Nama Lambung Mangkurat tentu sudah sangat familiar, khususnya bagi masyarakat di Kalimantan Selatan. Bahkan namanya diabadikan menjadi salah satu perguruan tinggi ternama, yaitu Universitas Lambung Mangkurat.
Di balik nama besar tersebut, apakah detikers benar-benar tahu siapa sebenarnya Lambung Mangkurat? Dan bagaimana kisahnya hingga dijadikan nama universitas di Kalimantan Selatan?
Artikel ini akan mengulas secara lengkap sosok Lambung Mangkurat, mulai dari asal-usul namanya, perannya dalam kerajaan, hingga alasan mengapa namanya diabadikan dalam banyak hal, seperti nama jalan, stadion, hingga nama universitas.
Asal-usul Nama Lambung Mangkurat
Jika ditelusuri dari berbagai sumber, termasuk Hikayat Banjar, nama Lambung Mangkurat bukanlah nama asli dari sebuah tokoh. Ada beberapa versi yang berkembang di masyarakat, seperti Lambu Mangkurat, Dambung Mangkurap dalam masyarakat Dayak Maanyan, dan Lembu Amangkurat.
Perbedaan ini mungkin terjadi karena perubahan pelafalan seiring berjalannya waktu dan perbedaan bahasa. Tetapi yang sekarang lebih dikenal adalah Lambung Mangkurat yang merujuk pada satu tokoh dalam Kerajaan Negara Dipa.
Latar Belakang Keluarga dan Berdirinya Kerajaan Negara Dipa
Lambung Mangkurat merupakan putra dari Ampu Jatmaka, seorang saudagar kaya yang mendirikan Kerajaan Negara Dipa pada sekitar abad ke-14. Ampu Jatmaka berasal dari Negeri Keling, yang dalam beberapa sumber disebut berada di sekitar wilayah India, lalu datang ke Kalimantan bersama rombongan pedagang dan pengikutnya sebelum akhirnya membangun pusat kekuasaan di wilayah Candi Laras (Margasari), dan kemudian berpindah ke Candi Agung (Amuntai), seperti yang tertera dalam buku Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara 2 karya Soekirno (2005).
Dalam struktur keluarganya, Lambung Mangkurat bukan anak tunggal. Ia dikenal sebagai anak kedua dari Ampu Jatmaka. Kakaknya bernama Ampu Mandastana yang juga dikenal dengan gelar Lambung Jaya Wanagiri. Sementara itu, sosok ibu Lambung Mangkurat tidak banyak disebutkan secara jelas dalam banyak sumber seperti Hikayat Banjar, sehingga identitasnya masih belum diketahui secara pasti.
Peran Lambung Mangkurat dalam Kerajaan
Sejak kecil, Lambung Mangkurat tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memiliki pengaruh besar, tetapi ia tetap menjunjung tinggi nilai kerendahan hati. Ayahnya, Ampu Jatmaka, memberi contoh bahwa kekuasaan bukanlah tujuan utama.
Meskipun mendirikan Kerajaan Negara Dipa, ia justru tidak mau menobatkan dirinya sebagai raja karena merasa bukan berasal dari garis keturunan bangsawan yang sah. Sikap ini yang kemudian diwariskan kepada anak-anaknya, termasuk Lambung Mangkurat.
Saat Kerajaan Negara Dipa mulai berkembang, Lambung Mangkurat diperkirakan masih berada dalam usia muda hingga dewasa awal. Walaupun tidak ada catatan pasti tentang umurnya, dalam Hikayat Banjar ia digambarkan sebagai sosok telah dewasa.
Setelah wafatnya Ampu Jatmaka, Lambung Mangkurat bersama kakaknya tidak serta-merta mengambil alih tahta. Mereka memilih menjalankan peran untuk menjaga stabilitas kerajaan. Lambung Mangkurat kemudian mulai berperan sebagai pengatur pemerintahan di balik layar, mengelola wilayah, menjaga hubungan dengan masyarakat, sekaligus memastikan kerajaan tetap berjalan meskipun belum memiliki.
Simak Video "Menyusun Hidangan Tradisional Mahumbal dan Mamalan di Kalimantan Selatan"
(sun/aau)