Kasus ISPA Sempat Melonjak 69 Persen di Kobar

Kasus ISPA Sempat Melonjak 69 Persen di Kobar

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Kamis, 24 Sep 2026 14:30 WIB
Kabut asap di Pangkalan Bun, Kamis (24/9/2026) pagi
Kabut asap di Pangkalan Bun, Kamis (24/9/2026) pagi/Foto: Sigit Pamungkas/detikKalimantan
Kotawaringin Barat -

Kualitas udara di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) kembali berada pada level mengkhawatirkan. Konsentrasi partikulat halus PM2.5 terpantau mencapai 453,7 mikrogram per meter kubik (µg/m3) pada Kamis (24/9/2026) pagi.

Angka tersebut tercatat Stasiun Meteorologi Iskandar Kotawaringin Barat pada pukul 08.14 WIB dan masuk kategori berbahaya berdasarkan pemantauan kualitas udara. Forecaster on Duty BMKG Kotawaringin Barat, Ni Kadek Trisna Dewi, S.Tr, membenarkan adanya peringatan dini terkait tingginya konsentrasi PM2.5 di wilayah tersebut.

"Tercatat konsentrasi PM2.5 sebesar 453,7 µg/m3 dengan kategori ISPU berbahaya," ujar Ni Kadek berdasarkan hasil observasi Stasiun Meteorologi Iskandar Kotawaringin Barat, Kamis siang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

PM2.5 merupakan partikulat berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke saluran pernapasan. Karena itu, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara berada pada level berbahaya.

Di sisi lain, data Dinas Kesehatan Kobar menunjukkan persoalan kesehatan pernapasan. Berdasarkan pemantauan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), ISPA menjadi penyakit yang paling dominan sepanjang 2026.

Kepala Dinas Kesehatan Kobar Hardino mengatakan hingga Minggu Epidemiologi ke-36, secara kumulatif tercatat sekitar 14.086 kasus ISPA. Lonjakan paling terlihat pada periode M-28 hingga M-31. Kasus yang sebelumnya tercatat 335 kasus pada M-28 meningkat menjadi 457 kasus pada M-29, kemudian 468 kasus pada M-30 dan mencapai puncak 566 kasus pada M-31.

"Dari M-28 sampai M-31, kasus ISPA meningkat dari 335 menjadi 566 kasus atau sekitar 68,9 persen," kata Hardino.

Setelah mencapai 566 kasus, tren sempat menurun menjadi 514 kasus pada M-32, 461 kasus pada M-33 dan 422 kasus pada M-34. Namun, angka tersebut kembali naik menjadi 534 kasus pada M-35 sebelum turun lagi menjadi 471 kasus pada M-36.

Meski telah menurun, kasus pada M-36 masih sekitar 40,6 persen lebih tinggi dibandingkan M-28. Dinkes pun terus memperkuat pemantauan terhadap ISPA, pneumonia dan infeksi influenza-like illness (ILI).

Hardino menyebut naiknya kasus ISPA beriringan dengan meningkatnya aktivitas karhutla di Kobar sejak Juli 2026. Namun, ia menegaskan data yang ada belum cukup untuk menyimpulkan bahwa asap karhutla menjadi penyebab langsung kenaikan kasus ISPA.

"Peningkatan ISPA juga dapat dipengaruhi faktor lain, seperti kondisi cuaca, infeksi saluran pernapasan, mobilitas penduduk, perilaku pencarian pengobatan dan kondisi kualitas udara," jelasnya.

Dengan PM2.5 yang menembus 453,7 µg/m3, masyarakat diminta membatasi aktivitas di luar ruangan. Terutama ketika kondisi udara masih berada pada kategori berbahaya.

"Warga yang mengalami gangguan pernapasan juga diminta segera mendapatkan pertolongan medis," pungkasnya.



(sun/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads