Kisah tentang Ular Lembu di Sungai Mahakam masih hidup dalam tradisi lisan warga Samarinda. Meski banyak yang menganggapnya sebagai mitos, berbagai kesaksian warga sepanjang Mahakam diwariskan hingga sekarang.
Tradisi lisan itu salah satunya diwarisi Inui Nurhikmah (kelahiran 1968) dari ayahnya, Anang Sulaiman bin Anang Atjil (1926-2002). Dalam cerita keluarga tersebut, Ular Lembu diyakini bersemayam di kawasan Teluk Lerong, Samarinda, dan kerap menampakkan diri kepada nelayan atau penumpang perahu saat senja.
Ular Lembu digambarkan bukan sebagai predator, melainkan makhluk penjaga sungai. Kehadirannya dimaknai sebagai pengingat agar manusia menjaga tutur kata, bersikap sopan, dan tidak mengotori sungai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya ketika kecil sering mendengar cerita tentang Ular Lembu dari bapak saya. Beliau sering hilir mudik di Sungai Mahakam. Bapak saya memang tidak pernah bertemu langsung, tapi beliau meyakini Ular Lembu itu ada," ujar Inui Nurhikmah, dikutip dari kajian Muhammad Sarip, peneliti sejarah Kalimantan Timur..
Menurut cerita sang ayah, kawasan Teluk Lerong disebut memiliki terowongan di dasar sungai yang menjadi tempat bersarang Ular Lembu, dengan diameter sebesar perahu. Cerita itu telah berkembang jauh sebelum isu terowongan Teluk Lerong ramai diberitakan pada 2015.
"Cerita ini sekarang makin hilang dan tidak lagi terwariskan ke anak-anak," katanya.
Pandangan berbeda berkembang di wilayah Kutai Kartanegara. Sebagian masyarakat di daerah tersebut meyakini Ular Lembu bersifat antagonis dan dikaitkan dengan peristiwa rumah di bantaran Sungai Mahakam yang ambrol, seolah ditarik dari bawah sungai.
Sementara itu, Hamdani, warga Samarinda yang berprofesi sebagai seniman, menuturkan cerita lain yang ia dengar dari kisah lama.
"Ada peristiwa tahun 1950-an. Letkol Totok Wahyu pernah melihat ular yang sangat panjang. Dia mencium bau amis, lalu muncul ular besar seperti naga," ujar Hamdani.
Menurut Hamdani, legenda tentang ular naga, Ular Lembu, atau lembuswana hidup dalam berbagai versi di masyarakat dan diyakini telah berusia ratusan tahun.
Kesaksian lain disampaikan Irwan Darmansyah alias Wawan Timor, seniman teater Samarinda. Ia mengaku memiliki beberapa versi cerita Ular Lembu yang berkembang di kawasan Teluk Lerong hingga Embalut.
"Saya punya kawan yang hobi memancing. Suatu malam, dia melihat seperti kapal cepat, tapi tenggelam. Sejak itu dia tidak mau memancing di sana lagi. Mungkin itu yang dimaksud Ular Lembu," tuturnya.
Wawan Timor juga menceritakan pengalaman pamannya di wilayah Embalut, di mana kapal dagang selalu menghindari jalur tertentu meski air sedang pasang. Fenomena itu dipercaya berkaitan dengan keberadaan Ular Lembu.
"Katanya, di sana tidak boleh lewat sembarangan. Walaupun pasang, bisa kandas," katanya.
Menurut Sarip yang mengkaji kisah Ular Lembu, cerita-cerita ini tidak dimaksudkan sebagai kisah horor, melainkan sebagai cara masyarakat sungai menanamkan kewaspadaan.
"Cerita Ular Lembu bagi warga lebih sebagai nasihat. Sungai itu kuat, tidak bisa diperlakukan sembarangan," tulis Sarip.
Dalam kesaksian warga, Ular Lembu juga tidak digambarkan sebagai sosok jahat. Justru ia dipahami sebagai simbol kekuatan alam yang menjaga keseimbangan sungai.
Orang tua kerap menggunakan cerita ini untuk mengingatkan anak-anak agar tidak bermain air sembarangan dan selalu menjaga sikap saat berada di sungai.
Sarip menegaskan, pengalaman-pengalaman warga tersebut perlu dibaca sebagai ingatan kolektif masyarakat Mahakam. Bukan sebagai bukti biologis keberadaan makhluk tertentu.
"Cerita warga adalah bagian dari pengetahuan lokal yang tumbuh dari interaksi panjang dengan alam," tulisnya.
Hingga kini, cerita tentang Ular Lembu masih bertahan di kalangan masyarakat sungai. Bagi warga Mahakam, kisah itu menjadi pengingat bahwa sungai bukan sekadar jalur air, tetapi ruang hidup yang memiliki aturan dan etika.
