Menilik Jejak Sang Proklamator di Palangka Raya

Sejarah

Menilik Jejak Sang Proklamator di Palangka Raya

Anindyadevi Aurellia - detikKalimantan
Minggu, 16 Agu 2026 06:00 WIB
Proklamator dan Presiden RI pertama Ir Sukarno telah mewacanakan Kota Palangka Raya sebagai ibu kota negara sejak lama. Sukarno mendarat pertama kali di Kota Palangka Raya pada 1957, dan langsung menancapkan tiang pancang sebagai simbol awal pembangunan Palangka Raya.
Tugu Tiang Pancang Palangka Raya. Foto: Noval/detikcom
Palangka Raya -

Jauh sebelum wacana pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Kalimantan Timur, Presiden pertama RI, Soekarno sebetulnya dulu sempat merancangnya. Bapak proklamator Indonesia itu mulanya ingin memindahkan pusat pemerintahan ke Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Bermula dari Soekarno yang merancang dari awal tata kota Palangka Raya, lalu diresmikan pada 1957 silam. Soekarno menjadi salah satu pendiri dan pencetus terbentuknya Kota Palangka Raya sebagai ibu kota provinsi baru yakni Kalimantan Tengah.

Provinsi tersebut memang sudah lama ingin melepaskan dan memisahkan diri dari Kalimantan Selatan. Dengan kondisi Kota Palangka Raya yang sangat luas, Soekarno merancang tata kota Palangka Raya mulai dari poros tiang pancang dan bundaran besar di depan Istana Gubernur.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam arsip liputan detikcom, pakar tata kota dan penulis buku 'Sukarno & Desain Rencana Ibu Kota RI di Palangkaraya', Wijanarka, mengatakan secara konsep kota Palangka Raya dirancang sebagai kota baru dan modern dengan luas 20 kilometer (km) x 60 km, berbentuk seperti persegi panjang. Bentuk persegi panjang sendiri merupakan filosofi dari budaya dayak yang menyerupai Palangka, yakni tempat suci dalam budaya dayak.

"Jadi bentuk persegi panjang itu dalam budaya dayak, itu menyerupai Palangka Bulau, makanya itu dinamai Palangka Raya, artinya adalah tempat yang suci, dilengkapi Raya yang artinya besar," katanya saat ditemui detikcom di Palangka Raya, beberapa waktu silam.

Secara administrasi, luas wilayah kota Palangka Raya juga sangat besar, mencapai 2.400 km2. Jumlah ini empat kali lebih luas dibanding luas wilayah DKI Jakarta sebesar 661,52 km2.

Tugu Soekarno menjadi embrio atau awal pembangunan kota Palangka Raya. Wijanarka menjelaskan, alasan pembangunan pertama Kota Palangka Raya dengan pemancangan tiang sebab mengikuti kearifan lokal suku Dayak, yakni membangun rumah harus ditancapkan tiang terlebih dulu.

Selain itu, Soekarno juga menginginkan tiang tersebut menjadi analogi pembangunan yang modern, sesuai dengan konsep pembangunan kota di Washington DC dan negara-negara besar lainnya yang bergaya art deco.

"Maka tadi, berupa rumah-rumah bertiang, walaupun perkantorannya tidak bertiang, jadi konsepnya itu modern. Jadi ingin menunjukkan bahwa Palangka Raya waktu itu sudah modern dengan batu bata, tidak bertiang, ada gaya-gaya art deco (seperti tower-tower), nah informasinya itu juga usulan dari Bung Karno," terang Wijanarka.

"Jadi pada saat tahun 1959 pada saat Bung Karno datang lagi ke sini, itu Bung Karno melihat kantor-kantornya agak monoton. Makanya disarankan untuk menambahi ornamen-ornamen tiang art deco itu supaya tidak monoton. Bung Karno juga gemar dengan gaya-gaya art deco, Bung Karno juga gemar dengan konsep polivium (bundaran silang banyak), Bung Karno juga senang dengan konsep desain mal Washington DC. Jadi jalan Yos Sudarso itu seperti seolah-seolah mal Washington DC nya," sambungnya.

