Perjuangan melawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, meninggalkan duka mendalam. Seorang relawan pemadam kebakaran (damkar), Ahmadin alias Itam Madin bin Gusti Djamliansyah, meninggal dunia setelah sebelumnya menjalani perawatan di RSUD Sultan Imanudin Pangkalan Bun.
Ahmadin merupakan relawan Damkar Huma Singgah Itah yang turut terlibat dalam penanganan karhutla di wilayah Kobar. Setelah bertugas di tengah kondisi yang penuh risiko, ia sempat mendapat penanganan medis di rumah sakit setelah sesak napas karena asap sejak satu pekan lalu.
Namun, kondisi Ahmadin kemudian memburuk. Ia mengembuskan napas terakhir pada Minggu (30/8/2026) malam. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kobar, Dwi Agus Suhartono membenarkan kabar duka tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Telah berpulang ke Rahmatullah. Hari ini almarhum dimakamkan," kata Dwi, Senin (31/8/2026).
Dwi menjelaskan sebelumnya terdapat dua anggota Satgas Karhutla yang harus mendapatkan perawatan di RSUD Sultan Imanudin. Ahmadin menjadi salah satu di antaranya. Namun, perjuangannya berakhir setelah dinyatakan meninggal dunia, sementara satu petugas lainnya masih menjalani perawatan.
"Kepergian Ahmadin menjadi pukulan bagi keluarga, rekan sesama relawan, serta para petugas yang selama ini berjuang menangani karhutla," kata dia.
Di tengah musim kebakaran yang melanda sejumlah wilayah Kobar, para relawan harus bekerja dalam kondisi yang tidak mudah. Panas, asap, medan yang sulit dijangkau, hingga ancaman kesehatan menjadi bagian dari risiko yang harus mereka hadapi ketika berada di lapangan.
Bagi masyarakat, titik api mungkin hanya terlihat sebagai kepulan asap dari kejauhan. Namun bagi para petugas, setiap titik api berarti pekerjaan berat yang harus segera dikendalikan agar tidak menjalar ke wilayah lain.
Ahmadin menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla memiliki risiko besar terhadap keselamatan manusia. Persoalan kebakaran hutan dan lahan bukan hanya tentang luas area yang terbakar atau jumlah titik panas, tetapi juga tentang keselamatan orang-orang yang berada di garis depan untuk memadamkannya.
"Karena itu, keselamatan petugas harus menjadi bagian penting dalam setiap operasi penanganan karhutla. Ketersediaan peralatan, perlindungan kesehatan, hingga pemantauan kondisi personel di lapangan menjadi hal yang tidak boleh diabaikan," katanya.
Duka atas meninggalnya Ahmadin juga menjadi momentum untuk memperkuat upaya pencegahan karhutla. Masyarakat diharapkan tidak melakukan pembakaran lahan sembarangan yang berpotensi memicu kebakaran lebih luas.
Sebab, ketika api mulai membesar, bukan hanya hutan dan lahan yang menjadi taruhan. Ada petugas dan relawan yang harus turun langsung menghadapi risiko untuk mengendalikan kobaran tersebut.
Kepergian Ahmadin meninggalkan pesan kuat: di balik setiap titik api, ada manusia yang mempertaruhkan keselamatan untuk memadamkannya.
"Semoga almarhum Ahmadin mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT, keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, dan petugas Satgas Karhutla yang masih menjalani perawatan segera diberikan kesembuhan. Selamat jalan, Ahmadin. Pengabdianmu di garis depan penanganan karhutla akan selalu dikenang," pungkasnya.
