Hujan yang mulai mengguyur sejumlah wilayah di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, belum menjangkau kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) di Kecamatan Kumai. Kawasan konservasi tersebut masih menantikan turunnya hujan untuk membantu meredakan kebakaran.
Perwakilan Yayasan Orangutan Hijau Kalimantan (YOHK)-HPI Kobar, Moncos mengatakan, sepanjang Jumat (16/10/2026) sore dan Sabtu (18/10/2026) hujan belum turun di kawasan TNTP, meskipun sejumlah wilayah lain di Kobar mulai diguyur hujan.
"Hujan yang mulai membasahi sebagian wilayah Kobar menjadi kabar baik setelah masyarakat menghadapi cuaca kering. Namun, kondisi tersebut belum dirasakan secara merata, terutama di kawasan taman nasional," ujar Moncos, Sabtu (17/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Moncos berharap hujan segera turun di TNTP agar kawasan tersebut turut mendapatkan pasokan air alami. Ia juga berharap hujan yang telah mengguyur sejumlah wilayah bisa meluas hingga ke kawasan konservasi di Kecamatan Kumai itu.
"Belum turunnya hujan di TNTP menjadi perhatian, mengingat kawasan tersebut merupakan habitat berbagai jenis satwa liar, termasuk orang utan," katanya.
Kondisi cuaca kering yang berlangsung membuat turunnya hujan dinantikan untuk membantu menjaga kondisi lingkungan dan ketersediaan air di kawasan hutan. Hujan yang turun di sejumlah wilayah Kobar memang membawa harapan bagi masyarakat setelah menghadapi cuaca kering. Namun, bagi kawasan TNTP, harapan tersebut masih menunggu kenyataan.
Moncos berharap hujan segera membasahi kawasan taman nasional sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas, termasuk oleh lingkungan hutan yang menjadi habitat satwa liar.
Sekedar diketahui, hujan terpantau membasahi sebagian wilayah Kobar. Salah satunya di Pangkalan Bun, pada Jumat (16/10/2026) siang.
Hujan disambut penuh sukacita oleh warga. Setelah beberapa waktu bergulat dengan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), turunnya hujan menjadi momen yang telah lama dinantikan masyarakat.
"Alhamdulillah, hujan akhirnya turun. Kami sangat bersyukur karena sudah cukup lama menghadapi kabut asap akibat karhutla. Semoga hujan ini membawa berkah, asap segera berkurang, dan udara kembali bersih sehingga masyarakat bisa beraktivitas dengan nyaman," ujar Jayus, warga Pasir Panjang.
Sukacita serupa dirasakan Siti Fatimah, warga Samari, Pangkalan Bun. Menurut dia, turunnya hujan menjadi pemandangan yang melegakan setelah langit sebelumnya terlihat gelap dan kekuningan akibat kepungan asap.
"Langit yang sebelumnya tampak gelap dan kekuningan karena kepungan asap perlahan terlihat berubah ketika hujan turun. Momen tersebut menjadi gambaran betapa berharganya hujan bagi masyarakat yang mendambakan udara lebih bersih dan lingkungan yang nyaman," kata Siti Fatimah.
Antusiasme warga juga terlihat di media sosial. Sejumlah masyarakat membagikan video saat hujan mengguyur wilayah Pangkalan Bun. Unggahan tersebut menggambarkan rasa syukur warga yang berharap hujan mampu membantu meredakan dampak karhutla.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Iskandar, Eko Yulianto Nugroho, menjelaskan bahwa wilayah Pangkalan Bun memang memiliki potensi pertumbuhan awan hujan pada Jumat tersebut.
Menurut Eko, upaya Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga dilakukan di sekitar Pangkalan Bun. Pesawat yang digunakan dalam operasi tersebut lepas landas dari Palangka Raya untuk melaksanakan penyemaian awan di wilayah yang memiliki potensi pertumbuhan awan hujan.
"Jadi penyemaian awan dalam OMC memang diarahkan ke daerah yang mempunyai potensi pertumbuhan awan. Sederhananya, sudah ada potensi pertumbuhan awan hujan, dengan adanya penyemaian awan, awan hujan tumbuh lebih cepat dan lebih besar sehingga terjadi hujan di wilayah Pangkalan Bun," jelasnya.
Ia menerangkan, pelaksanaan modifikasi cuaca mempertimbangkan kondisi atmosfer yang terpantau, terutama keberadaan awan yang berpotensi menghasilkan hujan. Penyemaian dilakukan untuk membantu proses pertumbuhan awan hujan sehingga peluang terjadinya hujan dapat meningkat.
"Meski demikian, hujan tetap dipengaruhi berbagai faktor alam dan dinamika atmosfer. Karena itu, pelaksanaan OMC tidak berarti hujan dapat dipastikan terjadi di setiap wilayah yang menjadi sasaran operasi," katanya.
Turunnya hujan diharapkan dapat membantu membasahi lahan dan vegetasi yang mengering serta mengurangi sebagian partikel asap di udara. Namun, dampaknya terhadap kondisi kabut asap bergantung pada intensitas dan durasi hujan, kondisi angin, serta keberadaan titik api yang masih aktif.
Karena itu, masyarakat diminta tidak langsung menganggap persoalan kabut asap telah berakhir. Apabila kebakaran masih berlangsung di sejumlah kawasan, asap berpotensi kembali menyelimuti permukiman meskipun hujan sempat turun.
"Warga kami diimbau tetap menjaga kesehatan dengan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika asap masih pekat, menggunakan masker yang sesuai saat diperlukan, serta memantau informasi kualitas udara dan perkembangan penanganan karhutla," pungkasnya.
