Dilema dirasakan warga Kalimantan Selatan, tepatnya wilayah Banjar, Banjarbaru, dan sekitarnya yang terdampak karhutla. Kabut asap dampak karhutla dirasakan warga semakin parah.
Pantauan detikKalimantan pada Jumat (28/8/2026), asap tebal mengepung wilayah Martapura dan sekitarnya sejak pagi hingga siang hari. Saat ini warga setempat dihadapkan dilema, antara harus menerobos kabut asap dengan jarak pandang yang sempit untuk beraktivitas, atau jika bisa memilih maka harus mengungsi untuk sementara.
Kabut asap di Kabupaten Banjar. (Khairun Nisa/detikKalimantan) |
Kedua pilihan itu bukanlah hal yang nyaman. Seperti dikeluhkan Wahyu dan Randy, dua warga Banjar yang setiap pagi punya rutinitas mengantar anak sekolah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Banjar, anak-anak tetap diminta bersekolah seperti biasanya. Tak ada surat edaran yang meringankan sektor pendidikan selama kabut asap ini terjadi. Menurut Wahyu, beraktivitas di luar rumah berselimut kabut asap tak baik untuk kesehatan anak-anak.
"Ini (kabut asap) sudah sangat mengganggu kesehatan anak-anak tetapi masih belum ada kebijakan yang diambil," keluhnya, Jumat (28/8/2026).
Wahyu menyebut jika anaknya tetap bersekolah seperti biasanya meski ada kabut asap. Berbeda dengan kota Banjarbaru yang sudah mengambil kebijakan untuk pembelajaran jarak jauh (PJJ).
Kabut asap di Kabupaten Banjar. (Khairun Nisa/detikKalimantan) |
Di Kabupaten Banjar belum ada kebijakan untuk meliburkan sementara pembelajaran atau diadakan PJJ. Ia berharap, dinas dan pemerintah daerah terkait bisa segera mengambil tindakan dengan kondisi ini.
"Harusnya dari dinas terkait benar-benar prihatin terhadap warganya, terutama anak-anak yang masuk sekolah. Di tengah kabut asap pekat kasihan anak-anak jika tetap berangkat sekolah," sebutnya.
Sekedar diketahui, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan mengeluarkan surat edaran (SE) terkait kesiapsiagaan dan penyesuaian pembelajaran dalam kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.
Surat edaran Nomor 9 Tahun 2026 itu dikeluarkan pada Kamis (20/8) dan ditandatangani langsung oleh Kepala Disdikbud Kalsel, Abdul Rahim. Diinstruksikan agar pembelajaran bisa disesuaikan dengan situasi tingkat risiko, dengan ketentuan bahwa pembelajaran dapat dilaksanakan secara normal apabila kondisi udara dan lingkungan sekolah memungkinkan.
Wahyu ingin pemerintah daerah lebih memperhatikan kondisi masyarakatnya. Apalagi, di Kabupaten Banjar kerap terjadi kebakaran hutan dan lahan di beberapa wilayah.
Hal senada disampaikan oleh Randy, ia mengaku kabut asap sudah sangat mengganggu pernafasan anaknya. Namun, belum ada tindakan untuk regulasi PJJ dari Bupati maupun dinas terkait.
"Cepat lah ditindak, sebelum ada korban kabut asap," harapnya.
Warga Banjarbaru Harus Mengungsi
Warga Banjarbaru, Aina dan anaknya, saat harus mengungsi sementara di rumah saudara. (Khairun Nisa/detikKalimantan) |
Sementara di lain sisi, pilihan tak menguntungkan juga harus dipilih Aina, warga Banjarbaru. Meski di Banjarbaru sudah ditetapkan anak bisa bersekolah dari rumah, pekatnya kabut asap tetap terasa menyesakkan di ibukota Kalsel ini.
Bahkan dirasakan Aina, karhutla di Banjarbaru kian mendekati permukiman warga dan menimbulkan kepulan asap yang pekat. Akibatnya, beberapa warga yang memiliki balita memilih meninggalkan rumah dan mengungsi sementara hingga udara dan asap membaik.
Aina kemudian harus membawa anaknya yang berusia kurang dari 5 tahun untuk mengungsi ke rumah saudara.
"Kabut asapnya malam sampai pagi, ini lebih mending karena ada angin. Ternyata ada api lagi tadi di samping rumah jadi mengungsi," ujar Aina, Jumat (28/8/2026).
Mengingat hanya membawa sang anak saat mengungsi, Aina berniat untuk kembali lagi ke rumah di saat asap sudah mulai berkurang. Namun untuk sementara waktu, ia membawa anaknya ke pengungsian terlebih dahulu.
"Nanti balik lagi ke rumah, sementara aja," harapnya.
Ia mengaku merasa aktivitasnya terganggu akibat kabut asap ini, sebab ia tidak bisa lagi leluasa untuk beraktivitas di luar ruangan karena kabut yang semakin pekat. Ia khawatir dengan kondisi kesehatan anaknya di tengah kabut asap.
"Sangat mengganggu aktivitas. Tapi sejauh ini anak tetap sehat walau sempat terkena asap," ujarnya.
Aina berharap kondisi ini bisa segera berakhir dan ia bisa kembali tinggal di rumah tanpa khawatir dengan api maupun asap yang tebal.
"Mudahan cepat pulih," doa Aina.



