Kenapa keluarga di Indonesia suka baju Lebaran seragam? Pertanyaan tersebut membawa Deden Siswanto ke masa awal di mana ia memulai karier di industri mode sebagai penjahit pada era 1990-an.
Waktu itu, perancang yang identik dengan busana kontemporer berbahan wastra ini kerap diminta istri-istri pegawai negeri untuk menjahit batik sehingga menjadi pakaian 'couple' yang dikenal dengan istilah 'sarimbit'.
"Biasanya si istri pakai kebaya dengan bawahan batik yang sama seperti kemeja suami. Dari tren sarimbit yang mulai populer pada akhir 80-an itu, terbentuklah budaya keluarga berseragam untuk hari-hari besar keagamaan, khususnya Idul Fitri di Indonesia," kata anggota Indonesian Fashion Chamber itu kepada Wolipop baru-baru ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya ayah dan ibu, tapi juga anak-anak memakai busana yang sama dengan orang tuanya. Permintaan pasar sangat tinggi, terutama menjelang Lebaran.
Tawaran koleksi busana seragam pun mudah ditemui di tempat-tempat seperti Pasar Tanah Abang hingga butik dan katalog desainer ternama. Bahkan brand internasional seperti adidas juga menyertakan foto keluarga kompak memakai busana sporty senada dalam materi promo Lebaran tahun ini.
Dalam fashion show busana muslim satu dekade belakangan, penampilan sepasang model pria dan wanita dewasa serta 2-3 anak yang memakai busana seragam hampir tak pernah absen. Contoh-contoh di atas cukup untuk menunjukkan betapa eratnya konsep berseragam dalam pakaian hari raya di Indonesia.
Ia juga mengakomodasi kebutuhan tersebut lewat lini keduanya, MYMD (My Mom & Dad). Berdasarkan pengamatannya, terjadi pergesaran tren dalam berbusana seragam.
"Sekarang, seragamnya nggak harus seperti kembaran. Misal warna bajunya tetap sama, tapi desain dibedakan. Namun, baju seragam kembar masih diminati. Tidak ada yang salah, selama sesuai dengan selera dan kebutuhan," kata desainer yang berbasis di Bandung, Jawa Barat itu.
Baca selengkapnya di sini.