Keinginan Soekarno untuk menjadikan Palangka Raya sebagai suatu kota baru seperti Washington DC juga tampaknya disambut baik dengan keberadaan lahan basah (gambut dan danau) yang mengelilingi kota dan juga lahan kering, lokasi pembangunan.

Hingga akhir kepemimpinan Soekarno, bahkan setelah Indonesia beberapa kali berganti kepemimpinan, ibu kota Indonesia masih di Jakarta. Sejarawan LIPI, Asvi Arwan Adam mengatakan wacana pemindahan ibu kota pada era Soekarno tak kesampaian dikarenakan pada tahun 1960-an Indonesia ditawarkan menjadi tuan rumah Asian Games.

Itu adalah pertama kalinya Indonesia menyelenggarakan event olahraga berkelas internasional. Asvi mengatakan, wacana itu akhirnya berhenti karena pemerintah pada saat itu fokus pada DKI Jakarta sebagai lokasi penyelenggaraan Asian Games.

"Karena Bung Karno berfikir tidak mungkin diselenggarakan di kota baru, oleh sebab itu memutuskan di Jakarta, jadi dibangun stadion, Sarinah, hotel, dan patung selamat datang di HI," jelas dia.

"Jadi persiapan Asian Games dan kemudian adanya ganefo menyebabkan wacana pemindahan ibu kota itu terbengkalai," sambungnya.

Tugu Tiang Pancang Jadi Saksi Bisu

Pilar yang mengelilingi Tugu Soekarno di Palangka Raya.Pilar yang mengelilingi Tugu Soekarno di Palangka Raya. Foto: Dok. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palangka Raya

Meski begitu, ada beberapa jejak peninggalan Soekarno yang kemudian menjadi ikon kota Palangka Raya. Salah satunya Tugu Soekarno atau Tugu Tiang Pancang di Jalan S Parman, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Lokasinya berada di pusat Kota Palangka Raya.

Tanggal 17 Juli 1957, Soekarno menancapkan tiang sebagai simbol pembangunan pertama Palangka Raya sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah. Sebuah monumen kini berdiri kokoh di titik tempatnya menancapkan tiang.

Pada tanggal itu, Soekarno datang langsung ke Pahandut untuk meresmikan dimulainya pembangunan ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah. Pahandut adalah suatu desa di tepian Sungai Kahayan, jadi tempat cikal bakal berdirinya kota Palangka Raya.

"17 Juli 1957 Pemantjangan Tiang Pertama Kota Palangka Raya Ibu Kota Propinsi Kalimantan Tengah Oleh: P.M.J Presiden RI Dr. Ir. Soekarno," jelas tulisan yang tertera di monumen tersebut.

Sebagai penanda dimulainya pembangunan kota baru tersebut, didirikanlah sebuah monumen yang sekarang dikenal sebagai Tugu Soekarno. Karena menjadi lokasi peletakan titik awal pembangunan Palangka Raya, tugu ini sering juga disebut titik nol sejarah pembangunan ibu kota Kalimantan Tengah.

Pemasangan tiang pembangunan Palangka RayaPemasangan tiang pembangunan Palangka Raya Foto: Noval/detikcom

Jika melihat ke arah barat, monumen tersebut berjejer lurus dengan kantor DPRD Kalimantang Tengah, rumah jabatan gubernur, Istana Isen Mulang, dan Bundaran Besar yang menjadi simbol Palangka Raya. Ke arah timur, posisi monumen tersebut tepat berada di pinggiran Sungai Kahayan.

Di samping monumen tersebut berdiri kokoh patung Sukarno yang sedang menunjuk ke arah monumen. Patung tersebut diresmikan tahun 2016 oleh Menpora Imam Nahrawi dan Gubernur Kalimantan Tengah Sugianto Sabran.

Berjalan ke arah timur, terdapat sebuah dermaga yang menyajikan hamparan Sungai Kahayan dari dekat. Dari dermaga tersebut juga terlihat jembatan Kahayan yang menghubungkan Kota Palangka Raya dengan berbagai daerah di Kalimantan Tengah.

Karena nilai sejarah yang dimiliki Tugu Soekarno membuat Pemerintah Kota Palangka Raya menetapkannya sebagai cagar budaya pada tahun 2020.

Peninggalan Jalan Aspal 'Terkokoh' di Palangka Raya

Jalan Raya Tjilik Riwut membentang sepanjang 34 km dari Kota Palangkaraya-Tangkiling, Kalimantan Tengah. Jalan tersebut dibangun dengan melibatkan banyak insinyur dari Rusia.Jalan Raya Tjilik Riwut membentang sepanjang 34 km dari Kota Palangkaraya-Tangkiling, Kalimantan Tengah. Jalan tersebut dibangun dengan melibatkan banyak insinyur dari Rusia. Foto: Eduardo Simorangkir

Selain itu, Soekarno juga meninggalkan rancangan jalan beraspal yang paling mulus di Palangka Raya. Jalan raya sepanjang 34 km itu sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu, tapi hingga kini kondisinya masih apik. Jalan ini masih begitu mulus kondisi aspalnya.

Pada tahun 1962, Jalan Rusia atau kini dikenal dengan nama Jalan Tjilik Riwut, dibangun oleh banyak insinyur dari Rusia. Jalan ini dibangun di atas permukaan lahan gambut yang labil, membentang dari Kota Palangkaraya-Tangkiling, Kalimantan Tengah.

Di dalam masterplan pengembangan Kota Palangkaraya, konsep ibu kota baru Indonesia telah disusun. Pemerintah Provinsi juga telah mengalokasikan ratusan ribu hektar lahan secara khusus untuk pusat pemerintahan baru Indonesia.

Dalam arsip liputan detikcom beberapa tahun lalu, P Subagyo yang saat itu menjabat sebagai Direktur Bina Teknik Ditjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), menyebut keunggulan jalan ini terutama disokong dari baiknya perencanaan konstruksi jalan.

"Khusus untuk jalan itu, itu kan tanah gambut digali sepanjang area yang akan dijadikan jalan. Setelah digali baru ditimbun sirtu (pasir batu). Karena ditimbun, ada konsolidasi (penguatan) struktur tanah makanya struktur jalannya kuat," katanya.

Metode ini bisa diterapkan karena permukaan gambut di jalur yang membentang dari Palangka Raya hingga Tangkiling, Kalimantan Tengah tersebut tidak terlalu tebal. Teknik sipil yang diterapkan dalam pembangunan jalan ini dipandang sebagai yang paling efektif diterapkan untuk permukaan gambut hingga saat ini.

Namun bukan berarti permukaan gambut yang dalam tidak bisa diterapkan dengan pola yang sama. Sedalam apapun permukaan gambut masih bisa diterapkan dengan konstruksi yang diterapkan di jalan ini.

"Tapi harus perhitungkan masalah waktu dan biaya. Kalau terlalu dalam ada metode menggunakan pondasi pile (pondasi dengan tiang pancang). Secara biaya ini lebih murah. Karena kalau untuk mengeruk lahan gambut ke dalam 8 meter, waktunya akan sangat lama dan biayanya sangat besar," tuturnya.

Niatan tersebut sempat direalisasikan Soekarno dengan membangun jalan aspal pertama di Palangka Raya. Total panjangnya mencapai 174 kilometer (km), dirancang membentang hingga ke Kalimantan Utara-Malaysia.

Namun, jalan tersebut baru berjalan sampai 35 km lalu terpaksa dihentikan karena terjadi pergolakan politik di Jakarta yang berujung pada pergantian presiden. Jaringan jalan tersebut akhirnya hanya mampu menghubungkan Kota Palangka Raya dengan daerah Bukit Tangkiling menuju arah Sampit.

Pergantian pemerintahan dari Soekarno ke Soeharto membuat Rusia bergegas pergi meninggalkan Indonesia, meski jalan raya itu baru dibangun di kilometer ke-35. Segala yang berbau Rusia dihapus, penamaan jalan diubah menjadi nama pahlawan setempat.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Soekarno Cup 2026 Resmi Kick-Off di Surabaya!"
[Gambas:Video 20detik] (aau/bai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads