Lindungi Rumah Warga, Relawan Karhutla Palangka Raya Alami Luka Serius

Kalimantan Tengah

Lindungi Rumah Warga, Relawan Karhutla Palangka Raya Alami Luka Serius

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Minggu, 30 Agu 2026 21:26 WIB
Relawan Maulana Adi Saputra (20) mengalami luka bakar saat melindungi rumah warga dari karhutla di kalte. (dok Istimewa)
Foto: Relawan Maulana Adi Saputra (20) mengalami luka bakar saat melindungi rumah warga dari karhutla. (dok Istimewa)
Palangka Raya -

Usaha Maulana Adi Saputra (20) untuk mencegah kobaran kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang merembet ke rumah warga tidak berakhir sesuai harapan. Dia harus mengalami luka bakar yang cukup serius.

Anggota relawan Pemadam Kebakaran Cinta Masyarakat (PKCM) tersebut tersambar api saat berjibaku memadamkan karhutla di kawasan Jalan Yos Sudarso XVIII, Kota Palangka Raya, Senin (24/8/2026) pagi.

Berawal sekitar pukul 09.00 WIB, Maulana bersama rekan-rekannya menerima informasi adanya kebakaran. Mereka langsung bergerak menuju lokasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sesampainya di sana, kobaran api sudah cukup besar dan merambat di lahan yang sebagian merupakan kawasan gambut dengan semak belukar serta pepohonan kering. Angin yang bertiup cukup kencang membuat arah pergerakan api sulit diprediksi.

Situasi semakin mengkhawatirkan karena titik kebakaran berada dekat permukiman. Setidaknya terdapat lima rumah warga di sekitar lokasi.

"Kondisi api saat itu sudah sangat dekat dengan rumah warga. Jadi kami masuk ke dalam untuk berupaya memadamkan api agar tidak merembet ke arah rumah warga," ujar Maulana, Minggu (30/8/2026) pagi.

Maulana bersama sejumlah rekannya kemudian masuk lebih jauh ke area kebakaran. Mereka berupaya memadamkan api sekaligus mengamankan permukiman yang berada paling dekat dengan kobaran.

Namun, kondisi berubah dalam hitungan waktu. Api yang sebelumnya bergerak ke satu arah tiba-tiba berubah mengikuti perubahan angin.

"Awalnya api berada di sebelah kanan dan angin mengarah ke kiri. Saat saya keluar, arah angin berubah dengan cepat sehingga api mengarah ke badan saya," tuturnya.

Maulana menjadi salah satu relawan yang keluar paling terakhir. Saat hendak meninggalkan lokasi, kobaran api dari bagian belakang justru menutup akses keluar.

"Api yang berada di belakang menyambar ke lahan kering lainnya dan menutup akses keluar kami. Kebetulan saya yang keluar terakhir. Saat berusaha keluar, api mengenai baju dan badan saya," ungkapnya.

Rekan-rekannya segera memberikan pertolongan setelah Maulana berhasil keluar dari kepungan api. Air disiramkan ke tubuhnya untuk membantu mengurangi panas akibat luka bakar.

Tak hanya Maulana, kondisi relawan lainnya juga cukup berat. Kepungan asap membuat sejumlah relawan mengalami sesak napas. Bahkan beberapa di antaranya muntah setelah berhasil keluar dari lokasi.

"Semua teman saya yang berada di dalam saat keluar itu muntah-muntah semua karena tidak bisa bernapas. Kami terkepung asap, api dan angin yang cukup deras. Semuanya menjadi satu saat kami berada di dalam," katanya.

Proses pemadaman saat itu juga menghadapi keterbatasan sumber air. Tim mengandalkan pasokan dari mobil tangki, termasuk dukungan kendaraan tangki milik Dinas Kehutanan. Diperkirakan sekitar 30 orang berada di lokasi, terdiri dari relawan dan petugas yang membantu penanganan karhutla.

Maulana mengatakan, salah satu persoalan yang dihadapi relawan adalah keterbatasan perlengkapan keselamatan. Saat bertugas, para relawan belum memiliki alat pelindung diri (APD) lengkap yang dirancang untuk menghadapi kobaran api.

"Yang kami bawa saat itu hanya oksigen. Untuk alat pelindung diri yang lebih lengkap dan bisa memberikan perlindungan dari api, teman-teman relawan belum memilikinya," ujarnya.

Kondisi Maulana juga tidak langsung diketahui sebagai luka bakar serius. Setelah kejadian, ia masih berada di lokasi dan baru pulang pada malam hari.

Sesampainya di rumah, kondisi tubuhnya semakin mengkhawatirkan. Luka bakar mulai melepuh dan mengeluarkan cairan sehingga keluarganya kemudian membawanya ke RS Bhayangkara.

"Malamnya setelah pulang dari lokasi, saya melihat badan sudah melepuh semua, bergelembung dan berair. Setelah itu baru saya dibawa ke RS Bhayangkara," katanya.

Maulana menjalani perawatan medis selama sekitar dua hari. Berdasarkan keterangan dokter, luka bakar yang dialaminya mencapai sekitar 75 persen dari tubuhnya.

"Harapannya semoga karhutla ini cepat tuntas dan padam, sehingga kita bisa melihat langit kembali biru. Untuk teman-teman yang masih di lapangan, semoga tidak terjadi lagi seperti yang saya alami," pungkasnya.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video Situasi Karhutla Terkini: Titik Api di Kalimantan Naik, Sumatera Turun"
[Gambas:Video 20detik] (bai/bai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads