Mengapa Abu Vulkanik Anak Krakatau Berbahaya bagi Kesehatan?

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Selasa, 08 Sep 2026 08:01 WIB
Abu vulkanik/Foto: detikcom
Balikpapan -

Erupsi Gunung Anak Krakatau yang meningkat sejak Jumat (4/9/2026) malam menyebabkan sebaran abu vulkanik terbawa angin hingga ke sejumlah wilayah, termasuk Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 6 September 2026 melaporkan adanya dua klaster sebaran abu vulkanik berdasarkan analisis citra satelit. Sebaran tersebut mencakup wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.

Paparan abu vulkanik itu tentu berbahaya bagi kesehatan, terutama bagi mereka yang tinggal di wilayah terdampak. Abu vulkanik bukanlah debu biasa. Partikel tersebut merupakan pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik berukuran sangat kecil.

Menurut United States Geological Survey (USGS), abu vulkanik memiliki sifat keras dan abrasif, dapat mengiritasi mata, saluran pernapasan, bahkan memperburuk penyakit pernapasan yang sudah dimiliki seseorang.

Abu Vulkanik Anak Krakatau Bisa Ganggu Mata dan Saluran Pernapasan

Ahli epidemiologi Griffith University, Dicky Budiman, dalam keterangannya yang dilansir Antara, menjelaskan abu vulkanik berbeda dari debu biasa karena dapat mengandung silika dengan karakter seperti pecahan kaca yang tajam. Kondisi tersebut membuat abu berpotensi mengiritasi organ yang terpapar, termasuk mata, hidung, mulut dan kulit.

Pada mata, paparan abu dapat menyebabkan mata merah, terasa nyeri, berair dan lebih sensitif terhadap cahaya. Partikel abu yang masuk ke mata juga bisa menimbulkan goresan pada permukaan mata. Dicky menyebut paparan abu dapat memicu konjungtivitis, yaitu peradangan pada lapisan yang melapisi bagian depan mata dan kelopak mata bagian dalam.

Risiko juga muncul saat abu terhirup. Paparannya dapat menyebabkan iritasi pada hidung dan tenggorokan, hidung berair serta batuk kering. Jika paparannya cukup berat, seseorang dapat mengalami sesak napas atau nyeri dada.

Karena itu, orang dengan asma, bronkitis kronis atau penyakit paru lainnya perlu lebih berhati-hati. Kelompok seperti anak-anak dan lansia juga termasuk yang lebih rentan akibat paparan abu vulkanik.




(sun/des)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork