Jejak Sejarah dan Pesona Kalimantan Timur yang Berulang Tahun ke-69

Jejak Sejarah dan Pesona Kalimantan Timur yang Berulang Tahun ke-69

Anindyadevi Aurellia - detikKalimantan
Jumat, 09 Jan 2026 08:01 WIB
Presiden Joko Widodo (kelima kanan) menyampaikan pidato didampingi Sekretaris Kabinet Pramono Agung (kelima kiri) Menko Polhukam Hadi Tjahjanto (keempat kanan), Menteri PUPR Basuki Hadimuljono (keenam kanan), Mensesneg Pratikno (ketiga kanan), Wakil Menteri ATR/BPN Raja Juli Antoni (kedua kanan), Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto (keempat kiri), Kurator Pembangunan IKN Ridwan Kamil (ketiga kiri), Perancang Istana Garuda IKN Nyoman Nuarta (kanan) saat peresmian Taman Kusuma Bangsa di Ibu Kota Nusantara (IKN), Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Senin (12/8/2024). Taman Kusuma Bangsa dirancang sebagai tempat renungan suci dan penghormatan kepada para pahlawan bangsa. ANTARA FOTO/Fauzan/rwa.
Taman Kusuma Bangsa, IKN, Kalimantan Timur. Foto: ANTARA FOTO/FAUZAN
Samarinda -

Kalimantan Timur menandai perjalanan panjangnya dengan bertambah usia yang ke-69. Peringatan hari jadi ini jatuh pada tanggal 9 Januari 2025.

Sebagai wilayah yang kaya akan sumber daya alam dan keberagaman budaya, Kalimantan Timur menyimpan banyak kisah penting sejak masa kerajaan, kolonial, hingga era modern.

Kalimantan Timur juga menyimpan pesona alam yang menawan, mulai dari hutan tropis, sungai-sungai besar, hingga kawasan pesisir yang menjadi denyut kehidupan masyarakat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sekilas tentang HUT Kalimantan Timur

Logo HUT Ke-69 KaltimLogo HUT Ke-69 Kaltim Foto: Istimewa (dok Pemprov Kaltim)

Dirangkum dari akun instagram resmi Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, @pemprov_kaltim HUT ke-69 Kaltim akan digelar sederhana. Tema HUT ke-69 Provinsi Kaltim adalah 'Kaltim Sukses Menuju Generasi Emas', selaras dengan visi pembangunan Kalimantan Timur di bawah kepemimpinan Gubernur Dr H Rudy Mas'ud (Harum) dan Wakil Gubernur H Seno Aji.

Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-69 Provinsi Kalimantan Timur yang akan digelar pada 9-11 Januari 2026 diproyeksikan menjadi momentum kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat. Peringatan HUT ke-69 Provinsi Kaltim akan dilaksanakan secara sederhana, namun tetap khidmat dan bermakna.

Rangkaian kegiatan diawali dengan penyerahan Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya kepada ASN pada 6 Januari 2026, dilanjutkan gladi kotor dan gladi bersih pada 7 Januari 2026 di Stadion Gelora Kadrie Oening, Samarinda.

Puncak peringatan HUT digelar pada 9 Januari 2026, diawali dengan Upacara Peringatan HUT Kaltim, Sidang Paripurna Istimewa DPRD Kaltim, dirangkai dengan penyerahan penghargaan Arindama dan camat berprestasi, serta pembukaan Pekan Rakyat Kaltim (PRK) 2026. Sejumlah kegiatan hiburan dan lomba turut memeriahkan acara, dengan tausiyah Ustaz Das'ad Latif pada malam penutupan.

Selain agenda resmi, Pesta Rakyat Kaltim (PRK) juga menjadi salah satu kegiatan utama yang akan menghadirkan stan kuliner, wastra dan kriya, serta hiburan di panggung utama yang melibatkan Perangkat Daerah (PD) dan partisipasi masyarakat umum.

Sejarah Kalimantan Timur

Sejumlah Belian menari memutari binyawan saat prosesi Merangin ketiga ritual Adat Kutai di Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara, Tenggarong, Kalimantan Timur, Sabtu (20/9/2025). Prosesi Merangin adalah ritual pendahuluan yang wajib dilaksanakan menjelang Erau yang bertujuan untuk berkomunikasi dengan leluhur dan memberitahukan kepada semua pihak tentang dimulainya rangkaian Erau Adat Kutai. ANTARA FOTO/M Risyal HidayatSejumlah Belian menari memutari binyawan saat prosesi Merangin ketiga ritual Adat Kutai di Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara, Tenggarong, Kalimantan Timur, Sabtu (20/9/2025). Prosesi Merangin adalah ritual pendahuluan yang wajib dilaksanakan menjelang Erau yang bertujuan untuk berkomunikasi dengan leluhur dan memberitahukan kepada semua pihak tentang dimulainya rangkaian Erau Adat Kutai. Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

Dirangkum dari laman Pemprov Kaltim, Provinsi Kalimantan Timur awalnya jarang dihuni dan sebelumnya memiliki beberapa kerajaan. Semua bermula saat pada abad ke-17, Kesultanan Makassar berdagang di sana.

