Jauh sebelum wacana pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Kalimantan Timur, Presiden pertama RI, Soekarno sebetulnya dulu sempat merancangnya. Bapak proklamator Indonesia itu mulanya ingin memindahkan pusat pemerintahan ke Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
Bermula dari Soekarno yang merancang dari awal tata kota Palangka Raya, lalu diresmikan pada 1957 silam. Soekarno menjadi salah satu pendiri dan pencetus terbentuknya Kota Palangka Raya sebagai ibu kota provinsi baru yakni Kalimantan Tengah.
Provinsi tersebut memang sudah lama ingin melepaskan dan memisahkan diri dari Kalimantan Selatan. Dengan kondisi Kota Palangka Raya yang sangat luas, Soekarno merancang tata kota Palangka Raya mulai dari poros tiang pancang dan bundaran besar di depan Istana Gubernur.
Dalam arsip liputan detikcom, pakar tata kota dan penulis buku 'Sukarno & Desain Rencana Ibu Kota RI di Palangkaraya', Wijanarka, mengatakan secara konsep kota Palangka Raya dirancang sebagai kota baru dan modern dengan luas 20 kilometer (km) x 60 km, berbentuk seperti persegi panjang. Bentuk persegi panjang sendiri merupakan filosofi dari budaya dayak yang menyerupai Palangka, yakni tempat suci dalam budaya dayak.
"Jadi bentuk persegi panjang itu dalam budaya dayak, itu menyerupai Palangka Bulau, makanya itu dinamai Palangka Raya, artinya adalah tempat yang suci, dilengkapi Raya yang artinya besar," katanya saat ditemui detikcom di Palangka Raya, beberapa waktu silam.
Secara administrasi, luas wilayah kota Palangka Raya juga sangat besar, mencapai 2.400 km2. Jumlah ini empat kali lebih luas dibanding luas wilayah DKI Jakarta sebesar 661,52 km2.
Tugu Soekarno menjadi embrio atau awal pembangunan kota Palangka Raya. Wijanarka menjelaskan, alasan pembangunan pertama Kota Palangka Raya dengan pemancangan tiang sebab mengikuti kearifan lokal suku Dayak, yakni membangun rumah harus ditancapkan tiang terlebih dulu.
Selain itu, Soekarno juga menginginkan tiang tersebut menjadi analogi pembangunan yang modern, sesuai dengan konsep pembangunan kota di Washington DC dan negara-negara besar lainnya yang bergaya art deco.
"Maka tadi, berupa rumah-rumah bertiang, walaupun perkantorannya tidak bertiang, jadi konsepnya itu modern. Jadi ingin menunjukkan bahwa Palangka Raya waktu itu sudah modern dengan batu bata, tidak bertiang, ada gaya-gaya art deco (seperti tower-tower), nah informasinya itu juga usulan dari Bung Karno," terang Wijanarka.
"Jadi pada saat tahun 1959 pada saat Bung Karno datang lagi ke sini, itu Bung Karno melihat kantor-kantornya agak monoton. Makanya disarankan untuk menambahi ornamen-ornamen tiang art deco itu supaya tidak monoton. Bung Karno juga gemar dengan gaya-gaya art deco, Bung Karno juga gemar dengan konsep polivium (bundaran silang banyak), Bung Karno juga senang dengan konsep desain mal Washington DC. Jadi jalan Yos Sudarso itu seperti seolah-seolah mal Washington DC nya," sambungnya.
Keinginan Soekarno untuk menjadikan Palangka Raya sebagai suatu kota baru seperti Washington DC juga tampaknya disambut baik dengan keberadaan lahan basah (gambut dan danau) yang mengelilingi kota dan juga lahan kering, lokasi pembangunan.
Hingga akhir kepemimpinan Soekarno, bahkan setelah Indonesia beberapa kali berganti kepemimpinan, ibu kota Indonesia masih di Jakarta. Sejarawan LIPI, Asvi Arwan Adam mengatakan wacana pemindahan ibu kota pada era Soekarno tak kesampaian dikarenakan pada tahun 1960-an Indonesia ditawarkan menjadi tuan rumah Asian Games.
Itu adalah pertama kalinya Indonesia menyelenggarakan event olahraga berkelas internasional. Asvi mengatakan, wacana itu akhirnya berhenti karena pemerintah pada saat itu fokus pada DKI Jakarta sebagai lokasi penyelenggaraan Asian Games.
"Karena Bung Karno berfikir tidak mungkin diselenggarakan di kota baru, oleh sebab itu memutuskan di Jakarta, jadi dibangun stadion, Sarinah, hotel, dan patung selamat datang di HI," jelas dia.
"Jadi persiapan Asian Games dan kemudian adanya ganefo menyebabkan wacana pemindahan ibu kota itu terbengkalai," sambungnya.
Simak Video "Soekarno Cup 2026 Resmi Kick-Off di Surabaya!"
(aau/bai)