11 Orang Utan Terdampak Karhutla, Begini Kondisinya di Kandang Evakuasi

Kalimantan Timur

11 Orang Utan Terdampak Karhutla, Begini Kondisinya di Kandang Evakuasi

Riani Rahayu - detikKalimantan
Kamis, 03 Sep 2026 21:12 WIB
Orang utan jantan bernama Indra usia 7,5 tahun yang mulai merasa bosan di kandang evakuasi. (Riani Rahayu/detikKalimantan)
Foto: Orang utan jantan bernama Indra usia 7,5 tahun yang mulai merasa bosan di kandang evakuasi. (Riani Rahayu/detikKalimantan)
Kutai Kartanegara -

Sebanyak 11 orang utan dievakuasi dari sekolah hutan Jejak Pulang KHDTK Samboja di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim). Bagaimana kondisinya?

Para orang utan diketahui kesehatannya dalam kondisi baik. Hanya saja, mereka menunjukkan kebosanan setelah dua hari berada di kandang evakuasi. Saat ini, 11 orang utan belum dapat dikembalikan ke sekolah hutan karena ancaman kebakaran masih harus dipastikan benar-benar aman.

Lokasi kandang evakuasi 11 orang utan di KHDTK Samboja di IKN, Kukar, Kaltim. (Riani Rahayu/detikKalimantan)Lokasi kandang evakuasi 11 orang utan di KHDTK Samboja di IKN, Kukar, Kaltim. (Riani Rahayu/detikKalimantan)

Head of Orangutan Care Jejak Pulang, Siti Nur Badriyah mengatakan perubahan perilaku mulai terlihat setelah orang utan dipindahkan dari sekolah hutan ke kandang. Keterbatasan ruang gerak dan stimulasi menjadi salah satu penyebab orang utan terlihat mulai bosan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebenarnya yang kami amati mereka itu terlihat bosan apabila dibandingkan saat mereka berada di dalam hutan. Kalau misalkan di dalam hutan mereka banyak mendapatkan stimulasi, terus ruang geraknya tidak terbatas, bebas bergerak ke mana-mana, ada liana untuk main, makanan atau pakan hutan tersedia di hutan," ujar Siti kepada detikKalimantan, Kamis (3/9/2026).

Berbeda dengan kondisi di sekolah hutan, aktivitas 11 orang utan menjadi terbatas selama berada di kandang evakuasi. Tim caregiver tetap memberikan stimulasi, namun fasilitas yang tersedia tidak dapat sepenuhnya menggantikan lingkungan hutan.

"Sedangkan di kandang mereka hanya bisa mendapatkan hal terbaik yang bisa dikerjakan oleh tim caregiver. Tapi hal yang mereka dapatkan itu terbatas. Jadi, ruang geraknya terbatas, tinggi kandangnya juga terbatas," jelasnya.

Jejak Pulang tidak ingin mengambil risiko dengan mengembalikan orang utan ketika ancaman kebakaran masih ada. Sebab, kondisi tersebut justru dapat kembali membahayakan satwa yang sebelumnya telah dievakuasi.

"Jejak Pulang juga enggak mungkin meletakkan para orang utan tersebut ke dalam hutan yang masih dikelilingi oleh ancaman. Itu sama saja membawa mereka ke dalam bahaya," tegasnya.

Namun, Siti juga tidak ingin orang utan terlalu lama berada di kandang. Selain ruang geraknya terbatas, stimulasi yang didapatkan juga tidak sebanyak ketika mereka beraktivitas di sekolah hutan.

"Kami juga di satu sisi enggak mau orang utan kita semua ini berada di kandang terlalu lama karena keterbatasan stimulasi yang mereka dapatkan. Tapi dalam situasi seperti ini pilihan kita terbatas," ungkapnya.

Tim Jejak Pulang pun berharap mendapat dukungan untuk menyediakan kandang yang lebih besar maupun enrichment yang lebih beragam selama masa evakuasi. Hal itu diperlukan untuk menjaga orang utan tetap aktif selama belum dapat kembali ke sekolah hutan.

"Mungkin dari pihak lain ada yang bisa menyediakan kandang yang lebih besar atau enrichment yang lebih kreatif bagi orang utannya. Biar mereka tidak merasa bosan dan tidak stres juga di dalam kandang. Selalu terstimulasi pikirannya, badannya juga untuk aktif bergerak," terangnya.

Siti menegaskan kandang bukan merupakan tempat ideal bagi orang utan dalam jangka panjang. Jejak Pulang berprinsip orang utan merupakan satwa liar yang seharusnya menjalani aktivitas di dalam hutan.

"Kami berprinsip bahwa rumah orang utan itu bukan di kandang. Jadi, kalau itu bukan di rumahnya, ya sebisa mungkin jangan ditempatkan di kandang. Mereka adalah satwa liar yang memang seharusnya hidup di hutan," tuturnya.

Diketahui, sebanyak 12 kandang disiapkan untuk menampung 11 orang utan yang dievakuasi. Orang utan tersebut berusia 6 hingga 15 tahun, terdiri dari enam jantan dan lima betina.

"Satu kandang bisa satu atau dua orang utan. Untuk kandang besar bisa dua orang utan, untuk yang ukurannya lebih kecil itu bisa satu orang utan," katanya.

Dari sisi kesehatan, Dokter Hewan Jejak Pulang drh Tetri Regilya memastikan kondisi seluruh orang utan masih baik setelah dua hari berada di kandang. Belum ditemukan gejala gangguan pernapasan atau ISPA akibat karhutla yang sebelumnya mengancam sekolah hutan.

"Sejauh ini masih belum nampak ya. Belum nampak karena sejauh ini juga mereka masih baik-baik aja. Belum ada kayak gejala yang sampai ke ISPA," ujar Tetri.

Meski demikian, kondisi kesehatan seluruh orang utan masih terus diobservasi. Tetri mengatakan gejala gangguan kesehatan akibat kondisi sebelumnya tidak selalu dapat terlihat dalam waktu singkat.

"Kita perlu observasi lebih dalam lagi karena gejala itu enggak bisa kayak hari pertama dia langsung ketahuan. Bisa jadi kayak seminggu setelah pindah dari hutan ke kandang itu baru kelihatan," jelasnya.

Tetri memastikan sejauh ini tidak ada orang utan yang mengalami demam maupun pilek. Mereka juga belum menunjukkan perilaku mengamuk meski diperkirakan sempat mengalami syok akibat perubahan lingkungan secara tiba-tiba.

"Mereka pasti syok ya, kaget ketika dibawa dari sekolah hutan yang sebelumnya mereka main-main di hutan, terus habis itu tiba-tiba mereka dikandangkan. Tapi belum ada sampai seperti itu, makanya saat ini masih kita observasi terus mereka seperti apa," katanya.

Sementara itu, General Manager Yayasan Jejak Pulang, Rahmat Novirsal mengatakan kandang yang kini ditempati 11 orang utan tersebut merupakan fasilitas yang dipinjamkan kepada Yayasan Jejak Pulang. Fasilitas itu sebelumnya sudah tidak digunakan selama sekitar satu tahun.

"Kami berterima kasih kepada Balai Perhutanan Sosial yang telah meminjamkan kami kandang mereka yang sudah tidak dipakai selama satu tahun untuk menjadi tempat sementara evakuasi orang utan," jelasnya.

Rahmat belum dapat memastikan berapa lama 11 orang utan tersebut harus bertahan di kandang evakuasi. Terlebih, ancaman El Niño diperkirakan masih akan berlangsung sehingga kondisi tersebut dinilai bukan persoalan yang dapat dihadapi dalam waktu singkat.

"Mengingat masih adanya bahaya El Niño ke depan yang mungkin sampai 2027, ini bagi kami adalah sebuah maraton, bukan sprint lagi," tegasnya.

Jejak Pulang baru akan mengembalikan 11 orang utan tersebut apabila kawasan sekolah hutan dinilai tidak lagi terancam kebakaran. Keputusan pemindahan kembali juga akan mempertimbangkan hasil analisis kondisi kawasan dan kesiapan menghadapi potensi kebakaran.

"Begitu sudah ada analisis dan partisipasi di mana kebakaran hutan sudah tidak menjadi ancaman bagi orang utan yang kami rehabilitasi, itulah saat yang tepat untuk memindahkan kembali orang utan yang kami evakuasi di kandang karantina sampai saat ini untuk kembali ke tempatnya, yaitu sekolah hutan," katanya.

Rahmat berharap kondisi hutan segera memungkinkan 11 orang utan kembali menjalani rehabilitasi di sekolah hutan. Jejak Pulang juga berharap nantinya mendapatkan lokasi pelepasliaran bagi orang utan yang telah menyelesaikan proses rehabilitasi.

"Mudah-mudahan juga kami doakan kami untuk bisa mendapatkan tempat rilis bagi orang utan kami," pungkasnya.



(aau/aau)

Koleksi Pilihan

Kumpulan artikel pilihan oleh redaksi detikkalimantan

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads