Kalau mendengar kata 'anjir', apa yang langsung muncul di benak detikers? Bagi sebagian orang seperti di Jakarta Selatan (Jaksel) misalnya, kata ini dipahami sebagai umpatan dalam bahasa gaul, bisa juga refleks atau ekspresi kaget.
Tapi tunggu dulu! Bagaimana kalau ternyata 'anjir' itu nama daerah? Bukan cuma satu, tapi banyak. Iya, detikers tidak salah dengar. Di Kalimantan Selatan, tepatnya di Kabupaten Barito Kuala, ada wilayah yang namanya benar-benar diawali dengan kata 'anjir'. Bahkan ada dua kecamatan, yaitu Anjir Muara dan Anjir Pasar, ditambah sejumlah desa yang juga memakai nama anjir.
Mungkin fakta tersebut membuat detikers berpikir, apakah memang boleh menggunakan nama daerah dengan kata itu? Atau jadi penasaran itu maksudnya apa?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nah, di sinilah ceritanya jadi menarik. Bagi masyarakat setempat, 'anjir' sama sekali tidak punya konotasi kasar. Kata ini justru merepresentasikan air, sungai, dan cara hidup orang Banjar.
Penasaran apa arti yang sebenarnya? Simak penjelasan yang telah detikKalimantan rangkum berikut ini.
Arti Kata 'Anjir' dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Banjar
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), 'anjir' berarti terusan; saluran (air); kanal. Seperti kanal yang dibuat untuk mengalirkan air atau menghubungkan dua alur air.
Dalam KBBI juga disebutkan 'anjir' adalah kata benda yang merujuk pada saluran air atau kanal yang mungkin sudah tidak dapat dilewati perahu besar lagi. Dengan kata lain, struktur air tersebut dibuat untuk keperluan tertentu seperti irigasi atau pengendalian laju alir.
Kemudian dalam bahasa Banjar, istilah 'anjir' juga merujuk pada kanal atau terusan yang menghubungkan dua sungai atau jalur air utama. Sesuai dengan pengertian masyarakat Banjar yang mengenal beberapa jenis kanal seperti anjir, handil, dan saka, di mana masing-masing dengan fungsi berbeda dalam sistem pengelolaan air di lahan basah.
Meskipun dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia sering menggunakan kata 'anjir' sebagai umpatan, artinya dalam KBBI dan bahasa Banjar sangat berbeda. Arti 'anjir' yang ada di KBBI dan dalam bahasa Banjar merujuk pada air dan sistem kanal.
Itulah yang menjadi dasar mengapa banyak wilayah di Barito Kuala dimulai dengan nama 'Anjir', karena pada masa lalu kanal seperti itu adalah bagian dari kehidupan, jalur transportasi, hingga sistem irigasi di daerah lahan basah.
Anjir Muara dan Anjir Pasar di Barito Kuala
Penggunaan kata 'anjir' dalam nama wilayah di Kabupaten Barito Kuala berakar dari kondisi geografis dan cara hidup masyarakat Banjar yang sejak lama bergantung pada sungai dan kanal. Dua kecamatan yang paling dikenal adalah Anjir Muara dan Anjir Pasar, di mana keduanya punya fungsi dan sejarah yang berbeda.
1. Anjir Muara
Nama Anjir Muara merujuk pada letaknya yang berada di ujung atau pertemuan jalur air, dekat dengan aliran sungai besar, yaitu Sungai Barito. Dalam tradisi Banjar, muara menandakan wilayah strategis, tempat kanal (anjir) bertemu sungai utamanya.
Sejak dulu, kawasan Anjir Muara berfungsi sebagai pintu masuk jalur air menuju pedalaman. Perahu dari sungai besar masuk ke kanal, lalu menyebar ke kampung-kampung rawa di sekitarnya.
Nah, di sinilah mulai banyak aktivitas, mulai dari pengangkutan hasil hutan, pertanian, dan kebutuhan sehari-hari membuat wilayah ini ramai oleh lalu lintas air. Anjir Muara berkembang sebagai daerah transit dan penghubung penting dalam jaringan sungai di Barito Kuala.
2. Anjir Pasar
Sementara itu, Anjir Pasar terletak di lokasi yang berbeda. Seperti namanya, kawasan ini sejak lama dikenal sebagai pusat aktivitas jual beli. Kanal atau anjir di wilayah ini digunakan bukan hanya sebagai jalur transportasi, tapi juga tempat bertemu dan berkumpulnya masyarakat setempat.
Pasar tradisional berkembang di tepian anjir karena mudah diakses dari berbagai arah. Warga dari desa-desa sekitar bisa datang menggunakan jukung (perahu) sambil membawa ikan hasil tangkap, hasil kebun, padi, atau kebutuhan rumah tangga untuk dijual.
Selain diartikan sebagai kanal, anjir di sini memiliki fungsi lain, yaitu sebagai tempat bertemunya para warga untuk berdagang.
Desa Anjir di Barito Kuala
Selain dua kecamatan tersebut, kata 'anjir' juga muncul dalam sejumlah nama desa di Kabupaten Barito Kuala. Keberadaan nama-nama itu bisa jadi bukti bahwa 'anjir' memang memiliki makna lain, bukan umpatan yang sering diartikan.
Di wilayah Kecamatan Anjir Muara misalnya, terdapat desa-desa seperti Anjir Muara Kota, Anjir Muara Lama, dan Anjir Muara Baru. Penamaan ini biasanya berkaitan dengan perkembangan permukiman dari waktu ke waktu.
Desa yang memakai embel-embel 'Lama' umumnya merujuk pada permukiman awal di sepanjang kanal, sementara 'Baru' berarti merupakan perluasan wilayah seiring bertambahnya penduduk setempat.
Di lain sisi, Anjir Muara Kota berkembang sebagai pusat administrasi di kecamatan tersebut. Hal serupa juga terlihat di Kecamatan Anjir Pasar. Di kawasan ini dikenal desa-desa seperti Anjir Pasar Kota dan Anjir Pasar Lama.
Nah, itulah arti anjir pada nama beberapa daerah di Barito Kuala. Sekarang sudah tau artinya, jangan lupa berkunjung ke kecamatan dan desa 'anjir' di Barito Kuala!
Simak Video "Mengisi Tenaga dengan Hidangan Lezat di Banjarmasin"
[Gambas:Video 20detik] (sun/des)