Sebelum masuknya suku-suku dari Sarawak maupun para pendatang dari luar pulau, Kalimantan Timur telah memiliki beberapa kerajaan, di antaranya Kerajaan Kutai, Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura, Kesultanan Pasir, dan Kesultanan Bulungan. Wilayah ini juga disebut sebagai bagian dari daerah taklukan Kesultanan Banjar sejak masa Hindu, sebagaimana tercantum dalam Hikayat Banjar.

Dalam Hikayat Banjar dijelaskan bahwa kawasan Kalimantan Timur (meliputi Pasir, Kutai, Berau, dan Karasikan) merupakan wilayah kekuasaan Kesultanan Banjar sejak era Hindu. Pada paruh pertama abad ke-17, Sultan Makassar disebut meminjam wilayah di bagian timur dan tenggara Kalimantan kepada Sultan Mustain Billah dari Banjar untuk kepentingan perdagangan.

Perubahan besar terjadi pada 13 Agustus 1787, ketika Sultan Tahmidullah II dari Banjar menyerahkan wilayah Kalimantan Timur kepada VOC Belanda. Sejak saat itu, sisa wilayah Kesultanan Banjar berstatus sebagai daerah protektorat VOC. Penyerahan ini kembali ditegaskan melalui Traktat 1 Januari 1817, saat Sultan Sulaiman menyerahkan Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, sebagian Kalimantan Barat, serta sebagian Kalimantan Selatan kepada pemerintahan Hindia Belanda.

Pada 4 Mei 1826, Sultan Adam al-Watsiq Billah kembali mengukuhkan penyerahan wilayah-wilayah tersebut kepada pemerintah kolonial. Selanjutnya, pada tahun 1846, Belanda mulai menempatkan Asisten Residen di Samarinda untuk mengelola wilayah Borneo Timur, yang kini mencakup Provinsi Kalimantan Timur dan sebagian wilayah Kalimantan Selatan.

Pemerintah membangun jalan perbatasan negara di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Jalan tersebut dibangun meliuk tembus hutan lebat, yuk intip proyeknya.Pemerintah membangun jalan perbatasan negara di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Jalan tersebut dibangun meliuk tembus hutan lebat. Foto: Dok. Kementrian PUPR

Kalimantan Timur tidak hanya dipandang sebagai satuan administrasi, tetapi juga sebagai satu kesatuan ekologis dan historis. Secara administratif, provinsi ini resmi dibentuk melalui Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1956, dengan APT Pranoto sebagai gubernur pertamanya.

Sebelum berdiri sebagai provinsi sendiri, Kalimantan Timur merupakan salah satu karesidenan dalam Provinsi Kalimantan. Seiring aspirasi masyarakat, pada tahun 1956 wilayah Kalimantan dimekarkan menjadi tiga provinsi, yakni Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat.

Pembentukan daerah tingkat II di Kalimantan Timur ditetapkan melalui Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1959. Berdasarkan Lembaran Negara Nomor 72 Tahun 1959, dibentuk dua kotamadya, yaitu Kotamadya Samarinda sebagai ibu kota provinsi, serta Kotamadya Balikpapan yang berperan sebagai pintu gerbang Kalimantan Timur. Selain itu, dibentuk pula empat kabupaten, yakni Kabupaten Kutai (Tenggarong), Kabupaten Pasir (Tanah Grogot), Kabupaten Berau (Tanjung Redeb), dan Kabupaten Bulungan (Tanjung Selor).

Perkembangan wilayah terus berlanjut. Melalui Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1981, Kota Administratif Bontang dibentuk di wilayah Kabupaten Kutai, disusul pembentukan Kotamadya Tarakan pada tahun 1989 di wilayah Kabupaten Bulungan. Seiring penerapan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah, Kalimantan Timur kembali mengalami pemekaran dengan terbentuknya Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Kutai Timur, Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan, serta peningkatan status Kota Bontang menjadi kotamadya.

Pada tahun 2002, Kabupaten Pasir dimekarkan menjadi Kabupaten Penajam Paser Utara. Selanjutnya, pada 17 Juli 2007, DPR RI menyetujui pembentukan Kabupaten Tana Tidung sebagai daerah otonom baru, sehingga jumlah kabupaten/kota di Kalimantan Timur menjadi 14 wilayah. Pada tahun yang sama, nama Kabupaten Pasir resmi berubah menjadi Kabupaten Paser.

Pemekaran kembali terjadi pada tahun 2012 dengan lahirnya Provinsi Kalimantan Utara berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2012. Lima daerah (Kota Tarakan, Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Tana Tidung, dan Kabupaten Bulungan) bergabung ke provinsi baru tersebut, sehingga jumlah kabupaten/kota di Kalimantan Timur berkurang menjadi sembilan.

