Selain dikenal sebagai kota industri, Balikpapan juga merupakan rumah bagi beragam suku dari seluruh penjuru Indonesia. Berbagai suku pendatang mendiami Balikpapan, dengan suku yang mendominasi adalah Jawa dan Bugis.
Suku Bugis adalah salah satu yang terbesar di Kota Minyak. Jika ditelusuri, suku ini bermigrasi pada 1970-an saat perkembangan industri minyak di Balikpapan mulai tumbuh pesat.
Hingga saat ini, masyarakat Bugis di Balikpapan terus menjaga tradisi yang telah diturunkan turun-menurun, salah satunya adalah tradisi Bebuang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara bahasa, kata Bebuang berarti membuang atau menghanyutkan. Dalam budaya Bugis di Balikpapan, Upacara Bebuang adalah sebuah ritual di mana anggota keluarga membawa sesaji atau persembahan dan menghanyutkannya ke laut atau perairan sebagai bentuk penghormatan kepada nenek moyang mereka.
Ritual ini biasanya dilakukan di tepi pantai, dermaga, atau pelabuhan yang diyakini sebagai batas antara dunia manusia dan alam roh.
Asal-usul dan Latar Belakang Tradisi Bebuang
Upacara Bebuang merupakan tradisi yang turun-temurun diwariskan oleh masyarakat Bugis yang bermigrasi ke Balikpapan. Kala itu, banyak orang Bugis yang awalnya datang ke Balikpapan seiring dengan meningkatnya permintaan tenaga kerja di industri perminyakan pada era 1960-an.
Dalam kepercayaan yang dianut masyarakat Bugis, leluhur mereka memiliki hubungan spiritual yang kuat dengan alam, termasuk keyakinan bahwa nenek moyang tertentu memiliki wujud menyerupai buaya.
Hewan ini diperlakukan hormat dan bebuang adalah salah satu cara yang ditujukan sebagai bentuk penghormatan kepda leluhur mereka.
Waktu dan Rangkaian Ritual Bebuang
Melansir dari buku Islam Kawasan Kalimantan, tidak ada tanggal tertentu untuk melaksanakan Upacara Bebuang. Biasanya dilakukan menjelang atau ketika dalam momen penting kehidupan keluarga, seperti menjelang tujuh bulan kehamilan, pernikahan, atau melahirkan.
Beberapa lokasi di Balikpapan yang dipilih antara lain adalah Pantai Monpera (Monumen Perjuangan Rakyat), Pantai Manggar, atau Pantai Lamaru.
Proses utama upacara Bebuang dimulai dari persiapan sesaji, yaitu anggota keluarga menyiapkan sesaji dalam bentuk makanan seperti:
- Ketan kuning, ketan putih, ketan hitam
- Pisang
- Ayam putih
- Telur
- Rokok
- Lilin
- Uang logam
- Buaya kecil yang terbuat dari tepung
Semua persembahan di atas ditata rapi di atas nampan berbahan batang dan daun pisang yang menyerupai perahu.
Setelah persembahan siap, selanjutnya keluarga akan mengenakan pakaian adat Bugis dan berjalan menuju pantai atau dermaga yang diyakini sebagai tempat perlintasan roh leluhur mereka.
Di tepi laut atau sungai, para keluarga bersama-sama membaca doa. Tidak ada doa khusus yang harus dibaca, tergantung tujuan dari upacara bebuang yang dilakukan saat itu.
Setelah membacakan doa, persembahan tersebut dihanyutkan ke laut. Ritual ini dilakukan dengan keyakinan bahwa sesaji akan dibawa oleh laut sebagai simbol pemberian hormat kepada leluhur.
Setelah dihanyutkan, biasanya ada seseorang yang berenang mengambil beberapa benda dari sesaji seperti telur, pisang, ayam, dan uang, sementara yang lain akan terus mengikuti arus sementara sebagai bagian dari prosesi ritual.
Makna dan Filosofi Tradisi Bebuang
Upacara Bebuang mengandung nilai budaya yang kuat, di antaranya adalah sebagai penghormatan pada leluhur, terutama mereka yang diyakini memiliki hubungan khusus dengan perairan.
Dalam pelaksanaannya, keluarga memohon perlindungan, keselamatan, dan keberkahan dari kekuatan spiritual nenek moyang, yang menandakan kepercayaan akan harapan dan perlindungan bukan hanya dari sesama manusia.
Melalui ritual ini juga menjadi penanda identitas suku Bugis di Balikpapan yang menjaga tradisi asal mereka. Karena biasanya dilakukan bersama satu keluarga, upacara Bebuang tentu memperkuat solidaritas keluarga, terutama saat menghadapi fase besar dalam kehidupan seperti pernikahan dan kelahiran.
Itulah dia sekilas tentang tradisi Bebuang yang hidup di tengah masyarakat Bugis Balikpapan.
Simak Video "Video Trump: Iran Sedang Negosiasi Perang tapi Takut Mengatakannya"
[Gambas:Video 20detik]
(sun/bai)
