Kalimantan Tengah tengah menghadapi puncak musim kemarau yang berdampak pada meningkatnya aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta memburuknya kualitas udara. BMKG menyebut kondisi kemarau 2026 menunjukkan sejumlah indikator yang lebih ekstrem dibandingkan periode kemarau 2015.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut, Chandra, mengatakan secara meteorologis puncak musim kemarau di Kalteng berlangsung pada Agustus hingga September 2026.
"Musim kemarau di wilayah Kalimantan Tengah saat ini memang merupakan puncaknya pada Agustus-September," kata Chandra, Sabtu (26/9/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah jumlah titik panas atau hotspot. Berdasarkan data yang dipantau BMKG, jumlah hotspot sepanjang musim kemarau 2026 tercatat lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2015.
Tingginya hotspot tersebut beriringan dengan meningkatnya kejadian karhutla di sejumlah wilayah. Dampaknya juga terlihat dari kondisi asap yang lebih pekat hingga menyebabkan kualitas udara memburuk.
"Untuk dampak kerusakannya, seperti kebakaran hutan dan lahan, dari data yang ada memang lebih parah dibandingkan 2015. Jadi, dari data hotspot sendiri lebih tinggi dibandingkan 2015 dan kondisi asapnya juga lebih pekat," ujarnya.
Kondisi paling ekstrem salah satunya terjadi di Kota Palangka Raya. Pada Kamis (24/9/2026) sore, konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 berdasarkan pemantauan mencapai sekitar 1.976 mikrogram per meter kubik pada pukul 15.00-16.00 WIB.
"Angka tersebut mendekati 2.000 µg/m³. Sebagai pembanding, konsentrasi PM2.5 sekitar 250 µg/m³ saja sudah menunjukkan kondisi udara yang perlu diwaspadai," katanya.
Tingginya konsentrasi partikulat tersebut menggambarkan pekatnya asap karhutla yang menyelimuti Palangka Raya. Kondisi ini menjadi perhatian terutama bagi masyarakat yang termasuk kelompok rentan terhadap paparan polusi udara.
Di tengah kondisi tersebut, terdapat peluang perubahan cuaca. BMKG memperkirakan potensi hujan di sejumlah wilayah Kalteng meningkat dalam sepekan ke depan.
Hujan umumnya diprakirakan berkisar ringan hingga sedang. Namun, beberapa wilayah di bagian utara Kalteng berpeluang mendapatkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
"Untuk 26-27 September, hujan sedang hingga lebat berpotensi terjadi di sejumlah wilayah. Wilayah yang berpotensi meliputi Kotawaringin Timur, Katingan bagian utara, Gunung Mas, Murung Raya, Barito Utara dan Barito Selatan," katanya.
Pada 26 September, potensi hujan berada di Seruyan bagian utara, Katingan bagian utara dan Murung Raya. Sedangkan pada 27 September, potensi serupa diprakirakan terjadi di Gunung Mas bagian utara, Murung Raya, Barito Utara dan Barito Selatan.
Hujan tersebut berpotensi membantu mengurangi kekeringan dan menekan asap akibat karhutla. Namun, masyarakat tetap perlu mewaspadai hujan yang dapat disertai petir dan angin kencang.
Chandra mengatakan, masa peralihan menuju musim hujan diperkirakan mulai berlangsung pada akhir Oktober hingga awal November 2026.
"Awal musim hujan di sebagian besar wilayah Kalteng akan mulai terjadi pada akhir Oktober hingga awal November 2026," pungkasnya.
Simak Video "Video: BMKG Prediksi El Nino Berpuncak di Desember atau Januari 2027"
[Gambas:Video 20detik] (des/des)
Koleksi Pilihan
Kumpulan artikel pilihan oleh redaksi detikkalimantan