Terakhir, pada tahun 2013, wilayah Kabupaten Kutai Barat dimekarkan dan melahirkan Kabupaten Mahakam Ulu sebagai kabupaten termuda di Kalimantan Timur. Dengan pemekaran ini, Provinsi Kalimantan Timur kini memiliki total 10 kabupaten dan kota.

Pesona dan Ikon Kalimantan Timur

Pengunjung beraktivitas di halaman Masjid Islamic Center Samarinda di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Sabtu (9/3/2019). Masjid yang memiliki tujuh menara ini merupakan masjid termegah dan terbesar di Asia Tenggara setelah masjid Istiqlal. ANTARA FOTO/Rony Muharrman/hp.Pengunjung beraktivitas di halaman Masjid Islamic Center Samarinda di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Sabtu (9/3/2019). Masjid yang memiliki tujuh menara ini merupakan masjid termegah dan terbesar di Asia Tenggara setelah masjid Istiqlal. ANTARA FOTO/Rony Muharrman/hp. Foto: ANTARA FOTO/Rony Muharrman

Kalimantan Timur merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki sejarah yang panjang dan kaya. Wilayah ini telah dihuni manusia sejak zaman prasejarah dan telah menjadi saksi berdirinya berbagai kerajaan kuno.

Wilayah Kalimantan Timur telah dihuni manusia sejak zaman prasejarah. Hal ini dibuktikan dengan penemuan berbagai artefak dan fosil manusia purba di wilayah ini.

Salah satu penemuan terpenting dari periode prasejarah Kalimantan Timur adalah penemuan fosil manusia purba di Gua Niah, Kabupaten Bulungan. Fosil ini diperkirakan berusia sekitar 40.000 tahun.

Kalimantan Timur adalah provinsi yang memiliki sejarah pemerintahan pertama di Indonesia. Kerajaan pertama di Indonesia, tercatat dalam sejarah berada di Kalimantan Timur dengan nama Kerjaan Kutai dengan raja pertamanya, Kudungga.

Sejarah ini tertuang dalam tujuh prasasti yupa yang ditemukan di Muara Kaman, Kutai Kartanegara. Selain itu, di abad ini pula membuktikan kebesaran bangsa Indonesia mengenal literasi dan keluar dari zaman pra sejarah.

Hal ini dibuktikan dengan prasasti tujuh yupa dalam huruf palawa mencatatkan kebesaran Sang Maha Raja Mulawarman telah mengurbankan 20 ribu ekor sapi. Sejarah lainnya, ditemukan peradaban tua manusia tinggal di dalam gua (tapak tangan) yang ada di Kutai Timur yang usianya ratusan ribu tahun.

Sejarawan Muhammad Sarip mengamati Batu Yupa, prasasti Kutai. (Dok Pribadi M Sarip)Sejarawan Muhammad Sarip mengamati Batu Yupa, prasasti Kutai. (Dok Pribadi M Sarip)

Setelah melalui sejarah panjang, Kalimantan Timur menjadi bagian dari Indonesia setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. Wilayah ini kemudian menjadi provinsi pada tahun 1956.

Provinsi dengan luas 127.346,92 km² ini sekarang menjadi wilayah dengan kepadatan penduduk terendah keempat di Indonesia. Kalimantan Timur berbatasan dengan Sarawak (Malaysia Timur), kemudian Kalimantan Utara, Ibu Kota Nusantara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Sulawesi.

Saat ini, Gubernur Kalimantan Timur adalah Rudy Mas'ud didampingi wakilnya, Seno Aji yang menjabat sejak 20 Februari 2025. Ibu kota Kaltim adalah Samarinda.

Di wilayah Kaltim, tengah dibangun Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai ibu kota baru Indonesia. Kota ini direncanakan menggantikan Jakarta sebagai ibu kota negara untuk mengurangi tekanan beban yang semakin berat.

Kalimantan Timur memiliki potensi yang besar, baik di bidang ekonomi, pariwisata, maupun budaya. Wilayah ini merupakan penghasil minyak dan gas bumi terbesar di Indonesia.

Provinsi Kalimantan Timur merupakan salah satu provinsi di Pulau Kalimantan yang memiliki potensi sumber daya alam (SDA) melimpah. Hasil SDA Kaltim sebagian besar diekspor keluar negeri, sehingga provinsi ini merupakan penghasil devisa utama bagi negara. Khususnya dari sektor pertambangan, kehutanan, dan hasil lainnya.

Selain itu, Kalimantan Timur juga memiliki berbagai objek wisata alam yang indah, seperti Taman Nasional Kutai, Taman Nasional Gunung Leuser, dan Taman Nasional Kayan Mentarang. Kalimantan Timur juga memiliki kekayaan budaya yang beragam. Wilayah ini merupakan rumah bagi berbagai suku bangsa, seperti Dayak, Banjar, Bugis, dan Melayu.

Halaman 2 dari 3
(aau/aau)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads