Sunah tentang Baju Lebaran dan Kisah Cucu Rasulullah

Sunah tentang Baju Lebaran dan Kisah Cucu Rasulullah

Bayu Ardi Isnanto - detikKalimantan
Selasa, 17 Mar 2026 08:00 WIB
Baju Lebaran Couple Keluarga
Ilustrasi baju Lebaran keluarga/Foto: Dok. Brand
Balikpapan -

Memakai baju Lebaran sudah menjadi tradisi di Indonesia. Di akhir Ramadan seperti ini, banyak orang yang mulai membeli baju baru untuk dipakai saat Lebaran nanti.

Namun apakah hal tersebut sesuai dengan sunah Nabi Muhammad? Simak artikel ini untuk mengetahui bagaimana sunahnya dan ketahui kisah tentang baju Lebaran cucu Rasulullah.

Hadis tentang Baju Lebaran

Terdapat sejumlah hadis yang menjelaskan tentang anjuran memakai baju Lebaran. Berikut beberapa poin di antaranya:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Memakai Pakaian Terbaik

Dikutip dari situs MUI Jatim, sahabat Nabi yang Bernama Ibnu Umar memakai pakaian terbaik saat hari raya, begitu juga dengan Imam Syafi'i.

ΨΉΩŽΩ†Ω Ψ§Ω„Ω’Ψ­ΩŽΨ³ΩŽΩ†Ω بْنِ ΨΉΩŽΩ„ΩΩŠΩ‘Ω Ω‚ΩŽΨ§Ω„ΩŽ: Ψ£ΩŽΩ…ΩŽΨ±ΩŽΩ†ΩŽΨ§ Ψ±ΩŽΨ³ΩΩˆΩ’Ω„Ω اللهِ Ψ΅ΩŽΩ„Ω‘ΩŽΩ‰ اللهُ ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩŠΩ’Ω‡Ω ΩˆΩŽΨ³ΩŽΩ„Ω‘ΩŽΩ…ΩŽ ΩΩΩŠΩ’ Ψ§Ω„Ω’ΨΉΩΩŠΩ’Ψ―ΩŽΩŠΩ’Ω†Ω Ψ£ΩŽΩ†Ω’ Ω†ΩŽΩ„Ω’Ψ¨ΩΨ³ΩŽ Ψ£ΩŽΨ¬Ω’ΩˆΩŽΨ―ΩŽ Ω…ΩŽΨ§ Ω†ΩŽΨ¬ΩΨ―Ω. Ψ±ΩˆΨ§Ω‡ Ψ§Ω„Ψ¨ΩŠΩ‡Ω‚ΩŠ ΩˆΨ§Ω„Ψ­Ψ§ΩƒΩ…

Artinya: "Diceritakan dari Al-Hasan bin Ali, ia berkata, 'Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallam telah memerintahkan kami pada Idul Adha dan Idul Fitri agar memakai pakaian terbaik yang kami temukan," (HR Al-Baihaqi dan Al-Hakim).

2. Berhias dan Pakai Wewangian

Berdasarkan situs Muhammadiyah, disebutkan bahwa Rasulullah selalu mengenakan pakaian bagus saat hari raya, berhias, dan memakai wangi-wangian.

ΨΉΩŽΩ†Ω’ Ψ¬ΩŽΨΉΩ’ΩΩŽΨ±Ω بْنِ Ω…ΩΨ­ΩŽΩ…ΩŽΩ‘Ψ―Ω ΨΉΩŽΩ†Ω’ Ψ£ΩŽΨ¨ΩΩŠΩ’Ω‡Ω ΨΉΩŽΩ†Ω’ Ψ¬ΩŽΨ―ΩΩ‘Ω‡Ω Ψ£ΩŽΩ†ΩŽΩ‘ Ψ§Ω„Ω†ΩŽΩ‘Ψ¨ΩΩŠΩΩ‘ Ψ΅ΩŽΩ„ΩŽΩ‘Ω‰ اللهُ ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩŠΩ’Ω‡Ω ΩˆΩŽΨ³ΩŽΩ„ΩŽΩ‘Ω…ΩŽ ΩƒΨ§ΩŽΩ†ΩŽ ΩŠΩŽΩ„Ω’Ψ¨ΩŽΨ³Ω Ψ¨ΩΨ±Ω’Ψ―ΩŽ حِبَرَةٍ ΩΩΩŠΩ’ كُلِّ ΨΉΩΩŠΩ’Ψ―Ω. [Ψ±ΩˆΨ§Ω‡ Ψ§Ω„Ψ΄Ψ§ΩΨΉΩŠ في Ψ§Ω„Ω…Ψ³Ω†Ψ―ΨŒ Ψ¬Ω€ 1: 152، حديث Ψ±Ω‚Ω… 441]

