Setiap 1 September, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) memperingati momen bersejarah Hari Polisi Wanita (Polwan). Keberadaan polwan bukan sekadar kesetaraan gender, melainkan menjadi pilar penting penegakan hukum sekaligus perlindungan terhadap perempuan dan anak.
Kiprah para srikandi penegak hukum ini tidak lepas dari perjalanan sejarah yang panjang dan berliku. Simak sejarah dan perkembangan polwan dari sebelum pembentukan hingga era modern dalam artikel ini.
Lahirnya Polri
Menilik sejarahnya, institusi kepolisian sejatinya telah ada sejak masa kolonial Belanda hingga pendudukan Jepang. Namun, bentuk organisasi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) yang kita kenal sekarang baru terbentuk secara independen setelah proklamasi kemerdekaan.
Momen penting ini terjadi pada tanggal 1 Juli 1946 melalui diterbitkannya Penetapan Pemerintah Nomor 11 Tahun 1946. Aturan tersebut menetapkan bahwa Kepolisian Negara berada langsung di bawah Perdana Menteri. Tanggal 1 Juli inilah yang setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Bhayangkara.
Seiring dengan berjalannya waktu dan dinamika di masyarakat, Polri terus berkembang dan dituntut untuk semakin profesional, termasuk dalam hal penanganan perkara hukum yang melibatkan perempuan dan anak. Kebutuhan inilah yang kelak menjadi embrio lahirnya satuan polisi wanita (polwan).
Terbentuknya Polisi Wanita
Dikutip dari Museum Polri, pada awal tahun 1948, Polri menghadapi kendala saat harus melakukan pemeriksaan fisik terhadap korban, tersangka, maupun saksi perempuan dalam sebuah kasus. Kesulitan ini membuat pihak kepolisian sering kali terpaksa meminta bantuan istri-istri polisi atau pegawai sipil perempuan untuk melakukan tugas pemeriksaan fisik tersebut.
Menyadari situasi ini, organisasi-organisasi wanita beserta organisasi wanita Islam di Bukittinggi berinisiatif mengajukan usulan kepada pemerintah agar kaum perempuan mulai diikutsertakan dalam pendidikan kepolisian. Usulan ini disambut baik oleh Cabang Djawatan Kepolisian Negara untuk Sumatera di Bukittinggi.
Pada tanggal 1 September 1948, enam perempuan pilihan, yakni Mariana Saanin, Nelly Pauna, Rosmalina Loekman, Dahniar Sukotjo, Djasmainar, dan Rosnalia Taher, secara resmi disertakan untuk mengikuti pendidikan inspektur polisi bersama 44 siswa laki-laki di SPN Bukittinggi.
Momen bersejarah tanggal 1 September inilah yang kemudian ditetapkan dan diperingati sebagai hari lahirnya Polwan. Sayangnya, pendidikan mereka harus terhenti sementara karena meletusnya Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948.
(bai/aau)