Pemadaman listrik bergilir ternyata bukan hanya berdampak pada aktivitas rumah tangga dan usaha. Sistem pengaturan lalu lintas di sejumlah persimpangan Kota Palangka Raya juga ikut berada dalam risiko ketika pasokan listrik terputus.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan Kota Palangka Raya, Hadi Suwandoyo, mengakui sejumlah traffic light atau alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL) masih mengandalkan jaringan listrik sebagai sumber energi utama.
"Jelas terdampak, karena sumber energinya berasal dari listrik. Kalau listrik padam, lampu merah juga bisa ikut mati dan arus lalu lintas (lalin) terganggu,," ujar Hadi, Sabtu (15/8/2026).
Kondisi tersebut menjadi perhatian lantaran APILL memiliki peran penting dalam mengatur arus kendaraan, terutama di persimpangan yang ramai. Ketika perangkat tidak berfungsi, pengendara harus melintas tanpa bantuan lampu pengatur lalu lintas sehingga potensi kesemrawutan maupun kecelakaan dapat meningkat.
Menurut Hadi, belum seluruh APILL di Palangka Raya dilengkapi sumber energi cadangan. Sebagian sudah memanfaatkan tenaga surya, baik sebagai sumber utama maupun alternatif, tetapi penerapannya belum menyeluruh.
"Salah satunya traffic light di Jalan Galaksi yang merupakan aset Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dan menggunakan tenaga surya. Namun, sistem tersebut juga memiliki keterbatasan," kata dia.
Hadi menjelaskan, APILL bertenaga surya terkadang mengalami gangguan pada malam hari apabila energi yang tersimpan tidak mencukupi.
"Karena bergantung pada tenaga surya, terkadang pada malam hari bisa mati ketika sumber energinya berkurang atau habis," katanya.
Situasi itu menunjukkan bahwa persoalan keandalan APILL bukan hanya berkaitan dengan kerusakan perangkat. Ketersediaan energi dan sistem cadangan juga menjadi faktor penting agar lampu pengatur lalu lintas tetap bekerja ketika dibutuhkan.
Simak Video "Video: Bos PLN Hadap Prabowo, Lapor Listrik di Pulau Jawa Mulai Membaik"
(bai/bai)