Kalimantan Flashback

Catatan Karhutla Terparah yang Pernah Menimpa Pulau Kalimantan

Anindyadevi Aurellia - detikKalimantan
Sabtu, 22 Agu 2026 05:59 WIB
Karhutla di Palangka Raya tahun 2023. Foto: Antara Foto/Auliya Rahman
Balikpapan -

Pulau Kalimantan tengah dilanda kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang cukup parah beberapa waktu ini. Dampak kabut asap melanda hingga negeri tetangga.

Bencana karhutla tahun ini bukanlah kejadian pertama. Jauh menengok ke belakang, karhutla pernah menimpa Kalimantan dengan skala yang cukup parah.

Pulau terbesar kedua di Indonesia ini kerap mengalami kebakaran besar hampir setiap tahunnya. Bahkan, Kalimantan pernah mengalami salah satu bencana lingkungan terbesar dalam sejarah Indonesia, yakni kebakaran hutan tahun 1997-1998.

Berikut catatan beberapa kejadian dari tahun 1997, 2015, dan 2019 dirangkum oleh tim detikKalimantan:

1. Karhutla Kalimantan Tahun 1997

Dampak El Nino di Indonesia tahun 1997. Terlihat sebagian besar wilayah Indonesia mengalami kekeringan fatal. (dok BMKG)

Karhutla di periode tahun 1997-1998 menjadi salah satu bencana kebakaran hutan terbesar dalam dua abad terakhir. Peristiwa tersebut menghanguskan jutaan hektare hutan alami dan juga menyebabkan kabut asap yang berdampak lintas negara.

Dari peristiwa ini, aktivitas ekonomi, transportasi, dan tentu kesehatan masyarakat di Indonesia serta negara tetangga Malaysia, Singapura, dan Brunei juga ikut terganggu. Peristiwa tersebut disebut menjadi salah satu bencana lingkungan terbesar di Asia Tenggara pada abad ke-20.

Musim kemarau panjang akibat El Niño 1997-1998 disebut jadi salah satu pemicu utama kebakaran besar di Indonesia kala itu. Menurut beberapa catatan, saat itu curah hujan turun drastis selama berbulan-bulan sehingga vegetasi dan lahan gambut mengering.

Namun ternyata para peneliti mengungkap bahwa kekeringan bukan satu-satunya penyebab kebakaran. Menurut laporan Center for International Forestry Research (CIFOR), sebagian besar titik api justru berasal dari aktivitas manusia, terutama pembukaan lahan menggunakan metode pembakaran untuk perkebunan dan pertanian.

Ketika api mulai membesar, kondisi angin yang kencang membuat kobaran cepat menyebar hingga masuk ke kawasan hutan primer, hutan produksi, dan lahan gambut. Diperkirakan seluas 5 juta hektare kawasan di Kalimantan terbakar.

Pulau ini menjadi daerah dengan peristiwa kebakaran hutan terluas saat itu, terutama di wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.

Asap pekat akibat kebakaran menyelimuti hampir seluruh Kalimantan selama berbulan-bulan, bahkan menyebar hingga Sumatra, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand bagian selatan, dan Filipina.

2. Karhutla Kalimantan Tahun 2015

Presiden Jokowi saat di lokasi kebakaran hutan dan lahan tahun 2015. Foto: Setpres

Kebakaran hutan terjadi di berbagai titik di Sumatera dan Kalimantan. Kebakaran hebat itu mengakibatkan asap yang sampai ke rumah warga bahkan hingga ke Singapura dan Malaysia. Termasuk juga di Kalimantan Tengah.

Dikutip dari laman Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kebakaran tahun 2015 menjadi salah satu yang terparah dengan luas area terbakar mencapai sekitar 2,6 juta hektare, menyebabkan puluhan korban jiwa dan ratusan ribu kasus gangguan pernapasan.

Kerugian ekonomi akibat peristiwa tersebut diperkirakan mencapai ratusan triliun rupiah. Selain itu, kabut asap mengganggu aktivitas transportasi, pendidikan, dan ekonomi, serta memicu ketegangan diplomatik di kawasan.

Kabut asap di Palangkaraya Sabtu (26/9/2015) Foto: Wulan/pembaca detikcom

Berbagai kajian menunjukkan bahwa sebagian besar karhutla di Indonesia dipicu oleh aktivitas manusia. Praktik pembukaan lahan dengan cara membakar masih menjadi metode yang banyak digunakan karena dianggap murah dan cepat, baik oleh perusahaan maupun petani kecil. Api pada lahan gambut bahkan dapat membara di bawah permukaan tanah dalam waktu lama dan sulit dipadamkan.

Dalam catatan liputan detikcom, tahun 2015 menjadi bencana yang mengerikan bagi warga Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Kabut asap dampak karhutla tak kunjung hilang, bahkan warga menyebut sudah sepanjang bulan Agustus hingga September, mereka tak melihat matahari.

Aktivitas dan kesehatan warga setempat pun terganggu. Suplai makanan juga berkurang karena distribusi terhambat kabut asap.

Sebaran asap kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dan Sumatera semakin meluas. Bahkan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB kala itu, Sutopo Purwo Nugroho, menyebut kabut asap sudah sampai di langit Jakarta.



Simak Video "Video: Blak-blakan Komisi IV DPR Soal Luasan Lahan Terbakar di 2026"


(aau/bai)
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork