Menhut Bicara soal Strategi Putus Kepala Api dalam Karhutla Sebangau

Menhut Bicara soal Strategi Putus Kepala Api dalam Karhutla Sebangau

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Selasa, 13 Okt 2026 16:30 WIB
Menhut Raja Juli Antoni melakukan pengecekan pemadaman di lapangan, tepatnya di KM 23 TN Sebangau, Selasa (13/10/2026).
Menhut Raja Juli Antoni melakukan pengecekan pemadaman di lapangan, tepatnya di KM 23 TN Sebangau, Selasa (13/10/2026)/Foto: Istimewa
Palangka Raya -

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni terus memperkuat strategi penanganan karhutla di Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah. Penanganan tidak hanya diarahkan untuk memadamkan titik api, tetapi juga memutus pergerakan api agar tidak meluas.

Menhut menyampaikan soal itu usai melakukan pengecekan pemadaman di lapangan, tepatnya di KM 23 TN Sebangau, Selasa (13/10/2026). Pengecekan dilakukan bersama Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) Agustiar Sabran, bersama jajaran TNI, Polri, BPBD.

Menhut bersama rombongan masuk ke lokasi dan melihat langsung pemadaman yang tengah dilakukan oleh Manggala Agni Kemenhut. Ia mengatakan pemerintah pusat dan daerah memiliki empati yang mendalam terhadap masyarakat yang telah terdampak asap selama beberapa bulan terakhir. Pemerintah pusat tidak lepas tangan dan terus melakukan upaya konkret di lapangan bersama TNI, Polri, Manggala Agni, pemerintah daerah, dan unsur lainnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bukan sama sekali kita lepas tangan, cuci tangan, sama sekali tidak. Tentu bisa dilihat di lapangan, Pak Gubernur, Pak Wali Kota, TNI Polri, Manggala Agni, Kemenhut. Teman-teman lihat itu bagaimana mata mereka? Sudah merah, sudah lelah tapi karena ini tugas mereka tetap ada di lapangan untuk bekerja secara real secara konkret," ujar Menhut.

Dalam penanganan di Sebangau, strategi pemadaman kini diperkuat dengan upaya memutus kepala api menggunakan alat berat. Strategi tersebut dilakukan untuk mencegah api bergerak lebih jauh dan menimbulkan dampak yang lebih besar. Pemerintah juga akan menambah sekitar 4 hingga 5 ekskavator untuk memperkuat penyekatan di area yang menjadi jalur pergerakan api.

"Bukan lagi hanya sekadar memadamkan di titik api yang ada, tapi sekarang kita coba memutus ya, kepala apinya. Kalau api yang kita putus ya dengan kecepatan mempergunakan alat berat supaya menghindari mudarat yang lebih besar lagi," imbuhnya.

Selain alat berat, penanganan juga diperkuat dengan pembangunan sumur bor. Menhut menyebut kebutuhan tambahan mencapai sekitar 30 sumur bor, yang akan ditempatkan di sekitar kepala-kepala api dengan jarak sekitar 50 meter untuk mendukung proses pemadaman.

"Jadi bukan lagi mengejar api, tapi sudah menghadap api dengan risiko yang gak sederhana," ujarnya.

Upaya pemadaman juga dilakukan dari udara melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) dan water bombing. Namun, penerbangan helikopter water bombing masih menghadapi kendala visibilitas.

"Sementara OMC terus dilakukan ketika terdapat bibit awan, sebagai bagian dari upaya membasahi wilayah dan membantu penanganan karhutla. Di sisi darat, pasukan dan peralatan juga terus diperkuat untuk menghadapi kondisi lapangan yang dinamis," pungkasnya.



(sun/aau)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads