Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, Sosok di Balik Berdirinya Pontianak

Sejarah

Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, Sosok di Balik Berdirinya Pontianak

Tim detikKalimantan - detikKalimantan
Jumat, 23 Okt 2026 06:01 WIB
Syarif Abdurrahman Alkadrie. (Istimewa)
Foto: Syarif Abdurrahman Alkadrie. (Istimewa)
Pontianak -

Sosok Syarif Abdurrahman Alkadrie tak bisa dipisahkan dari sejarah Kota Pontianak. Tokoh ini telah membuka lembaran peradaban baru di tepian Sungai Kapuas yang kini menjadi ibu kota dari Kalimantan Barat.

Sebagaimana dicatat dalam portal resmi Pemerintah Kota Pontianak, pada tanggal 23 Oktober 1771 Masehi (14 Rajab 1185 Hijriah), rombongan yang dipimpin Syarif Abdurrahman mulai menebas belantara di persimpangan tiga sungai, yakni Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Kapuas. Mereka mendirikan balai serta rumah permukiman yang kemudian dinamai Pontianak.

Tanggal bersejarah 23 Oktober inilah yang hingga kini diabadikan dan dirayakan setiap tahunnya sebagai momentum Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Pontianak. Berkat kepemimpinannya, kawasan tepian sungai yang semula belantara hening berkembang pesat menjadi pusat perniagaan dan pelabuhan yang ramai.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Silsilah dan Masa Muda

Syarif Abdurrahman lahir di Matan sekitar tahun 1700-an Masehi atau 1100-an Hijriah, namun beberapa catatan sejarah berbeda-beda tentang pastinya. Salah satunya dalam Riwayat Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Pendiri Kota dan Kesultanan Pontianak terbitan Pemda Pontianak (1999), beliau lahir 1739 dan meninggal 1808.

Mengutip artikel dalam Jurnal Agastya Vol 11, No 2, Juli 2021 karya Haris Firmansyah dkk, ayahnya Al-Habib Husin Alkadrie, seorang mufti atau pemangku adat Kerajaan Matan yang berasal dari Hadramaut (Yaman). Sementara ibunya Putri Nyai Tua, seorang dayang di Kerajaan Matan.

Ketika berusia belia sekitar 6 tahun, Syarif Abdurrahman bersama keluarganya bertolak ke Kerajaan Mempawah atas undangan Raja Mempawah, Opu Daeng Manambon, lalu mendirikan permukiman di Galah Herang.

Saat berusia 18 tahun, Syarif Abdurrahman dinikahkan dengan Utin Candramidi, putri Opu Daeng Manambon, dan dianugerahi gelar Pangeran Syarif Abdurrahman Alkadrie. Setelah dua dekade menetap di Mempawah, jiwa petualangnya membawanya berlayar melintasi rute maritim Nusantara, mulai dari Tambelan, Riau, Palembang, hingga berlabuh di Banjarmasin dan Paser.

Di Banjarmasin, ia memperdagangkan aneka komoditas berharga seperti rempah-rempah, lada, kain sutra, lenen, dan hasil perkebunan. Selain itu dia sembari membangun jejaring dengan saudagar dari Inggris, Prancis, Portugis, Belanda, India, dan Tionghoa.

Ia bahkan mengukir prestasi tempur maritim dengan memukul mundur kapal Prancis di Paser serta mengatasi jung-jung Tionghoa. Keberhasilan ini membuat Sultan Banjar mengangkatnya sebagai menantu dengan menikahkannya kepada putrinya, Ratu Syahranom (Syarifah Anum) pada tahun 1768.

Kemudian Sultan Banjar memberinya gelar Syarif Abdurrahman Nur Alam. Pernikahan ini bukan sekadar ikatan keluarga, melainkan langkah diplomasi politik strategis untuk mengukuhkan aliansi tiga kerajaan penting di Kalimantan, yakni Mempawah, Matan, dan Banjar.

Ekspedisi Menyusuri Kapuas

Perjalanan mendirikan Pontianak bermula ketika Syarif Abdurrahman memutuskan meninggalkan Mempawah usai wafatnya Habib Husin dan Daeng Manambon. Panembahan Mempawah menugaskan Syarif Abdurrahman untuk mengatasi gangguan gerombolan bajak laut di muara Sungai Kapuas yang kerap menghadang lalu lintas niaga.

Sebagaimana keterangan dalam Jurnal Lektur Keagamaan, Vol 19, No 2, 2021, rombongan konvoi maritim tersebut terdiri atas belasan armada, mencakup 2 kapal besar dan 14 kapal kecil berpersenjataan meriam lengkap. Selaku nakhoda adalah pengikut setianya, Juragan Daud, yang beranggotakan kerabat, masyarakat Bugis, dan awak kapal asal Benggali.

Setelah berlayar selama beberapa hari, armada rombongan singgah di sebuah pulau kecil bernama Batu Layang yang berjarak sekitar 15 kilometer dari muara Sungai Kapuas. Mereka lalu melanjutkan pelayaran ke arah hulu hingga menjumpai pertemuan cabang sungai.

Lokasi pembukaan hutan ini berada tepat di persimpangan tiga perairan, yaitu Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Kapuas, yang sangat strategis dalam politik maupun ekonomi. Kejelian memilih titik pertemuan ini merupakan bukti kepiawaian Syarif Abdurrahman sebagai seorang ahli maritim.

Penamaan Pontianak juga dikaitkan dengan mitos terkait hutan rimba yang didatangi rombongan. Hutan tersebut dipercaya dihuni makhluk halus dan suara tangisan kuntilanak, sehingga Syarif Abdurrahman memerintahkan awak kapalnya menembakkan meriam ke arah hutan untuk mengusirnya.

Namun, dalam telaah ilmiah menjelaskan bahwa sasaran tembakan meriam sebenarnya ditujukan langsung ke sarang persembunyian para bajak laut yang bermarkas di kawasan antara Batu Layang dan Nipah Kuning. Begitu kawasan itu dinyatakan aman, rombongannya dapat mulai menebas hutan untuk mendirikan balai permukiman tetap.

Syarif Abdurrahman Alkadrie. (dok Disbudpar Pontianak)Syarif Abdurrahman Alkadrie. (dok Disbudpar Pontianak)

Berdirinya Istana Kadriah

Keberhasilan membuka permukiman segera disusul dengan peletakan fondasi tata pemerintahan resmi. Pada tanggal 8 Sya'ban 1192 Hijriah, Syarif Abdurrahman Alkadrie dinobatkan sebagai Sultan Pontianak Pertama.

Penobatan gelar Maulana Sultan Syarif Abdurrahman Nur Alam dilaksanakan di hadapan para sultan dan panembahan se-Kalimantan Barat, serta dipimpin langsung oleh Yang Dipertuan Haji Raja Muda dari Riau atas nama seluruh rakyat.

Tata ruang pusat pemerintahan didirikan di kawasan yang kini dikenal sebagai Kampung Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur. Tonggak pusat kekuasaan ditandai oleh berdirinya dua bangunan monumental, yakni Keraton Kesultanan Kadriah dan Masjid Raya Sultan Abdurrahman Alkadrie (Masjid Jami').

Letak Istana Kadriah dan Masjid Jami' dibangun berada dalam satu garis lurus menghadap ke muara Sungai Kapuas. Masjid Jami' tidak hanya berfungsi sebagai sarana peribadatan semata, melainkan menjadi pilar utama persemaian ajaran Islam.

Halaman 3 dari 2
(bai/bai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads