Relawan Karhutla Sakit hingga Gugur, Pakar Soroti 5 Langkah Lindungi Pemadam

Relawan Karhutla Sakit hingga Gugur, Pakar Soroti 5 Langkah Lindungi Pemadam

Debora Danisa Kurniasih Perdana Sitanggang - detikKalimantan
Sabtu, 29 Agu 2026 18:29 WIB
Petugas Manggala Agni melakukan pemadaman kebakaran di Hutan Lindung Gambut Londerang, Jambi
Petugas pemadam karhutla. Foto: (Foto: Istimewa/Manggala Agni)
Palangka Raya -

Petugas dan relawan pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan mulai terdampak kesehatannya setelah berjibaku dengan asap selama berhari-hari. Bahkan ada yang sampai harus dilarikan ke IGD serta meninggal dunia usai bertugas. Pakar pun mendorong agar keamanan dan keselamatan petugas serta relawan di lapangan perlu diperhatikan dengan melakukan lima hal.

Hal tersebut disampaikan Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Prof Tjandra Yoga Adithama. Prof Tjandra menyinggung tentang meninggalnya Ketua Tim Serbu Api Kelurahan (TSAK) Palangka Raya, Akhmad Rinjani, setelah drop saat bertugas memadamkan api dan dirawat di rumah sakit selama enam hari.

"Kita amat berduka cita dengan wafatnya Ketua Tim Serbu Api Kelurahan (TSAK) Palangka Kalimantan, Bapak Akhmad Rijani, sesudah melaksanakan tugas memadamkan api di lapangan," ungkapnya dalam keterangan yang diterima detikKalimantan, Sabtu (29/8/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tjandra kemudian memaparkan ada lima hal yang harus dilakukan untuk melindungi petugas dan relawan yang bertugas memadamkan api karhutla di lapangan. Pertama tentu pemeriksaan kesehatan sebelum bertugas.

Pemeriksaan dilakukan dalam bentuk skrining kesehatan yang memadai sebelum menjadi petugas dan relawan, untuk mengetahui keadaan kesehatan secara keseluruhan dan ada tidaknya penyakit kronik. Hal ini perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan. Bila perlu setiap hari sebelum bertugas.

"Kalau sedang tidak fit maka baiknya tidak bertugas, atau diberi tugas yang lebih ringan saja," ujarnya.

Kedua, petugas dan relawan perlu menggunakan perlindungan diri yang baik. Perlindungan yang dimaksud dalam bentuk masker yang baik.

"Akan lebih baik lagi kalau yang lebih lengkap seperti respirator," sambung Tjandra.

Ketiga, perlu ada pengaturan jadwal kerja/tugas yang jelas, jangan sampai ada petugas/relawan yang terlalu kelelahan. Kemudian keempat, Tjandra menilai perlu makan bergizi bagai para petugas/relawan serta tambahan suplemen makanan atau vitamin. Terakhir, bila memang ada petugas/relawan yang jatuh sakit, maka harus ada mekanisme yang jelas untuk penanganan maksimal di klinik dan rumah sakit.

"Para petugas/relawan ini sudah bekerja amat keras bagi kepentingan masyarakat, jadi perlu mendapat pelayanan kesehatan yang amat baik pula ketika terpaksa jatuh sakit," tegas Tjandra.



(des/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads