Biasanya, acara Saprahan diselenggarakan di tempat yang cukup luas, seperti aula, halaman rumah, atau tarup (tenda tradisional) yang dibangun khusus untuk acara tersebut. Pemilihan tempat ini bukan didasarkan untuk memberi ruang yang cukup bagi semua orang agar dapat berkumpul dengan nyaman dan leluasa berinteraksi.

Peralatan yang digunakan dalam Saprahan juga punya makna simbolis. Kain saprah sebagai alas makan melambangkan kebersamaan. Wadah makanan yang digunakan bersama mencerminkan semangat berbagi, sementara tempat cuci tangan yang disediakan sebelum dan sesudah makan menjadi simbol kebersihan sekaligus penghormatan terhadap sesama.

Itulah dia sekilas tentang tradisi Saprahan oleh masyarakat Melayu Sambas di Kalimantan Barat. Melalui setiap proses dan tata cara pelaksanaannya, Saprahan mengajarkan nilai kebersamaan, gotong royong, serta saling menghargai tanpa memandang perbedaan.



(aau/aau)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads