Mengenal Teknologi Modifikasi Cuaca, Sejarah hingga Cara Kerjanya

Mengenal Teknologi Modifikasi Cuaca, Sejarah hingga Cara Kerjanya

Tim detikKalimantan - detikKalimantan
Selasa, 08 Sep 2026 08:30 WIB
Seorang ilmuwan penerbangan mendokumentasikan kondisi awan sebagai bahan laporan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menggunakan pesawat Cessna 208 Caravan PK-SNM BNPB di sekitar wilayah udara pesisir utara Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Minggu (2/11/2025). Hingga hari kesembilan atau per Minggu (2/11) penerbangan kedua, BNPB bersama Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menghabiskan sebanyak 31 ton NaCl dan 14 ton CaO untuk OMC Jateng dalam rangka penanganan dan mitigasi bencana hidrometeorologi basah di wilayah Kota Semarang dan sekitarnya. ANTARA FOTO/Aji Styawan/rwa.
Ilustrasi operasi modifikasi cuaca. Foto: ANTARA FOTO/AJI STYAWAN
Balikpapan -

Puncak musim kemarau dengan fenomena El Nino saat ini berdampak serius hingga menyebabkan kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah. Salah satu penanganan yang dilakukan ialah melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) atau juga dikenal teknologi modifikasi cuaca (TMC).

Operasi yang diandalkan sebagai penyelamat darurat ekologi ini tidak sesederhana menebar garam dari udara. Untuk mengenal apa itu modifikasi cuaca, simak penjelasan berikut ini, lengkap dengan sejarah dan cara kerjanya.

Apa Itu Teknologi Modifikasi Cuaca?

Dikutip dari situs BPBD Pontianak, Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) adalah suatu bentuk usaha campur tangan manusia dalam mengendalikan sumber daya air di atmosfer. Upaya ini dilakukan dengan memanfaatkan berbagai parameter cuaca dengan tujuan utama menambah atau mengurangi intensitas curah hujan di daerah tertentu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada akhirnya, modifikasi cuaca ini diaplikasikan untuk meminimalkan risiko bencana alam yang diakibatkan oleh faktor iklim maupun cuaca. Misalnya pada musim kemarau seperti ini, maka diharapkan TMC dapat menurunkan hujan, sehingga bermanfaat bagi pertanian hingga pemadaman karhutla.

Sejarah TMC di Indonesia

Secara global, modifikasi cuaca modern berawal di Amerika Serikat pada tahun 1946 ketika para ilmuwan bereksperimen menggunakan es kering (dry ice) ke dalam awan. Di Indonesia, masuknya teknologi ini diinisiasi pada tahun 1977.

Berdasarkan laman BRIN, hal tersebut bermula ketika Presiden Soeharto melihat kemajuan sektor pertanian di Thailand, yang suplai airnya ternyata didukung oleh modifikasi cuaca. Beliau kemudian menugaskan BJ Habibie untuk mempelajari teknologi ini, yang berujung pada dimulainya proyek percobaan hujan buatan di Indonesia.

Awalnya TMC ditujukan murni untuk sektor pertanian, yakni untuk mengisi waduk-waduk strategis yang digunakan untuk irigasi dan pembangkit listrik. Namun, seiring meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi selama satu dekade terakhir, fungsi TMC berkembang semakin luas.

Teknologi ini kini diandalkan untuk memitigasi bencana seperti Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta banjir, hingga ditugaskan untuk mengamankan infrastruktur dan kelancaran acara berskala kenegaraan.

Cara Kerja Modifikasi Cuaca

Operasi modifikasi cuaca secara umum dilakukan melalui metode penyemaian awan atau cloud seeding. Metode ini dilakukan dengan menaburkan bahan seperti garam (NaCl) di atas awan target guna mempercepat proses kondensasi.

Melalui cara ini, awan penghujan bisa didorong agar menghasilkan hujan lebih cepat sebelum sampai ke daerah rawan banjir, atau difokuskan pada titik wilayah karhutla. Sebaliknya, ada juga metode cloud breaking yang dirancang untuk mengikis jumlah uap air dan menghambat kondensasi sehingga mampu mengurangi curah hujan.

Pelaksanaan operasi ini melibatkan kolaborasi antarinstansi. BMKG berperan menyediakan data terkait awan, cuaca, dan arah angin. Kemudian, armada pesawat terbang untuk menyebar bahan semai disediakan oleh TNI AU. Sementara itu, untuk segi pembiayaan biasanya dikoordinasikan menggunakan anggaran kebencanaan dari BNPB, KLHK, atau melalui dana CSR perusahaan.

Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dilakukan sebagai langkah mitigasi bencana hidrometeorologi di tengah meningkatnya intensitas hujan di akhir tahun.Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dilakukan sebagai langkah mitigasi bencana hidrometeorologi di tengah meningkatnya intensitas hujan di akhir tahun. Foto: dok. BNPB/BMKG

Mengapa TMC Dilakukan Saat Atmosfer Tidak Stabil?

Salah satu hal yang sering dipertanyakan adalah mengapa TMC dilakukan saat atmosfer tidak stabil. Melansir jawaban pakar pada laman IPB University, teknologi ini pada dasarnya bukanlah upaya menciptakan hujan dari nol atau 'membuat air' dari langit yang tidak memiliki potensi awan.

TMC bekerja dengan memodifikasi proses fisika yang sudah berlangsung di dalam awan melalui penambahan bahan higroskopis sebagai inti kondensasi. Oleh karena itu, operasi ini justru sangat bergantung pada kondisi atmosfer yang tidak stabil.

Saat atmosfer tidak stabil, proses penguapan berlangsung sangat aktif sehingga awan-awan konvektif penyedia hujan akan tumbuh jauh lebih cepat. Awan-awan inilah yang kemudian menjadi target intervensi. Sebaliknya, apabila atmosfer sedang sangat stabil, awan akan cenderung sulit berkembang sehingga upaya penyemaian tidak akan berjalan efektif.

TMC Bukan Penyebab Cuaca Ekstrem

Berdasarkan penjelasan di situs BMKG, sempat beredar narasi keliru yang menyebut bahwa operasi modifikasi cuaca secara berlebihan dapat memicu cuaca tidak stabil dan berisiko memunculkan fenomena bahaya seperti cold pool (kolam dingin).

Narasi ini disebut sebagai sebuah kekeliruan secara sains. Fenomena cold pool murni merupakan kejadian meteorologi alami yang memang selalu terbentuk saat curah hujan turun mendinginkan udara. Modifikasi cuaca hanya bekerja di dalam awan yang sudah jenuh, dan teknologi manusia belum memiliki skala energi raksasa untuk menciptakan sistem pendingin atmosfer maupun badai buatan.

Selain itu, pelaksanaan modifikasi cuaca dilakukan sangat terukur murni sebagai upaya perlindungan masyarakat dan bukan bermaksud untuk memindahkan hujan (membuat banjir) ke wilayah tetangga. Strategi TMC berupaya mengintervensi awan sejak dini agar tidak berkembang menjadi badai kumulonimbus yang masif, serta menjatuhkan curah hujan tersebut di perairan atau laut sebelum awan bergeser dan menumpuk di atas permukiman.

Halaman 2 dari 3
(bai/bai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads