Muncul tren menarik di mana anak-anak muda lebih memilih tinggal di hotel daripada menyewa atau membeli rumah. Pilihan tersebut diambil karena harga rumah yang terus naik.
Fenomena ini terjadi di China. Dikutip detikProperti dari Oddity Central, anak-anak muda di sana berusaha mengatasi krisis tempat tinggal akibat harga sewa rumah yang semakin mencekik dengan cara tinggal di hotel dalam jangka waktu lama. Sebab, menurut mereka, biaya tinggal di hotel justru lebih murah.
Mereka tidak perlu membayar utilitas seperti listrik dan air, biaya yang biasanya muncul ketika menyewa atau memiliki rumah. Selain itu, anak-anak muda ini menyebut tinggal di hotel mengurangi risiko gesekan dengan tetangga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alternatif ini menjadi pilihan yang menarik bagi anak muda di China, terutama mereka yang enggan menempati hunian penuh masalah dan drama. Bagi anak-anak muda tersebut, ketenangan adalah prioritas utama dalam mencari hunian. Dan kelebihan tersebut bisa didapatkan di hotel.
"Untuk seseorang yang punya masalah sosial seperti saya, berhubungan dengan tuan tanah atau pemilik rumah adalah bagian terburuk. Itu mimpi buruk," ujar Hu Weiwei yang bekerja sebagai gamer profesional.
Hu menilai tinggal di hotel justru lebih efisien dibandingkan tinggal di rumah sewa. Salah satunya karena ada layanan kebersihan hotel yang membuatnya tidak harus membersihkan kamar sendiri. Dia juga tidak merasa bersalah meski terus-menerus menyalakan AC.
"Secara biaya tinggal di hotel lebih efisien. Tak ada deposit, tak ada biaya perantara dan utilitas. Aku tak harus membersihkan kamar, AC bisa nyala 24 jam dan dekat dengan toko, restoran juga stasiun kereta," bebernya.
Sebelumnya, Hu sempat tinggal di apartemen bersama temannya. Hu harus membayar 1.000 yuan atau sekitar Rp 2,4 juta per bulan (kurs Rp 2.469). Jika tinggal sendirian, biayanya bisa jadi lebih mahal, yakni mencapai 2.000-3.000 yuan atau Rp 4,9-7,4 jutaan per bulan.
Bagaimana dengan tinggal di hotel? Hu mengaku mengeluarkan biaya 2.500 yuan per bulan atau setara Rp 6,1 juta. Sekilas, jumlahnya mungkin lebih mahal daripada menyewa apartemen bersama teman maupun sendiri. Namun, biaya hotel itu sudah termasuk berbagai fasilitas yang tersedia di dalamnya.
Tang Miaomiao juga mengaku lebih nyaman tinggal di hotel karena pelayanannya yang ramah. Tinggal di hotel juga lebih fleksibel secara waktu. Tang bisa menyewa dalam jangka waktu pendek maupun panjang. Sedangkan kalau menyewa rumah, biasanya ada jangka waktu minimal untuk sewa, misalnya sebulan.
"Bila menyewa tempat tinggal biasa, kita harus membayar sewa sebulan penuh dan biaya agensi. Itu nggak sepadan dengan masa inap jangka pendek. Bila di hotel, saya dilayani dengan baik dengan keramahtamahan para pelayannya. Mereka juga ingat sarapan apa yang saya suka," cerita Tang.
Tinggal di hotel alih-alih sewa rumah juga semakin banyak diikuti anak muda karena tersedianya hotel bujet. Profesor madya pariwisata dari Universitas Fudan Shanghai, Wu Ben, mengatakan bahwa tren ini kemungkinan bermula saat pandemi Covid-19.
Saat itu, banyak bisnis hotel menyesuaikan model bisnis mereka dan menerima penghuni jangka panjang. Sebab, mereka tidak bisa lagi mengandalkan wisatawan yang biasanya menginap dalam waktu singkat.
"Selama pembatasan mobilitas, hotel bujet menjadi sangat terjangkau, seringkali lebih murah daripada apartemen tradisional," ujar Wu.
Tren menginap dalam jangka waktu lama juga disambut baik oleh industri perhotelan di China. Menurut Wu, mereka yang menginap lebih lama cenderung lebih santai soal maintenance dan tidak terlalu banyak permintaan.
"Untuk hotel, secara operasional, tamu yang menginap dalam jangka panjang adalah tamu yang ideal. Mereka tidak terlalu menuntut dalam hal perawatan kamar," jelasnya.
Nah, kira-kira apakah tren serupa juga bisa muncul di Indonesia? Jika ada kesempatan, detikers lebih memilih sewa rumah atau tinggal di hotel?
Artikel ini telah tayang di detikProperti.
