Polda Kalimantan Tengah (Kalteng) menguji coba penggunaan cairan pemadam X-Fire untuk membasahi sekaligus memadamkan bara yang masih tersimpan di dalam lahan gambut. Hal ini diharapkan dapat mengurangi kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyala lagi setelah sempat dipadamkan.
Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan mengatakan penggunaan X-Fire dilakukan di kawasan Jalan Manduhara Ujung, Kota Palangka Raya, Rabu (16/9/2026) sore. Menurutnya, penyemprotan hingga injeksi X-Fire terbukti membuat bara api yang berada di lahan gambut dapat dipadamkan.
"Rabu sore kita lakukan di Jalan Manduhara Ujung, Kota Palangka Raya dan hasilnya benar-benar efektif. Api yang ada di lahan gambut benar-benar padam," ujar Iwan, Kamis (17/9/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Iwan, persoalan utama dalam penanganan karhutla di lahan gambut adalah api bawah permukaan. Ketika api di atas tanah sudah berhasil dipadamkan, bara di dalam gambut masih dapat bertahan dan kemudian kembali memunculkan asap.
"Jadi mudah-mudahan dengan mekanisme ini bukan hanya sekadar kita memadamkan api, tetapi kita juga bisa tuntas untuk memadamkan bara api yang ada di bawah lahan gambut ini sehingga tidak menimbulkan asap yang bisa mengganggu kesehatan masyarakat," katanya.
Iwan menambahkan, penerapan X-Fire di Kalteng turut dipantau Asisten Logistik Mabes Polri Irjen Pol Suwondo Nainggolan. Polda Kalteng juga menyiapkan tempat untuk memproduksi cairan tersebut secara mandiri.
Nantinya, personel akan mendapatkan pembelajaran mengenai proses produksi X-Fire sehingga kebutuhan cairan pemadam tidak sepenuhnya bergantung pada distribusi dari Mabes Polri.
"Jadi ke depan pemadaman karhutla di Kalimantan Tengah dapat lebih efektif dan efisien," ungkapnya.
Ahli Slog Polri Prof Saputra mengatakan X-Fire sebelumnya telah digunakan dalam penanganan karhutla di Sumatera Selatan, Kalimantan Barat dan Riau. Dari penerapan di sejumlah daerah tersebut, cairan itu disebut mampu membantu pemadaman api sekaligus mengurangi asap yang muncul dari lahan gambut.
Saputra menjelaskan X-Fire terdiri dari dua bahan utama, yakni surfaktan dan tapioka yang telah dipolimerisasi. Surfaktan berfungsi membantu air masuk ke pori-pori gambut sehingga pendinginan tidak hanya terjadi di permukaan.
"Sementara tapioka yang telah dipolimerisasi berfungsi membantu menjaga kondisi gambut tetap dingin setelah terisi air. Bahan tersebut juga membantu menutup permukaan sehingga oksigen dari atas lebih sulit masuk dan memicu bara kembali terbakar," katanya.
X-Fire sendiri memiliki dua tipe yang digunakan sesuai tahapan penanganan. Pada pemadaman api permukaan, satu galon X-Fire dapat dicampurkan dengan 1.000 hingga 3.000 liter air.
"Setelah api permukaan padam, petugas kemudian melakukan penyisiran untuk menemukan titik-titik bara yang masih mengeluarkan asap. Pada tahap ini konsentrasi X-Fire ditingkatkan menggunakan tipe 02," ujarnya.
Saputra menyebut 1.000 liter air dapat menjangkau area minimal sekitar 1.000 meter. Sementara kedalaman gambut yang pernah ditangani berbeda-beda, termasuk mencapai sekitar delapan meter di Riau dan empat meter di Sumatera Selatan.
Karena itu, pemadaman tidak berhenti setelah api terlihat padam. Petugas tetap harus melakukan penyisiran hingga sekitar 24 jam untuk memastikan tidak ada bara yang kembali aktif.
"Jadi tahapannya adalah pertama kita matikan dulu api, kemudian ada tim yang bergerak mencari sisa-sisa titik api. Biasanya setelah itu mati, esok harinya kita minta ada tim yang menyisir sisa-sisa dari api yang mungkin tinggal sedikit, tapi itu tetap harus kita matikan," jelasnya.
Simak Video "Video Situasi Karhutla Terkini: Titik Api di Kalimantan Naik, Sumatera Turun"
[Gambas:Video 20detik] (des/des)
