Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti sejumlah kawasan di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, Rabu (19/8/2026) pagi. Asap yang terlihat semakin pekat membuat jarak pandang pengguna jalan terganggu.
Kondisi tersebut memaksa pengendara lebih berhati-hati karena kendaraan di depan tidak selalu terlihat jelas dari jarak aman. Pantauan di lapangan, kepulan asap tampak menyelimuti sejumlah ruas jalan.
Salah satu kawasan yang cukup terasa dampaknya berada di sekitar Bundaran Pangkalan Lima.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Evan Kurniawan warga Pangkalan Bun, mengatakan dirinya harus mengurangi kecepatan ketika melintas di tengah kepungan asap. Menurutnya, kondisi tersebut cukup berisiko apabila pengendara lain tetap memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi.
"Kita hati-hati, takutnya yang di depan kita buru-buru dan nggak melihat. Jarak pandangnya terganggu," kata Evan, Rabu pagi.
Foto Asap pekat di Pangkalan Bun Kotawaringin Barat, Rabu (19/8/2026) pagi. Foto: Sigit Pamungkas/detikKalimantan |
Ia mengaku kondisi asap paling pekat dirasakannya ketika berada di Bundaran Pangkalan Lima.
"Waktu itu saya berada di Bundaran Pangkalan Lima, asapnya pekat banget," ujarnya.
Menurut Evan, jarak pandang yang terbatas membuat pengendara harus ekstra waspada terhadap kendaraan yang tiba-tiba muncul dari balik kepulan asap. Gangguan akibat asap karhutla rupanya tak hanya dirasakan pengguna jalan. Aktivitas wisata klotok di Pangkalan Bun juga ikut terdampak.
Rudianto, salah seorang penarik klotok wisata, mengaku kepulan asap sangat mengganggu aktivitasnya. Selain membuat pandangan terbatas, kondisi udara yang dipenuhi asap juga membuatnya mengalami sesak napas.
"Asapnya luar biasa. Bukan cuma mengganggu jarak pandang, tapi napasku juga sesak," kata Rudianto.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pelaku wisata yang setiap hari beraktivitas di luar ruangan. Asap yang semakin pekat dikhawatirkan dapat mengurangi kenyamanan wisatawan sekaligus mengganggu aktivitas ekonomi yang bergantung pada sektor pariwisata.
"Tak hanya persoalan jarak pandang, paparan asap juga menjadi perhatian karena dapat mengganggu kenyamanan masyarakat saat beraktivitas di luar rumah," katanya.
Masyarakat yang harus bepergian di tengah kondisi tersebut diimbau meningkatkan kewaspadaan. Pengendara sebaiknya mengurangi kecepatan, menjaga jarak dengan kendaraan di depan, serta menggunakan lampu kendaraan agar lebih mudah terlihat oleh pengguna jalan lainnya.
Pekatnya asap karhutla menjadi pengingat bahwa dampak kebakaran hutan dan lahan bukan hanya soal luas area yang terbakar, tetapi juga menyentuh keselamatan pengguna jalan, kesehatan masyarakat hingga aktivitas pariwisata di Pangkalan Bun.
Sebelumnya, Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, terus meluas. Hingga 18 Agustus 2026, tercatat 189 kejadian Karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 859,490 hektare.
Kondisi tersebut membuat Pemerintah Kabupaten Kobar mengambil langkah untuk memperpanjang status tanggap darurat bencana Karhutla. Status tanggap darurat yang sebelumnya berlaku akan diperpanjang mulai 21 Agustus hingga 4 September 2026.
"Perpanjangan dilakukan karena ancaman Karhutla dinilai masih tinggi. Cuaca panas ekstrem yang belum mereda membuat lahan dan vegetasi di sejumlah wilayah mudah terbakar, sementara penanganan di lapangan masih menghadapi berbagai kendala," ujar Bupati Kobar Nurhidayah saat meninjau Posko Induk Tanggap Darurat Bencana Karhutla di Kantor BPBD Kobar, Selasa (18/8/2026).
Simak Video "Video Situasi Karhutla Terkini: Titik Api di Kalimantan Naik, Sumatera Turun"
[Gambas:Video 20detik] (bai/bai)
Koleksi Pilihan
Kumpulan artikel pilihan oleh redaksi detikkalimantan

