Mengenal Letkol Supadio, Tentara Darat yang Gugur sebagai Penerbang

Sejarah

Mengenal Letkol Supadio, Tentara Darat yang Gugur sebagai Penerbang

Bayu Ardi Isnanto - detikKalimantan
Senin, 05 Okt 2026 17:01 WIB
Letkol Supadio.
Letkol (Pnb) Supadio. Foto: Dok. Buku Sejarah TNI AU/Dispen AU
Pontianak -

Bagi sebagian masyarakat Indonesia, khususnya yang pernah menginjakkan kaki di Kalimantan Barat, nama 'Supadio' sudah sangat dikenal. Nama ini menjadi identitas sebuah bandar udara dan pangkalan militer di Kabupaten Kubu Raya, tak jauh dari Kota Pontianak.

Namun, tak banyak yang mengenal sosok di balik nama tersebut. Dia adalah Letkol (Pnb) Supadio yang memiliki kisah heroik sebagai seorang perwira menengah Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI).

Siapakah Letkol (Pnb) Supadio? Simak profil singkat dan kiprahnya dalam artikel berikut ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bermula dari Prajurit Angkatan Darat

Dikutip dari buku Sejarah TNI AU Indonesia, kisah Supadio bermula di Patrang, Jember, Jawa Timur, tempat ia dilahirkan pada 30 Agustus 1927. Tumbuh di era pergolakan kolonialisme Belanda dan pendudukan Jepang, masa muda Supadio ditempa oleh kerasnya revolusi fisik.

Kesadaran bela negaranya yang tinggi membawanya bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Menariknya, karier militernya tidak langsung bersentuhan dengan pesawat terbang, melainkan sebagai prajurit Angkatan Darat.

Setelah pengakuan kedaulatan, Indonesia dihadapkan pada realitas baru bahwa wilayah udara yang luas butuh dijaga. Sementara AURI saat itu masih sangat kekurangan pilot militer.

Pada 1953, panggilan tugas untuk membangun kekuatan udara nasional mengetuk hati Supadio. Ia mengambil keputusan besar dengan menyeberang matra dan mendaftar ke Sekolah Penerbang (Sekbang) di Lanud Kalijati, Subang.

Di kawah candradimuka inilah, Supadio membuktikan kecerdasannya. Ia bertransformasi dari seorang prajurit infanteri darat menjadi seorang perwira udara yang tangkas menguasai aerodinamika, navigasi, dan taktik pertempuran tiga dimensi.

Ujung Tombak Udara di Era Konfrontasi

Kepemimpinan dan jam terbang yang terus bertambah membawa Letkol Supadio pada salah satu penugasan paling krusial dalam sejarah militer Indonesia. Pada pertengahan dekade 1960-an, ia dipercaya menjabat sebagai Panglima Komando Regional Udara (Pangkorud) II yang bermarkas di Banjarmasin, namun membawahi seluruh ruang udara Pulau Kalimantan.

Dikutip dari situs TNI AU, tantangan Supadio tidak sekadar topografi hutan hujan tropis yang ekstrem, melainkan gejolak geopolitik. Saat itu, Indonesia tengah berada di puncak Konfrontasi dengan Malaysia (Operasi Dwikora). Pulau Kalimantan menjadi medan utama karena berbatasan langsung dengan Sarawak dan Sabah, tempat militer Persemakmuran (Inggris dan Australia) bersiaga.

Letkol Supadio bergerak cepat memiliterisasi Pangkalan Udara Sungai Durian (kini Lanud Supadio) di Kalimantan Barat menjadi Pangkalan Aju (Forward Operating Base). Di bawah komandonya, pangkalan yang minim fasilitas itu disulap menjadi titik tolak krusial bagi operasi intelijen udara, penerjunan pasukan gerilya, hingga kesiagaan tempur penangkis serangan udara.

Gugurnya Supadio saat Uji Coba

Kompleksitas medan di perbatasan Kalimantan Barat menyadarkan Letkol Supadio bahwa pasukannya membutuhkan armada pesawat angkut ringan (STOL - Short Take-Off and Landing) bermesin ganda. Pesawat jenis ini vital untuk bermanuver di landasan perintis yang pendek dan aman jika terjadi kegagalan mesin di atas belantara hutan.

Supadio terbang sendiri ke Bandung pada Maret 1966 untuk mengunjungi Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (LAPIP). Bersama sang jenius dirgantara, Kolonel Nurtanio Pringgoadisuryo, menjajal pesawat angkut ringan Super Aero-45 buatan Cekoslowakia yang dimodifikasi sesuai kebutuhan.

Kedua perwira ini memutuskan untuk memimpin langsung uji coba terbang (test flight) hasil modifikasi pesawat tersebut pada tanggal 21 Maret 1966.

Sayangnya, takdir berkata lain. Di tengah manuver di atas langit Kota Bandung, pesawat Super Aero-45 yang mereka awaki mengalami kegagalan fungsi mesin asimetris (engine failure). Pesawat kehilangan daya dorong dan daya angkat secara drastis.

Pesawat kehilangan gaya aerodinamis kemudian jatuh menghantam bangunan pertokoan di Bandung dan meledak hebat. Letkol Pnb Supadio gugur seketika di lokasi kejadian bersama Kolonel Nurtanio.

Kehilangan Letkol Supadio adalah pukulan telak bagi AURI. Untuk menghormati dedikasi dan pengorbanannya yang luar biasa, pada tahun 1969, Markas Besar Angkatan Udara secara resmi mengubah nama Pangkalan Udara Sungai Durian menjadi Pangkalan TNI AU Supadio (Lanud Supadio).

Halaman 2 dari 2
(bai/aau)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads