Cara Cegah ISPA di Tengah Karhutla Kalimantan, Lindungi Diri dari Kabut Asap

Cara Cegah ISPA di Tengah Karhutla Kalimantan, Lindungi Diri dari Kabut Asap

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Kamis, 20 Agu 2026 06:00 WIB
Kabut asap di Banjarbaru. (Khairun Nisa/detikKalimantan)
Foto: Kabut asap di Banjarbaru. (Khairun Nisa/detikKalimantan)
Samarinda -

Kebakaran hutan dan lahan kembali menyebar di sepanjang Kalimantan dan meningkat pada Agustus 2026. Dampaknya bukan hanya merugikan lingkungan, tapi juga menimbulkan masalah kesehatan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut titik panas meningkat di Indonesia terutama di Kalimantan dan Papua seiring dengan kondisi cuaca yang relatif kering. Situasi ini terjadi saat Indonesia memasuki periode yang dipengaruhi El Nino.

Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah yang lebih dulu meningkatkan status kewaspadaan akibat karhutla. BPBD Kalimantan Barat memperpanjang status siaga darurat bencana asap hingga 15 November 2026 setelah mendeteksi 200 hotspot di 12 kabupaten berdasarkan data BMKG Supadio per 27 Juli 2026. Kubu Raya menjadi daerah dengan hotspot terbanyak, yakni 64 titik, disusul Ketapang 56 titik dan Kayong Utara 53 titik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi serupa terjadi di Kalimantan Selatan. Kabut asap karhutla pada Rabu (19/8/2026) bahkan berdampak terhadap operasional Bandara Internasional Syamsudin Noor di Banjarbaru. Sebanyak 12 penerbangan dilaporkan mengalami keterlambatan akibat jarak pandang yang terganggu asap.

Asap Karhutla Bisa Picu Gangguan Pernapasan

Selain mengganggu jarak pandang, kabut asap menjadi ancaman serius bagi kesehatan. Partikel halus seperti PM2.5 bisa masuk ke saluran pernapasan dan menyebabkan iritasi maupun peradangan. Kementerian Kesehatan menyebut paparan polusi udara dapat memicu berbagai gangguan, mulai dari iritasi mata dan hidung hingga memperburuk asma dan gangguan paru.

Dampaknya sudah terlihat di sejumlah daerah Kalimantan. Di Kalimantan Tengah, misalnya, 2.052 warga tercatat mengalami ISPA dalam satu pekan seiring meningkatnya paparan asap karhutla. Sementara di Palangka Raya, jumlah kasus ISPA dilaporkan mencapai 12.394 kasus.

Di Kotawaringin Barat, empat wilayah kerja puskesmas bahkan masuk kategori zona merah kasus ISPA. Puskesmas Sungai Rangit mencatat 395 kasus, disusul Kumai 193 kasus, Madurejo 183 kasus dan Karang Mulya 137 kasus pada periode minggu ke-26 hingga minggu ke-30 2026.

Cara Cegah ISPA Saat Karhutla

Cara mencegah ISPA di area karhutla.Cara mencegah ISPA di area karhutla. Foto: Dok. Dinkes Berau

Menghadapi kondisi berbahaya ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Berau membagikan sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat kabut asap karhutla. Berikut cara yang bisa diterapkan.

1. Gunakan masker saat berada di luar rumah

Masker adalah senjata paling penting saat beraktivitas di luar ruangan. Untuk perlindungan terhadap partikel halus, WHO merekomendasikan penggunaan masker yang terpasang dengan baik seperti N95 atau FFP2 apabila harus keluar ketika asap tinggi.

2. Tutup pintu dan jendela rumah

Ketika asap mulai masuk ke permukiman, tutup pintu dan jendela untuk mengurangi masuknya polutan dari luar. Langkah ini juga dianjurkan WHO agar tetap berada di dalam ruangan dengan pintu dan jendela tertutup ketika asap kebakaran sedang memuncak.

3. Perbanyak minum air putih

Meningkatkan intensitas minum air putih juga bisa membantu melawan ISPA secara tidak langsung. Asupan cairan membantu menjaga tubuh tetap terhidrasi saat berada dalam kondisi cuaca panas dan berasap.

4. Konsumsi makanan bergizi

Asupan makanan bergizi tetap penting di tengah kondisi kering seperti ini karena dapat membantu menjaga kondisi tubuh. Pilih makanan dengan sumber karbohidrat, protein, sayur dan buah yang seimbang.

5. Jaga kebugaran tubuh

Beraktivitas juga tetap harus dilakukan untuk menjaga kebugaran, tetapi memang perlu disesuaikan dengan kondisi udara. Saat udara sedang buruk atau asap sangat pekat, hindari olahraga di luar ruangan. Jika detikers ingin berolahraga, pilih waktu dan tempat dengan kondisi udara yang lebih baik atau lakukan aktivitas di dalam ruangan.

6. Rajin cuci tangan dengan sabun

Kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun juga masih harus terus dilakukan. Selain menjaga kebersihan, kebiasaan ini membantu mengurangi risiko penyebaran berbagai penyakit infeksi. Pastikan tangan dicuci terutama sebelum makan, setelah beraktivitas di luar rumah dan setelah menyentuh benda atau permukaan yang berpotensi kotor.

Jika karhutla semakin meluas, detikers sebaiknya memantau informasi kualitas udara dan perkembangan karhutla melalui kanal resmi milik BMKG atau BPBD di berbagai media sosial.

Perlu diwaspadai jika detikers mengalami gejala seperti batuk, pilek, sakit tenggorokan, sesak napas, atau gangguan pernapasan lainnya. Jika keluhan muncul atau semakin berat, jangan menunda untuk memeriksakannya ke fasilitas kesehatan terdekat.

Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan asma atau penyakit paru kronis perlu mendapat perhatian lebih karena paparan asap dapat memperburuk kondisi yang sudah ada.

Dengan kondisi karhutla yang masih menguat di sejumlah wilayah Kalimantan, adalah suatu kewajiban untuk menjaga kesehatan dan mengurangi kegiatan di luar ruangan. Yuk, jaga selalu kondisi kesehatan dengan ikuti langkah-langkah di atas!

Halaman 2 dari 3
(des/des)

Koleksi Pilihan

Kumpulan artikel pilihan oleh redaksi detikkalimantan

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads