Penurunan jumlah titik panas dan kejadian karhutla di Kalimantan Tengah belum menjadi alasan untuk menurunkan kewaspadaan. Kondisi bahan bakar di permukaan justru semakin kering sehingga potensi kebakaran baru masih tinggi.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Kalimantan Tengah, Ahmad Toyib mengatakan, kondisi tersebut terlihat dari meluasnya zona merah pada peta Fine Fuel Moisture Code (FFMC).
"Berdasarkan analisis parameter cuaca BMKG pada Selasa (29/9/2026) dan Rabu (30/9/2026) hampir seluruh wilayah Kalteng masuk kategori sangat tinggi atau sangat mudah terbakar," katanya, Rabu (30/9/2026).
Zona yang masih relatif aman hanya tersisa di sebagian kecil wilayah, terutama kawasan utara. Kondisi ini berbeda dibanding dua hari sebelumnya ketika wilayah utara Kalteng masih lebih banyak berada di zona aman.
FFMC menggambarkan tingkat kekeringan bahan-bahan ringan yang mudah terbakar, seperti alang-alang dan dedaunan di permukaan hutan. Ketika masuk zona merah, bahan bakar tersebut berada dalam kondisi sangat kering dan mudah terbakar.
"Meski jumlah kejadian dan luas karhutla harian menurun, kita tetap harus waspada. Kondisi bahan bakar yang sangat kering membuat api dapat dengan cepat menjalar apabila muncul titik api baru," kata Ahmad Toyib.
Simak Video "Video Situasi Karhutla Terkini: Titik Api di Kalimantan Naik, Sumatera Turun"
(sun/des)