Hujan deras yang mengguyur Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), belum sepenuhnya mengusir kabut asap berwarna kuning hingga oranye. Di tengah harapan udara kembali bersih, asap masih terlihat dan karhutla masih terjadi di sejumlah wilayah.
Fenomena tersebut menjadi perhatian karena hujan kerap dianggap sebagai penanda berakhirnya kabut asap. Padahal, turunnya hujan tidak serta-merta membuat udara terbebas dari partikel polutan, terutama jika sumber kebakaran masih aktif.
Prakirawan BMKG Iskandar Kotawaringin Barat, Afif Rowina Khairi, menjelaskan warna kekuningan hingga oranye pada kabut asap berkaitan dengan fenomena optik akibat interaksi cahaya matahari dengan partikel halus yang melayang di atmosfer.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Partikel tersebut dapat berupa PM2.5, karbon hitam, serta sisa pembakaran vegetasi dan lahan gambut. Ketika cahaya matahari menembus lapisan partikel itu, cahaya yang tersebar membuat asap tampak berwarna kuning hingga jingga," kata Afif, Minggu (18/10/2026).
Afif menjelaskan hujan memang dapat membantu mengurangi polutan di udara melalui proses pencucian atmosfer. Namun, efektivitasnya bergantung pada intensitas dan durasi hujan serta jumlah partikel yang masih melayang di udara.
"Hujan deras dalam waktu singkat belum tentu mampu membersihkan seluruh partikel asap. Apalagi, jika curah hujan tidak merata, beberapa kawasan masih berpotensi mengalami kabut asap meskipun hujan telah berhenti," katanya.
Selain itu, asap baru dapat terus dihasilkan selama kebakaran belum sepenuhnya padam. Kondisi tersebut membuat kabut asap berpotensi bertahan meski hujan telah mengguyur Pangkalan Bun dan sekitarnya.
Kepala Pelaksana BPBD Kobar Samuel menyebutkan karhutla masih terjadi di beberapa wilayah, terutama di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Karena itu, upaya pemadaman tetap diperlukan untuk menghentikan sumber asap yang mencemari udara.
Hujan yang turun di Pangkalan Bun juga tidak otomatis memadamkan seluruh titik api di wilayah Kobar. Perbedaan lokasi kebakaran dan intensitas hujan menyebabkan kondisi di satu kawasan bisa berbeda dengan kawasan lainnya.
"Dengan demikian, munculnya asap kuning setelah hujan bukan berarti hujan sama sekali tidak memberikan dampak. Hujan tetap dapat membantu mengurangi partikel polutan, tetapi perubahan kualitas udara tidak selalu terjadi secara langsung, terutama ketika konsentrasi asap masih tinggi," katanya.
Masyarakat diimbau tidak hanya mengandalkan turunnya hujan atau perubahan warna kabut untuk menilai kualitas udara. Kepastian kondisi udara perlu mengacu pada hasil pemantauan konsentrasi polutan, terutama PM2.5, melalui sumber informasi yang terpercaya.
"Selama karhutla belum sepenuhnya terkendali dan partikel asap masih berada di atmosfer, potensi kabut asap menyelimuti Pangkalan Bun dan sekitarnya tetap ada. Pemadaman kebakaran harus terus dilakukan, disertai kewaspadaan masyarakat terhadap paparan asap meskipun hujan telah turun," pungkas Samuel.