"Dari Ja'far Ibnu Muhammad, dari ayahnya, dari kakeknya (dilaporkan) bahwa Nabi saw selalu memakai wool (burdah) bercorak [buatan Yaman] pada setiap Id." [HR. asy-Syafi'i dalam kitabnya al-Musnad, I:152, hadis nomor 441].

3. Pakaian untuk Perempuan

Dari situs Kemenag, dijelaskan bahwa perempuan juga disunahkan mengenakan pakaian terbaik. Namun perempuan tetap harus memperhatikan batas-batas syariat, seperti tidak membuka aurat, tidak mempertontonkan penampilan yang memikat laki-laki lain yang bukan mahramnya.

4. Tidak Harus Baru dan Putih

Dilansir dari NU Online, Syekh Sa'id bin Muhammad Ba'asyin dalam kitab Busyral Karim memberi penjelasan sebagai berikut:

"Seseorang dianjurkan mengenakan wewangian dan berhias sebagaimana keterangan telah lalu pada bab Jumat. Tetapi di sini seseorang dianjurkan mengenakan pakaian terbaiknya meskipun bukan warna putih. Tetapi ketika pakaian putih dan bukan berwarna putih sama baiknya, maka mengenakan pakaian putih lebih utama di hari Id. Hari Id berbeda dengan hari Jumat. Maksud hari Id adalah menampakkan nikmat Allah. Karenanya mengenakan pakaian terbaik itu lebih utama. Sedangkan tujuan hari Jumat adalah menampakkan kesempurnaan karena itu mengenakan pakaian putih itu yang terbaik. Tetapi orang yang duduk (tidak keluar rumah untuk sembahyang Id) dan orang yang keluar menuju sembahyang Id juga dianjurkan untuk mandi, berhias, dan mengenakan wewangian."

Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Ustadz Alhafiz Kurniawan menyimpulkan bahwa yang dianjurkan adalah pakaian terbaik, sehingga tidak harus baju baru.

Selain itu, ada anjuran mengenakan baju putih. Namun warna pakaian lain juga diperbolehkan dan dinilai sama-sama baik.

Kisah Baju Lebaran Hasan dan Husein

Mengenai baju Lebaran, ada juga kisah menarik tentang cucu Rasulullah, yaitu Hasan dan Husein. Dikutip dari buku Jangan Terlalu Berlebihan dalam Beribadah hingga Melupakan Hak-hak Tubuh yang disusun Nur Hasan, berikut kisahnya:

Menjelang Lebaran, anak-anak di Madinah bersuka cita dengan pakaian baru mereka. Hasan dan Husein yang mendambakan hal serupa pun menanyakan baju baru kepada sang ibu, Sayyidah Fatimah.

Karena hidup bersahaja dan tidak memiliki uang, Fatimah berusaha menenangkan mereka dengan berkata, "Baju kalian masih di tukang jahit." Namun, karena baju tak kunjung tiba, kedua putranya terus bertanya hingga membuat Fatimah menangis karena sedih tidak bisa membahagiakan mereka.

Di tengah tangisnya, terdengar ketukan pintu. Seseorang yang mengaku sebagai tukang jahit datang mengantarkan bingkisan. Saat dibuka, ternyata isinya adalah dua set pakaian lengkap dan indah, yaitu gamis, celana, mantel, sorban, hingga sepatu. Hasan dan Husein pun memakainya dengan sangat gembira, meski Fatimah masih kebingungan siapa dermawan tersebut.

Tak lama kemudian, Rasulullah SAW datang dan langsung memeluk hangat kedua cucunya yang sudah berpakaian rapi. Beliau kemudian menatap Fatimah dan menyingkap rahasia di balik bingkisan itu.

"Duhai putriku, dia bukanlah tukang jahit, melainkan Malaikat Ridwan sang penjaga pintu surga."

Mendengar penjelasan sang ayah, Fatimah terkesiap haru dan tak henti-hentinya memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT atas karunia-Nya.

Halaman 2 dari 2
(bai/sun)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads