Karhutla di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) memasuki fase yang mengkhawatirkan. Pemkab Kobar menyiapkan opsi menaikkan status penanganan dari siaga menjadi tanggap darurat.
Langkah tersebut menjadi perhatian serius setelah data penanganan karhutla menunjukkan angka kebakaran terus meningkat di sejumlah wilayah. BPBD Kobar mencatat 120 titik panas (hotspot), 102 kejadian karhutla, serta total luas lahan terbakar mencapai 194,568 hektare. Data tersebut tersebar di enam kecamatan.
Kecamatan Arut Selatan tercatat sebagai wilayah dengan hotspot dan kejadian karhutla terbanyak. Di wilayah tersebut terdapat 46 hotspot dan 57 kejadian karhutla.
Sementara itu, Kecamatan Kumai menjadi wilayah dengan dampak kebakaran paling luas. Sepanjang Januari hingga 29 Juli 2026, luas lahan yang terbakar di Kecamatan Kumai mencapai 75,05 hektare.
Angka tersebut menunjukkan peningkatan dibandingkan data BPBD pada pertengahan Juli. Sebelumnya, BPBD Kobar mencatat 63 kejadian dengan luas lahan terbakar 113,51 hektare dan 85 hotspot sepanjang Januari hingga pertengahan Juli 2026.
Kondisi tersebut membuat Pemkab Kobar tidak ingin menunggu situasi semakin parah. Bupati Kotawaringin Barat Nurhidayah mengatakan pemerintah daerah tengah mempertimbangkan peningkatan status penanganan karhutla dari siaga menjadi tanggap darurat.
"Kalau ada kondisi-kondisi kedaruratan dan terjadi peningkatan, saat ini kita masih siaga. Mungkin nanti kita akan naikkan menjadi tanggap darurat," kata Nurhidayah, Sabtu (8/8/2026).
Menurutnya, sejumlah titik menjadi perhatian pemerintah daerah, termasuk kebakaran yang terjadi di wilayah Kecamatan Kumai. Kebakaran di kawasan tersebut bahkan masih menjadi bagian dari penanganan tim di lapangan.
"Karena ada beberapa titik yang menjadi atensi kita, termasuk tadi malam di daerah Kumai dan hingga hari ini masuk dalam penanganan," ujarnya.
Peningkatan status dinilai penting untuk memperkuat kesiapan pemerintah menghadapi potensi kebakaran yang semakin meluas. Terlebih, kondisi lapangan tidak selalu mudah.
BPBD Kobar sebelumnya menyebut petugas kerap menghadapi kendala berupa lokasi titik api yang jauh dari sumber air. Di sejumlah lokasi, personel bahkan harus berjalan kaki sambil membawa peralatan pemadam. Lahan gambut juga menjadi tantangan karena api dapat sulit dikendalikan dan kembali muncul.
Nurhidayah mengatakan kenaikan status menjadi tanggap darurat harus diikuti dengan kesiapan operasional. Mulai dari personel, peralatan hingga dukungan anggaran.
"Kalau sudah kita naikkan menjadi tanggap darurat tentunya ada operasional yang akan kita keluarkan," jelasnya.
Apalagi apabila titik kebakaran berada di kawasan yang sulit dijangkau. Pemerintah harus memastikan berbagai kebutuhan penanganan sudah tersedia.
Pemkab Kobar juga terus melakukan langkah pencegahan melalui edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat. Warga diminta tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran serta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kepulan asap.
Langkah tersebut dinilai penting karena ancaman karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lahan, tetapi juga berpotensi memunculkan kabut asap yang mengganggu kesehatan, aktivitas masyarakat hingga transportasi.
Di tingkat Provinsi Kalimantan Tengah, penanganan karhutla juga terus diperkuat melalui operasi darat dan udara. Berdasarkan data Pemprov Kalteng hingga 4 Agustus 2026, secara kumulatif tercatat 4.883 hotspot, 933 kejadian karhutla, dan 1.760,74 hektare luas lahan terbakar di seluruh Kalteng.
Pemprov Kalteng masih memberlakukan Status Siaga Darurat Karhutla hingga 31 Oktober 2026. Sementara dua daerah telah lebih dulu menetapkan status tanggap darurat, yakni Kota Palangka Raya dan Kabupaten Kotawaringin Timur.
Dengan kondisi karhutla yang terus berkembang, Pemkab Kobar kini memperkuat pemantauan dan koordinasi bersama tim di lapangan. Pemerintah tidak ingin penetapan status tanggap darurat baru dilakukan setelah kebakaran telanjur meluas.
"Jangan sampai ini terjadi, baru kita menetapkan status. Sebelumnya kita jaga," tegas Nurhidayah.
Jika kondisi terus meningkat dan memenuhi indikator yang ditetapkan, status penanganan karhutla di Kobar akan dinaikkan menjadi tanggap darurat untuk memperkuat respons terhadap ancaman kebakaran.
Simak Video "Video: BMKG Prediksi El Nino Berpuncak di Desember atau Januari 2027"
[Gambas:Video 20detik] (sun/des)
