Abu Anak Krakatau Tersebar Sampai Mana? Ini Wilayah Terdampak

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Senin, 07 Sep 2026 12:21 WIB
Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau di sejumlah wilayah di Indonesia. Foto: BMKG
Samarinda -

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda menjadi pusat perhatian hingga Minggu, 6 September 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan erupsi, terutama sebaran abu vulkanik yang dapat berdampak terhadap kualitas udara dan jalur penerbangan.

Berdasarkan analisis citra satelit pada 6 September 2026 pukul 08.00 WIB, BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik. Sebarannya telah mencakup wilayah yang cukup luas, mulai dari Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu.

Berdasarkan press release BMKG pada Senin (6/09), Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau tidak bergerak pada satu arah saja. Pergerakannya berbeda bergantung pada ketinggian atmosfer.

BMKG mencatat abu vulkanik pada ketinggian hingga 20.000 kaki bergerak ke arah timur laut hingga selatan. Sebaran pada lapisan ini mencakup sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta perairan di sekitarnya.

Sementara itu, abu yang berada pada ketinggian hingga 50.000 kaki bergerak lebih jauh ke arah barat daya hingga barat laut. Area yang terdampak mencakup Banten, Lampung, Bengkulu, bagian selatan Selat Sunda, hingga Samudra Hindia.

Sebaran Abu Ganggu Operasional Sejumlah Bandara

Meluasnya sebaran abu vulkanik juga berpengaruh langsung terhadap keselamatan penerbangan. Partikel abu vulkanik yang berada di ruang udara berbahaya bagi pesawat sehingga kondisi udara perlu dipantau secara ketat.

BMKG melalui Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta Tangerang telah menerbitkan Significant Meteorological Information (SIGMET) setelah erupsi awal pada 4 September 2026 pukul 23.23 WIB. Hingga 6 September, BMKG telah menerbitkan 18 SIGMET secara berkala untuk memberikan informasi mengenai kondisi yang berpotensi membahayakan penerbangan.

AirNav Indonesia kemudian melakukan penyesuaian operasional penerbangan berdasarkan perkembangan abu vulkanik. Pada 6 September, sejumlah bandar udara tercatat mengalami penutupan sementara melalui penerbitan dan pembaruan Notice to Airmen (NOTAM).

Bandara yang terdampak antara lain Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Husein Sastranegara, Pondok Cabe, Budiarto, Radin Inten II, Pagar Alam, dan Taufik Kiemas. Waktu penutupan masing-masing bandara berbeda dan dapat berubah mengikuti perkembangan kondisi ruang udara.




(des/des)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork