Karhutla di Indonesia Makin Parah, Singapura Siap-siap Hadapi Kabut Asap

Internasional

Karhutla di Indonesia Makin Parah, Singapura Siap-siap Hadapi Kabut Asap

Novi Christiastuti - detikKalimantan
Rabu, 19 Agu 2026 15:00 WIB
People take photos near the Singapore Flyer observatory wheel shrouded by haze August 26, 2016. REUTERS/Edgar Su
Kabut asap di Singapura tahun 2016. Foto: REUTERS/Edgar Su
Samarinda -

Badan Lingkungan Hidup Nasional (NEA) Singapura mengeluarkan imbauan bagi warga Singapura terkait kemungkinan terjadinya kabut asap di wilayah mereka, mengingat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia semakin parah.

Dikutip detikcom dari kantor berita Bernama dan Channel News Asia pada Rabu (19/8/2026), NEA menyatakan kabut asap kebakaran di Sumatera dan Kalimantan diprediksi akan menyelimuti Singapura karena embusan angin. Hal ini kemungkinan diperparah dengan kondisi cuaca kering yang terus berlangsung.

"Kondisi kering diperkirakan akan berlanjut dalam beberapa hari mendatang. Dengan adanya angin yang bertiup dari arah tenggara atau barat daya, Singapura berpotensi mengalami kabut asap jika kebakaran tersebut semakin intensif," kata NEA dalam imbauan yang dirilis pada Senin (17/8/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Singapura mengalami bulan Agustus yang sebagian besar kering. Hujan turun hanya dalam beberapa hari dengan durasi singkat, sehingga total curah hujan di seluruh wilayah pulau itu berada jauh di bawah rata-rata. Pembentukan awan hujan terhambat akibat massa udara kering yang menyelimuti Singapura dan sekitarnya.

NEA menyatakan titik panas disertai kepulan asap semakin banyak terdeteksi di wilayah Sumatera bagian tengah dan selatan yang secara geografis sangat dekat dengan Singapura. Titik panas juga ditemukan di berbagai wilayah Kalimantan, mulai dari timur hingga ke barat.

Dalam imbauannya, NEA menjelaskan bahwa kondisi Monsun Barat Daya sedang berlangsung di Singapura dan wilayah sekitarnya. Angin diperkirakan bertiup dari arah tenggara atau barat daya. Suhu udara harian maksimum diperkirakan mencapai kisaran 33-35 derajat Celsius.

Pihak NEA juga menyatakan akan terus memantau situasi terkini secara ketat dan memberikan informasi serta imbauan harian terkait kabut asap. Terutama apabila Indeks Standar Polutan (PSI) periode 24 jam telah mencapai level tidak sehat. Sejauh ini, angka PSI di Singapura tercatat mengalami kenaikan selama akhir pekan, tetapi masih dalam level moderat.

Pada Juni lalu, sebuah lembaga kajian Singapura memperingatkan bahwa Asia Tenggara menghadapi risiko tinggi kabut asap lintas perbatasan yang parah sepanjang sisa tahun 2026.

Dalam laporan Haze Outlook 2026, Institut Urusan Internasional Singapura menyatakan bahwa kondisi tersebut diperkirakan mencapai puncaknya antara Agustus dan September, seiring dengan fenomena El Nino yang membawa cuaca lebih panas dan kering.

Baca selengkapnya di sini.



(des/des)

Koleksi Pilihan

Kumpulan artikel pilihan oleh redaksi detikkalimantan

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads